Cuan Pakuwon Jati (PWON) Kembali Mengalir Usai Mal Kembali Ramai

Selasa, 12 Juli 2022 | 05:05 WIB
Cuan Pakuwon Jati (PWON) Kembali Mengalir Usai Mal Kembali Ramai
[]
Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bisnis PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) diyakini semakin membaik pada tahun ini. Selain mampu mencapai target marketing sales, emiten properti asal Surabaya ini juga akan diuntungkan membaiknya recurring income pada tahun ini.

Analis Henan Putihrai Sekuritas Jono Syafei menyebut, secara bisnis, PWON sudah mulai mencatatkan perbaikan. Oleh karena itu, ia meyakini target marketing sales pada tahun ini, yang mencapai 
Rp 1,8 triliun, akan dapat tercapai dengan mudah.

Menurut Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto, proyek superblok di Bekasi akan menjadi salah satu produk andalan PWON. Apalagi, pembangunan LRT semakin maju. Ini akan mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah yang dikembangkan. Dia juga percaya target marketing sales Rp 1,8 triliun dapat tercapai. 

Baca Juga: Pakuwon Jati (PWON) Optimistis Meraih Target Marketing Sales Tahun Ini

Menurut Jono, target bisa tercapai karena emiten properti masih ditopang insentif PPn, yang baru akan berakhir pada September tahun ini. Selain itu ada relaksasi LTV hingga tren suku bunga yang saat ini masih rendah. 

"Selain membaiknya penjualan rumah tapak, PWON juga telah mulai menjual kondominium di proyek terbarunya, Bekasi Superblock, yang juga akan mendorong marketing sales mereka pada tahun ini," ujar Jono, Senin (11/7).

Analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano mengungkapkan, pada kuartal III-2022 perolehan marketing sales PWON bakal lebih besar. Pendorongnya, PWON akan lebih banyak meluncurkan produk baru. "Kami melihat akan ada pertumbuhan marketing sales di kuartal III-2022, karena efek low base pada kuartal III-2021, seiring penyebaran varian delta kala itu," tulis Victor dalam riset per 8 Juli.

Menurut Victor, PWON antara lain akan meluncurkan hunian high-rise di Pakuwon Bekasi. Lokasi proyek ini berdekatan dengan stasiun LRT, sehingga akan membuat hunian ini menjadi incaran konsumen. Apalagi tower pertamanya juga sudah laku 70%-80% dari keseluruhan. 

Walaupun ke depan akan ada tren kenaikan suku bunga BI 7­-day-RR, Victor meyakini, dampaknya ke emiten properti akan minim. Pasalnya, likuiditas di perbankan masih melimpah, sehingga perbankan akan lebih mudah mencairkan KPR di tahun ini.

Baca Juga: Pakuwon Jati (PWON) Realisasikan Capex Rp 165 Miliar, Ini Alokasinya

Pendapatan berulang

Tak hanya bisnis hunian, Jono melihat, kinerja PWON pada tahun ini juga akan ditopang recurring income, terutama pada segmen mal dan hotel. Ia meyakini, lini bisnis ini akan terus meningkat, sejalan dengan trafik kunjungan ke pusat perbelanjaan dan hotel yang pulih. 

Apalagi, pada kuartal I-2022 tingkat rata-rata okupansi mal dan hotel sudah meningkat dari kuartal IV-2022. Padahal, di Februari 2022, sempat terjadi lonjakan kasus Covid-19 varian omicron.
Pandhu menyebut, segmen recurring income PWON bisa tumbuh lebih positif dibandingkan segmen hunian. Apalagi, tingkat okupansi saat ini juga sudah semakin mendekati level pandemi, dan sekarang sedang tahap transisi menuju endemi. 

Saat ini mobilitas masyarakat semakin tinggi. "Segmen mal tingkat okupansinya sudah mencapai 90% dan hampir pulih ke level sebelum pandemi," ujar Pandhu. 

Baca Juga: Bisnis Mall Moncer, Begini Strategi Pakuwon Jati (PWON) pada Tahun Ini

Kontribusi recurring income kuartal I-2022 sudah mencapai 64% dari total pendapatan, dibandingkan kontribusi tahun lalu sekitar 54%.  Dengan lebih fokus pada mal dan hotel, Pandhu melihat operasional PWON akan lebih stabil dibandingkan emiten properti lain. "Pada akhirnya, PWON juga tidak terlalu terpengaruh dengan siklus ekonomi seperti tingkat suku bunga dan inflasi," ujar Pandhu. 

Pandhu juga menilai kenaikan suku bunga yang sudah di depan mata tidak akan banyak mempengaruhi kinerja. Ini sejalan dengan makin besarnya kontribusi recurring income. Alhasil, pengaruh kenaikan suku bunga terhadap kinerja PWON tidak akan seberat emiten properti lain.

Walaupun proyeksi operasional akan membaik, Pandhu melihat kinerja PWON akan mendapat tantangan kenaikan harga bahan bangunan seiring kenaikan inflasi dan kenaikan harga komoditas. Harga semen misalnya, sudah mulai naik seiring naiknya harga komoditas energi. 

Baca Juga: Pakuwon Jati (PWON) Membukukan Kinerja Positif Sepanjang 2021.

Tapi Jono punya pendapat berbeda soal ini. "Seharusnya,  kenaikan harga bahan bangunan tidak berdampak signifikan untuk PWON. Karena biasanya dalam proses konstruksi, perjanjian dengan kontraktor sudah memperhitungkan kenaikan harga bahan bangunan," jelas dia.

Victor juga percaya jika risiko kenaikan biaya konstruksi tidak akan memberi dampak ke PWON. Faktor ini sudah diantisipasi dengan membebankan kepada pembeli melalui kenaikan harga jual rata-rata secara perlahan.

Hanya saja, Jono menilai PWON tidak akan seterusnya lepas dari pengaruh kenaikan suku bunga acuan di dalam negeri. Tahun depan, kenaikan BI 7-day-RR berpotensi berdampak pada kinerja keuangan PWON. 

Alasannya, mayoritas pembeli masih menggunakan KPR untuk membeli properti. Tambah lagi, insentif properti tidak lagi berlanjut. Karena itu, tahun depan, Jono memperkirakan marketing sales PWON akan cenderung flat.

Pada tahun ini, Victor memprediksi, pendapatan PWON bisa mencapai Rp 6,19 triliun dengan laba bersih mencapai Rp 1,72 triliun. Dia tetap mempertahankan rekomendasi beli PWON dengan target harga Rp 610 per saham. 

Baca Juga: Laba Bersih Pakuwon Jati (PWON) Tumbuh 56,57% di Kuartal I-2022

Jono juga merekomendasikan beli saham PWON dengan target harga Rp 600 per saham. Sementara Pandhu merekomendasikan hold dengan target harga sebesar Rp 510 per saham. 

Jono menilai PWON memiliki keunggulan sebagai pengembang superblock di Jakarta dan Surabaya. Emiten ini juga memiliki arus kas dari pendapatan berulang yang kuat. "Bisnis mal PWON memiliki net leasable area terbesar di Indonesia hingga 770 m2," ujar Jono. Pada perdagangan Senin (11/7) harga saham PWON ditutup stagnan di Rp 452 per saham.    

Bagikan

Berita Terbaru

Indikator RSI dan MACD Melemah, Tren Bullish CITA Masih Terjaga?
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 11:00 WIB

Indikator RSI dan MACD Melemah, Tren Bullish CITA Masih Terjaga?

Pergerakan saham PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) pada perdagangan hari ini menunjukkan tekanan jangka pendek di tengah dinamika pasar.

Dian Swastatika Sentosa (DSSA) Akan Stock Split Saham di Rasio 1:25
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 08:33 WIB

Dian Swastatika Sentosa (DSSA) Akan Stock Split Saham di Rasio 1:25

Untuk stock split, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)  akan meminta persetujuan dari para pemegang saham melalui RUPSLB pada 11 Maret 2026.​

Rogoh Kocek Rp 200 Miliar, RMK Energy (RMKE) Siap Buyback Saham
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 08:28 WIB

Rogoh Kocek Rp 200 Miliar, RMK Energy (RMKE) Siap Buyback Saham

PT RMK Energy Tbk (RMKE) mengumumkan rencana untuk pembelian kembali (buyback) saham sebesar Rp 200 miliar. 

Menutup Celah yang Sering Dianggap Sepele dengan Asuransi Perjalanan
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 08:00 WIB

Menutup Celah yang Sering Dianggap Sepele dengan Asuransi Perjalanan

Membeli asuransi perjalanan saat ke luar negeri jadi hal biasa. Tapi, apakah tetap butuh asuransi buat perjalanan di dalam negeri?

Pasar Saham Semakin Suram
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:51 WIB

Pasar Saham Semakin Suram

Tekanan yang dialami pasar saham Indonesia semakin besar setelah para petinggi OJK dan bos bursa mengundurkan diri.

Diversifikasi IFSH: Ini Rencana Bisnis Baru Saat Nikel Global Tertekan
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:30 WIB

Diversifikasi IFSH: Ini Rencana Bisnis Baru Saat Nikel Global Tertekan

Harga nikel global terus anjlok, manajemen IFSH beberkan cara jaga profit. Temukan langkah konkret IFSH untuk amankan laba di 2026

Harga Bitcoin Anjlok: Strategi DCA Bisa Selamatkan Investor Kripto?
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:30 WIB

Harga Bitcoin Anjlok: Strategi DCA Bisa Selamatkan Investor Kripto?

Bitcoin anjlok 7% dalam sepekan, memicu likuidasi besar-besaran. Investor wajib tahu penyebabnya dan langkah mitigasi. 

Masih Rapuh
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:10 WIB

Masih Rapuh

Pengaturan ulang kembali bursa dengan standar dan tata kelola yang lebih jelas menjadi kunci penting.

Pembekuan MSCI, Ujian Transparansi Bursa
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:05 WIB

Pembekuan MSCI, Ujian Transparansi Bursa

Dalam indeks global, free float adalah inti dari konsep bisa dibeli yang menjadi pakem para investor kebanyakan.​

Strategi Investasi Aman Ala Direktur Sucorinvest, Jauh dari Volatilitas.
| Sabtu, 31 Januari 2026 | 06:15 WIB

Strategi Investasi Aman Ala Direktur Sucorinvest, Jauh dari Volatilitas.

Membeli saham big caps ternyata belum tentu untung. Direktur Sucorinvest Hermansyah bagikan strategi yang buat hidupnya tenang

INDEKS BERITA

Terpopuler