Berita Interview

Managing Director Delimajaya, Winston Wiyanta: Investor Konservatif yang Adaptif

Sabtu, 19 Maret 2022 | 04:25 WIB
Managing Director Delimajaya, Winston Wiyanta: Investor Konservatif yang Adaptif

Reporter: Kenia Intan | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gaya investasi Managing Director Delimajaya Group Winston Wiyanta, cenderung konservatif. Generasi kedua penerus perusahaan karoseri ini, tidak ingin instrumen investasi yang dimilikinya menganggu investasi utamanya, yakni perusahaan sendiri.

Alhasil, Winston memilih mengucurkan dana investasi pada portofolio yang rendah risiko dan stabil. Winston bercerita, dirinya mulai menjajal produk bank seperti deposito dan forex, di tahun 2009 atau setahun setelah dirinya mulai memimpin Delimajaya, meneruskan kepemimpinan ayahnya.

Baru pada tahun 2018, Winston melirik investasi properti yang dilanjutkan dengan produk asuransi di 2019. Belum lama ini, Winston tertarik pada portofolio saham dan aset kripto, terhitung sejak tahun 2020 dan 2021.

Baca Juga: CEO PT Multipolar Tbk Adrian Suherman: Mengubah Portofolio Seiring Bertambahnya Usia

Hingga saat ini, kue portofolio investasi Winston meliputi 60% investasi di perusahaannya, 15% berwujud deposito dan forex, 10% pada properti, 5% di asuransi. Pada kripto dan saham, masing-masing 5%. "Yang 40% itu jangan ada yang membuat rugi, minimal stabil," ujar dia.

Porsi investasi itu mempertimbangkan risiko masing-masing produk. Gaya investasi Winston yang konservatif, membuatnya mengalokasikan dana lebih kecil di produk yang berisiko tinggi.

Saat pandemi Covid-19, Winston menjadi lebih berhati-hati mengelola portofolio. Beberapa kesempatan untuk menambah investasi memang dimanfaatkan, akan tetapi penambahan tidak besar. Ia lebih fokus mengelola dana supaya perusahaan sebagai investasi utamanya terus bertahan.

"Alokasi dana diperlukan untuk menjaga supaya tetap solid dan bisa survive keluar dari pandemi," ujar Winston. Kondisi perusahaan semakin membaik seiring dengan kondisi Covid-19 yang kian pulih.

Perbaikan sudah mulai terasa di 2021 dan akan berlanjut di tahun 2022. Menurut Winston, kinerja yang cerah di tahun ini bukan hal yang mustahil, apalagi mulai ada peralihan dari pandemi menjadi endemi yang diiringi berbagai kebijakan pelonggaran mobilitas masyarakat.

Baca Juga: Harga Kekayaan Pendiri SoftBank Masayoshi Son Menysyt US$ 25 Miliar

Sambil terus mengembangkan perusahaan, Winston berupaya menekan risiko instrumen investasi lain. Hal ini dia lakukan dengan masuk pada produk yang mature sehingga lebih aman. Misalnya deposito di bank-bank besar yang lebih kuat dan tidak rawan kolaps.

Hal sama juga dilakukannya dalam berinvestasi di forex. Winston juga memegang mata uang asing yang kuat. Langkah konservatif Winston dalam berinvestasi memang kurang menarik dari sisi return. Hanya saja menurutnya, strategi ini yang paling sesuai dengan dirinya.

Menurut dia, tujuan berinvestasi tak semata mengejar return. Tapi bertujuan menjaga aset agar tidak menyusut termakan inflasi.  Ia berupaya sebisa mungkin agar investasi lainnya tidak mengganggu bisnis utama.

Hal itu menjadi salah satu prinsip yang dipegang Winston dalam mengelola portofolio. Investasi disesuaikan kemampuan, tujuan, dan jangka waktu yang diinginkan setiap investor. Baginya, langkah yang konservatif dengan return rendah namun stabil, menjadi  strategi paling paas dengan dirinya.

Kendati lebih sesuai dengan investasi konservatif, Winston mengaku mulai melirik instrumen berisiko seperti kripto dan saham sejak tahun 2020 dan 2021. Pergerakan aset kripto yang fluktuatif membuat dia memilih menaruh dana yang minim untuk instrumen ini.

Baca Juga: Kinerja Kece, Dana Kelolaan Reksadana Campuran Naik

Winston berupaya menekan risiko dengan memilih produk yang kuat. Misalnya saja, saat membeli saham pun lebih ke saham bluechips. Begitu pula pilihan aset kripto, ia memilih koin dengan fundamental kuat.

Winston tertarik masuk ke aset kripto karena perkembangan ekosistem kripto. Ia melihat ekosistem ini berpotensi terus berkembang ke depannya. Oleh karena itu, dia tidak mau ketinggalan dan berusaha mempelajari.

Winston memperluas pengetahuannya dengan rajin membaca artikel terkait, mengikuti berita seputar kripto, juga mencari strategi investasi berinvestasi kripto melalui tayangan YouTube. Ia juga tidak sungkan bertanya dan berdiskusi mendalami soal ini. 
Sebab, minimnya pengetahuan akan membawa kerugian. Seperti saat awal menjajal investasi di aset kripto,  walaupun akhirnya kerugian itu mampu ditambal.                         

Baca Juga: Lima Tahun Pertama, Cuma 15% Duit Nasabah Unitlink Masuk Portofolio Investasi

Gemar Berkuda Hingga Ikut Kompetisi

Disela-sela pekerjaannya, Winston Wiyanta gemar berolahraga. Salah satu kegiatan olahraga favoritnya adalah berkuda. Hobi ini telah ditekuni sejak tahun 2012 dan bermula dari coba-coba saja.

"Awalnya melihat di televisi sepertinya menarik. Kebetulan ada stable yang dekat dengan tempat saya, di Bogor," cerita Winston. Akhirnya, ia memutuskan mengambil paket promo untuk delapan kali pertemuan latihan pada waktu itu.

Seperti dugaannya, olahraga ini memang menarik. Hal tersebut karena sang penunggang kuda dan kuda tunggangannya harus dapat berinteraksi dengan baik. Untuk menemukan chemistry antara penunggang dan kuda, bukan merupakan hal mudah.

Winston merasakan hal itu sebagai sebuah tantangan. Postur tubuh, struktur otot, tinggi badan, berat badan penunggang akan berpengaruh dalam menciptakan chemistry tersebut. Begitu pula dengan karakteristik dan mood kudanya.

"Apa yang kita gerakan pada tubuh saat duduk di atas kuda itu akan dirasakan juga oleh kudanya. Jadi interaksi menjadi penting sekali," jelas Winston. Dus, apabila ingin lebih berkembang dalam olahraga ini, memang perlu terlebih dahulu menemukan kecocokan dengan kudanya. Tidak bisa asal main, inilah yang menjadi menarik di mata Winston.

Baca Juga: IHSG Masih Akan Terkerek di Bulan Maret, Bisa Tembus 7.000

Walau bermula dari coba-coba, Winston sempat mengikuti kurang lebih lima kali kompetisi antar klub. Ia pun sempat menang sebanyak dua kali di sekitar tahun 2015-2016.                         


Baca juga