Danantara dan INA Masuk ke Proyek TPIA, Bagaimana Imbas ke Sahamnya?

Selasa, 03 Maret 2026 | 21:55 WIB
Danantara dan INA Masuk ke Proyek TPIA, Bagaimana Imbas ke Sahamnya?
[ILUSTRASI. Chandra Asri Pacific (TPIA) (TPIA/Pabrik Chandra Asri Pacific (TPIA))]
Reporter: Andy Dwijayanto | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan Danantara Indonesia serta Indonesia Investment Authority (INA) menandatangani conditional share subscription agreement (CSAA) untuk pengembangan pabrik Chlor Alkali-Ethylene Dichloride (CA-EDC).  Proyek ini akan menyedot dana investasi US$ 800 juta dan masuk ke dalam Proyek Strategis Nasional (PSN).

Danantara dan INA akan menanamkan modal sebesar US$ 200 juta untuk pembangunan fasilitas milik TPIA tersebut. Harapannya proyek ini akan mulai beroperasi pada tahun depan dengan kapasitas awal 400.000 ton Caustic Soda Kering dan 500.000 ton EDC per tahunnya.

Fasilitas ini bertujuan mengurangi ketergantungan impor bahan baku kimia krusial serta memperkuat agenda hilirisasi industri nasional. Caustic Soda ini akan mampu menopang kebutuhan berbagai industri mulai dari sabun dan deterjen, pemurnian alumina, pulp dan kertas sedangkan EDC sangat diperlukan untuk industri konstruksi dan pengemasan.

Erwin Ciputra, Presiden Direktur dan CEO TPIA menyampaikan masuknya Danantara dan INA sebagai bentuk kepercayaan terhadap kapabilitas perusahaan. Tidak hanya mengurangi ketergantungan impor, pabrik ini juga akan membuka 3.000 lapangan kerja saat konstruksi dan 250 tenaga kerja saat operasional.

Baca Juga: Rajin Ekspansi, Chandra Asri (TPIA) Bidik Total Kapasitas Produksi Tembus 21 Juta Ton

Masuknya Danantara-INA ke dalam proyek CA-EDC milik TPIA akan menjadi katalis positif bagi perusahaan. Muhammad Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas menilai dukungan dua institusi ini bukan hanya sebatas suntikan modal tetapi juga simbol kepercayaan jangka panjang terhadap perusahaan.

Hal ini juga membuat persepsi positif terhadap profil utang TPIA yang saat ini masih berada pada level investment grade di level BBB dan dinilai relatif cukup solid. Jadi, masuknya Danantara-INA bisa menjadi sinyal baik untuk menjaga stabilitas persepsi investor institusi global terhadap perusahaan.

Dari sisi bisnis, TPIA memang tengah berada dalam mode ekspansif mulai dari perannya dalam menyediakan bahan baku untuk hilirisasi industri nasional khususnya permurnian alumina maupun bauksit. Termasuk juga olefin, poliolefin, styrene monomer, butadiene, dan jenis petrokimia lainnya.

Proyek CA-EDC yang dikembangkan saat ini menjadi bagian yang penting dalam mendukung industri hilirisasi. Dengan penguatan di sektor hulu, antara dan hilir, TPIA menurut Nafan bisa berkontribusi pada pengurangan ketergantungan impor bahan baku, sekaligus kebutuhan hilirisasi dan subtisusi impor.

Masuknya Danantara dan INA juga akan memperkuat likuditas perusahaan sehingga ruang ekspansi menjadi lebih lega. Poryek CA-EDC akan mampu mengurangi ketergantungan bahan baku impor dan membantu efisiensi biaya industri domestik. Dalam jangka panjang, juga berpotensi memberikan penghematan devisa bagi negara dan tentu saja menjaga stabilitas margin keuntungan perusahaan.

Baca Juga: Progres Pabrik Terbaru Chandra Asri (TPIA) Sudah 50%

Segmen petrokimia berbasis CA-EDC cenderung memiliki margin yang lebih stabil dibandingkan plastik atau poliolefin yang sensitif terhadap siklus harga dan kebijakan seperti cukai plastik. Nah, dengan struktur bisnis yang luas, EBITDA TPIA berpotensi terdorong lebih konsisten dalam jangka panjang.

Rekomendasi saham

Nafan menyampaikan bahwa meningkatnya gejolak dinamika geopolitk di Timur Tengah yang berakibat terhadap lonjakan harga minyak dunia juga berpengaruh terhadap TPIA. Eskalasi harga energi berpotensi mempengaruhi struktur biaya bahan baku industri petrokimia sehingga bisa berdampak pada margin keuntungan dalam jangka pendek.

Ia merekomendasikan wait and see untuk saham TPIA sembari menunggu stabilisasi harga minyak dan kepastian kapan konflik di Timur Tengah mereda. Investor diminta berhati-hati untuk menilai perkembangan sentimen eksternal sebelum entry, mengingat volatilitas harga energi saat ini masih tinggi dan dapat mempengaruhi kinerja saham TPIA dalam jangka pendek.

Senada, Cindy Alicia Ramadhania, Research Analyst Sinarmas Sekuritas menyebut saat ini saham TPIA masih berada dalam tren bearish. Pada perdagangan hari ini, saham TPIA ditutup melemah 2,51% ke level 5.825 yang merupakan level harian terendahnya. Jika melihat indikator teknikalnya juga didominasi pola downtrend.

 

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Tantangan Baru PLN di Tengah Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik
| Rabu, 22 Juli 2026 | 03:14 WIB

Tantangan Baru PLN di Tengah Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik

Pemerintah mesti memastikan bahwa pembelian listrik dari proyek PSEL tidak menambah tekanan terhadap keuangan PLN.

Saham ASII Melawan Arus; Saat Investor Asing Getol Jualan, Harganya Malah Mendaki
| Selasa, 21 Juli 2026 | 12:57 WIB

Saham ASII Melawan Arus; Saat Investor Asing Getol Jualan, Harganya Malah Mendaki

ASII telah mendapatkan persetujuan pemegang saham untuk melaksanakan buyback saham dengan anggaran Rp 8 triliun.​

Prabowo Menggadang 12 Kota Satelit Baru, Saham Properti Mana yang Paling Diuntungkan?
| Selasa, 21 Juli 2026 | 09:40 WIB

Prabowo Menggadang 12 Kota Satelit Baru, Saham Properti Mana yang Paling Diuntungkan?

Kinerja operasional beberapa emiten properti pada kuartal II-2026 masih menunjukkan perlambatan efek tingginya suku bunga.

Ditengah Penurunan SKDU Saham Big Banks Masih Jadi Incaran Asing, Cermati Prospeknya
| Selasa, 21 Juli 2026 | 08:39 WIB

Ditengah Penurunan SKDU Saham Big Banks Masih Jadi Incaran Asing, Cermati Prospeknya

Pergerakan dana asing yang masih silih berganti antarsaham perbankan mengindikasikan pasar belum menemukan satu keyakinan penuh.

Ketika TNI dan Polri Mengawasi Kepatuhan Pajak
| Selasa, 21 Juli 2026 | 08:34 WIB

Ketika TNI dan Polri Mengawasi Kepatuhan Pajak

Pelibatan TNI & Polri dalam pengawasan pajak berpotensi mengaburkan garis pemisah antara fungsi pertahanan keamanan dan fungsi administrasi sipil.

Ketimun Naik Kelas
| Selasa, 21 Juli 2026 | 08:26 WIB

Ketimun Naik Kelas

Jika hari ini dan kemarin harga ketimun sudah tak lagi murah, besok bisa jadi cabai, bawang, atau bahkan beras menyusul ketimun.

Aksi Pindah Kantong Kepemilikan oleh Grup Djarum, Prospek Saham DATA Jadi Kian Harum?
| Selasa, 21 Juli 2026 | 08:15 WIB

Aksi Pindah Kantong Kepemilikan oleh Grup Djarum, Prospek Saham DATA Jadi Kian Harum?

Selain mengembangkan layanan FTTH, DATA juga memiliki sejumlah lini bisnis lain, mulai dari layanan backbone, kabel laut hingga data center.

Investor Ekstra Hati-Hati, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini, Selasa (21/7)
| Selasa, 21 Juli 2026 | 08:12 WIB

Investor Ekstra Hati-Hati, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini, Selasa (21/7)

Penguatan IHSG masih dibayangi sikap hati-hati investor menjelang rapat kebijakan Bank Indonesia (BI) pekan ini.

 Menanti Skema Motor Listrik Nasional
| Selasa, 21 Juli 2026 | 07:58 WIB

Menanti Skema Motor Listrik Nasional

Swasta meminta kesetaraan dan perlakuan yang sama dari pemerintah dalam oengembangan ekosistem kendaraan listrik

Ekspansi Kredit Bank Digital Membuat Risiko Likuiditas Ketat Tetap Tinggi
| Selasa, 21 Juli 2026 | 07:51 WIB

Ekspansi Kredit Bank Digital Membuat Risiko Likuiditas Ketat Tetap Tinggi

Laju penyaluran kredit di sejumlah bank masih lebih cepat dibandingkan penghimpunan dana, sehingga rasio loan to deposit ratio (LDR) tetap tinggi.

INDEKS BERITA