CIO TRIN, Riska Afriani: Belajar Tak Konsumtif dengan Investasi

Sabtu, 06 Agustus 2022 | 04:35 WIB
CIO TRIN, Riska Afriani: Belajar Tak Konsumtif dengan Investasi
[]
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Chief Investment Officer PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN) Riska Afriani telah mengenal berinvestasi di pasar modal sejak usia belia. Saat menduduki bangku kuliah di umur 18 tahun, Riska berani berinvestasi di pasar saham menggunakan modal dari orangtua.

Riska mengenang, kala itu dibekali modal Rp 5 juta dari orangtua. Tanpa pengalaman dan strategi yang mumpuni, investasi Riska tak membuahkan hasil tapi justru boncos. Nilai investasinya justru ambles hingga 50%. Ini karena Riska belum mengerti saham mana yang layak dibeli. 

Ia juga tidak tahu kapan momentum yang tepat, dan lebih ke ikut-ikutan alias fear of missing out (FOMO). "Dari kerugian tersebut, saya mencari penyebab kenapa bisa rugi? Saya juga mulai belajar fundamental perusahaan dan rasio-rasio apa yang mesti dicermati ketika investasi," kata Riska.

Baca Juga: CEO STAR AM, Reita Farianti: Kini Lebih Fokus Melindungi Nilai

Setelah belajar, Riska lebih matang dengan mengoleksi saham secara cermat, sembari menyesuaikan profil risikonya sebagai mahasiswi yang saat itu berumur 19 tahun. Dia pun semakin disiplin dan sadar dengan tujuannya berinvestasi. 

Investasi dinilai ampuh untuk membentengi diri dari pengeluaran yang tak perlu, sekaligus mengamankan tujuan finansial yang ingin dicapai pada masa depan. Bagi Riska, penting menentukan target jangka pendek maupun panjang.

Di sisi lain, investasi juga penting untuk menjaga nilai uang agar tak tergerus inflasi. "Kalau fokusnya mengikuti lifestyle saja, bisa nggak kemana-mana. Akhirnya malah banyak pengeluaran ke hal-hal nggak penting, lalu kita enggak punya apa-apa," tegas Riska.

Sebagai sosok yang aktif berkecimpung di dunia pasar modal, Riska pun membagikan strategi berselancar di pasar saham. Pertama, momentum. Ini menjadi faktor krusial, kapan harus masuk atau keluar pada suatu saham maupun instrumen investasi lainnya.

Strategi yang bisa dilirik adalah top-down approach. Bagaimana mencermati kondisi global, dalam negeri, sektoral, hingga imbasnya ke emiten. Contohnya saham emiten komoditas dan energi terbang, terdongkrak sentimen geopolitik Rusia-Ukraina. "Tapi ingat, itu relatif cyclicals, punya siklus tertentu. Karena itu, momentum penting untuk tahu kapan bisa masuk dan keluar," kata Riska.

Baca Juga: Direktur Keuangan BEBS Pio Wehantouw Telaten Berinvestasi Properti hingga Bisnis F&B

Beli saat koreksi

Kedua, cermat mencegah kerugian dengan cut loss, lalu menginvestasikan kembali ke saham prospektif yang sedang ada di harga bawah. Dalam hal ini, Riska mengingatkan saat bursa saham anjlok di awal masa pandemi tahun 2020 lalu.

Di sini, penting memahami profil risiko masing-masing investor. Bagi Riska, jika sudah melorot 10%, saatnya untuk melepas. Setelah cut loss, Riska memburu saham-saham potensial di harga murah.

Nah, saat awal pandemi, saham-saham bluechips banyak yang merosot hingga 50%. "Di situlah saatnya mengakumulasi ke saham yang akan jadi penggerak indeks seperti perbankan. Waktunya buy on weakness," terang Riska.

Tapi perlu dicatat, strategi ini akan berhasil jika sudah menguasai ilmu dasar seperti memahami fundamental atau indikator teknikal dalam menilai saham. "Kita bisa melihat momentum itu ada, ya, ketika kita sudah menguasai ilmunya," imbuh Riska.

Meski andal di dunia pasar modal, namun saham tidak menempati porsi terbesar portofolio investasi Riska. Sebagai estimasi, kue portofolio Riska diantaranya sebagai berikut, saham hanya berkisar 30%, 65% portofolio Riska berada di aset properti. Lalu 5% sisanya diisi instrumen lainnya, terutama emas.

Adapun kriteria investasi properti yang digemari Riska berlokasi di daerah yang sedang bertumbuh. Jenis aset properti bisa high rise, rumah dan tanah. Dari properti, Riska juga mendulang pendapatan berulang dari sewa.

Baca Juga: Dirut Clipan Finance, Harjanto Tjitohardjojo: Disiplin Berinvestasi di Aset Aman

Riska melihat prospek properti masih gemilang. "Saya percaya sektor ini tidak ada matinya," kata dia. Sebab menurut dia, properti adalah bagian dari kebutuhan dasar dan harus dipikirkan dalam perencanaan masa depan generasi muda. 

Riska berharap generasi muda sudah menyiapkan dana untuk properti. "Jangan habis untuk konsumtif," saran Riska.       

Menilai Investasi Otak Sangat Penting

Bagi Riska Afriani, investasi tak melulu soal materi. Dia yang kini menjabat sebagai Chief Investment Officer Perintis Triniti Properti menjadikan pendidikan sebagai aset penting yang melekat di dalam diri.

Riska memang gemar belajar. Dia bahkan telah menyelesaikan kuliah di jenjang sarjana pada usia 22 tahun. Kala itu dia berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti. Riska kemudian melanjutkan S2 di kampus yang sama. Dua tahun berselang, ia meraih gelar Master Ekonomi pada tahun 2017. 

Tak lelah belajar, Riska pun meneruskan pendidikan S3 di Trisakti. Kini, wanita kelahiran Jakarta, 22 April 1993 ini sedang mengejar gelar doktor pada usia yang masih di bawah 30 tahun. "Bagi saya investasi tidak hanya investasi yang terlihat. Tapi investasi pendidikan yang melekat dalam diri kita juga sangat penting. Targetnya sebelum 30 tahun insya Allah sudah doktor," harap Riska.

Di tengah kesibukan menyusun disertasi dan aktivitas profesionalnya, Riska suka meluangkan waktu untuk bermain golf. Bukan gaya-gayaan, bagi Riska, golf punya makna tersendiri. Maklum selama ini, olahraga golf memang lebih dikenal sebagai olahraga mahal. 

Baca Juga: Managing Director Delimajaya, Winston Wiyanta: Investor Konservatif yang Adaptif

Tapi menurut Riska, golf tidak sekedar gaya-gayaan, tapi juga bisa melatih konsentrasi dan mengendalikan emosi. "Golf tidak bisa asal pukul. Kalian harus tenang, fokus agar tepat sasaran yang dituju. Itu penting buat dilatih," kata Riska. Apalagi bermain golf ini juga bisa mengembangkan jaringan.                              

Bagikan

Berita Terbaru

DBS Research Group: Perekonomian Indonesia Masih Resilien di Bawah Pelemahan Rupiah
| Kamis, 14 Mei 2026 | 06:10 WIB

DBS Research Group: Perekonomian Indonesia Masih Resilien di Bawah Pelemahan Rupiah

Sektor pertambangan dan energi, perusahaan tambang hulu dinilai akan diuntungkan di tengah harga komoditas yang lebih tinggi.

Pemulihan EXCL dari Beban Merger Terus Berjalan Hingga Akhir Tahun
| Kamis, 14 Mei 2026 | 05:37 WIB

Pemulihan EXCL dari Beban Merger Terus Berjalan Hingga Akhir Tahun

Salah satu faktor kunci adalah kemampuan EXCL melakukan efisiensi jaringan dan mengurangi biaya yang tumpang tindih pasca merger.

Akuisisi MAPI Tunjukkan Daya Tarik Consumer Lifestyle Indonesia
| Rabu, 13 Mei 2026 | 11:00 WIB

Akuisisi MAPI Tunjukkan Daya Tarik Consumer Lifestyle Indonesia

Valuasi MAPI masih menarik, saat ini diperdagangkan pada price earnings ratio (PER) sekitar 9,88 kali dan price to book value (PBV) 1,69 kali.

Pertumbuhan Indeks Keyakinan Konsumen Belum Mendongkrak Prospek Emiten
| Rabu, 13 Mei 2026 | 10:19 WIB

Pertumbuhan Indeks Keyakinan Konsumen Belum Mendongkrak Prospek Emiten

Kenaikan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) per April 2026 belum menjadi katalis positif emiten konsumer.

Rama Indonesia Resmi Jadi Pengendali Saham Dua Putra Utama Makmur (DPUM)
| Rabu, 13 Mei 2026 | 10:11 WIB

Rama Indonesia Resmi Jadi Pengendali Saham Dua Putra Utama Makmur (DPUM)

PT Rama Indonesia telah menyelesaikan transaksi pengambilalihan saham mayoritas PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM). 

Medela Potentia (MDLA) Sebar Dividen Rp 176,56 Miliar
| Rabu, 13 Mei 2026 | 10:07 WIB

Medela Potentia (MDLA) Sebar Dividen Rp 176,56 Miliar

Besaran nilai dividen tersebut mencerminkan peningkatan rasio pembayaran dividen menjadi 45% dari laba bersih emiten farmasi itu di tahun 2025.

Agar Kinerja Bisa Lebih Seksi, Telkom (TLKM) Menggenjot Efisiensi
| Rabu, 13 Mei 2026 | 10:01 WIB

Agar Kinerja Bisa Lebih Seksi, Telkom (TLKM) Menggenjot Efisiensi

Saat ini, TLKM sedang melakukan streamlining alias perampingan sebagai strategi penataan portofolio non-core. ​

MIKA Masih Tangguh di Tengah Pelemahan Rupiah, Ini Penopangnya
| Rabu, 13 Mei 2026 | 09:00 WIB

MIKA Masih Tangguh di Tengah Pelemahan Rupiah, Ini Penopangnya

MIKA dinilai memiliki kemampuan cost pass-through yang cukup baik, khususnya pada segmen non-BPJS dan layanan premium.

Ruang BI Rate untuk Naik, Kian Terbuka
| Rabu, 13 Mei 2026 | 08:31 WIB

Ruang BI Rate untuk Naik, Kian Terbuka

Bank Indonesia diuji berat! Pelemahan rupiah 4,5% dan minyak US$100+ picu spekulasi kenaikan suku bunga hingga 50 bps.

RATU Perluas Portofolio Gas, Intip Potensi dan Risikonya
| Rabu, 13 Mei 2026 | 08:30 WIB

RATU Perluas Portofolio Gas, Intip Potensi dan Risikonya

Akuisisi tersebut berpotensi mendorong pertumbuhan pendapatan dan EBITDA RATU secara bertahap mulai tahun ini.

INDEKS BERITA