Dharma Satya (DSNG) Terapkan ESG, Dapat Cuan Segar dari Bisnis Energi Terbarukan

Senin, 15 Juli 2024 | 10:29 WIB
Dharma Satya (DSNG) Terapkan ESG, Dapat Cuan Segar dari Bisnis Energi Terbarukan
[ILUSTRASI. PT Dharma Satya Nusantara Tbk (“DSNG”, “Perseroan”) pada Rabu (05/06/2024) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) untuk tahun buku 2023 yang berlokasi di Harris Hotel & Conventions Kelapa Gading, Jakarta.]
Reporter: Sanny Cicilia | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID - Menjalankan praktik pro lingkungan hidup (environment), sosial (social), dan tata kelola (governance) atau ESG jadi kunci penting bagi PT Dharma Satya Nusantara Tbk dalam menjalankan bisnis. Emiten berkode saham DSNG ini justru dapat manfaat dari penerapan ESG.

Perusahaan yang berada dalam naungan Grup Triputra ini mengelola area kebun sawit lebih dari 112.700 hektare di Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Utara.

Tahun 2023 lalu, DSNG membukukan pendapatan Rp 9,5 triliun. Sebesar 88% atau setara Rp 8,1 triliun berasal dari bisnis sawit. Sisanya dari bisnis pengolahan kayu dan segmen baru yaitu renewable energy

Tekanan terhadap industri sawit mendorong DSNG meng-upgrade strategi penerapan ESG mereka dalam beberapa tahun terakhir. Harapannya, langkah ini bisa menjaga keberlanjutan usaha ketika industri sawit dapat tantangan, seperti kenaikan harga pupuk, penurunan permintaan, atau pengetatan kebijakan deforestasi dari Uni Eropa.

Penerapan prinsip ESG dan sirkularitas mendorong inovasi untuk mencari bahan bakar lebih bersih, rendah emisi,  serta membawa efisiensi bagi biaya operasional perusahaan.

Jenti Widjaja, Chief Financial Officer PT Dharma Satya Nusantara Tbk, bilang, sejak awal berdiri, konsep ESG sebenarnya sudah perusahaannya terapkan, meski masih dalam bentuk yang sederhana. Misalnya, pembangunan dan pembiayaan plasma, pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar melalui alih daya jasa angkutan tandan buah segar (TBS) dan crude palm oil (CPO) yang diserahkan kepada masyarakat, kegiatan CSR. 

Sekadar informasi, DSNG berdiri pada 1983 silam, menjalankan bisnis kayu. Bisnis sawit yang akhirnya menjadi penyumbang bisnis terbesar DSNG saat ini, dimulai pada 1997.

Selanjutnya, seiring prinsip ESG jadi trending global, DSNG memformalkan menjadi kebijakan keberlanjutan sejak 2020.

Pilar ESG yang sekaligus jadi fokus perusahaan ada tiga, yakni hutan, iklim, dan masyarakat (forest, climate, and community). Pada pilar hutan, DSNG berkomitmen menghindari deforestasi. Selain itu, berkomitmen melakukan konservasi di luar wilayah konsesi, serta sebagai pendorong pelestarian keanekaragaman hayati.

"Pada pilar iklim, kami memiliki tujuan untuk transisi emisi net zero," ujar Jenti. DSNG berkomitmen tidak melakukan pengembangan di lahan gambut sebagai salah satu inisiatif kunci perubahan iklim, memastikan kualitas dan konservasi air, serta pakai energi terbarukan.

Sedangkan pada pilar masyarakat, DSNG berkomitmen untuk tidak melakukan eksploitasi, mengutamakan keselamatan dan kesejahteraan para pekerja, serta masyarakat sekitar wilayah operasi sesuai dengan prinsip shared prosperity.

Tiga area prioritas tersebut mereka laksanakan melalui penerapan kebijakan No Deforestation, No Peat, No Exploitation (NDPE), Pelestarian, dan Sirkularitas. Ketiganya disatukan dalam dokumen Environment Social and Management System (ESMS), yang menjadi International Finance Corporation Procedure Standard (IFCPS) Bank Dunia. 

"Seluruh kebijakan keberlanjutan berlaku untuk semua entitas anak dan diikuti oleh rantai pasok perseroan," kata Jenti. Beberapa kegiatan tersebut berjalan berpedoman dengan tiga pilar ini.

Agar berjalan baik, DSNG menyusun strategi sejak pembuatan rencana hingga pengawasan pelaksanaan. Melalui Direktorat Sustainability, setiap tahun, DSNG selalu menyusun rencana kerja atau annual plan yang terukur. Termasuk, memastikan proses operasional yang lebih efektif, efisien, dan juga berkelanjutan. 

DSNG mengintegrasikan pelaksanaan ESG dalam operasional yang hasilnya diaudit pihak eksternal independen. Ini guna memastikan capaiannya valid serta sesuai standar.

Ambil contoh, dalam penerapan pengelolaan limbah. DSNG melakukan audit tahunan aspek Environmental and Social (E&S) oleh auditor eksternal yang dipilih kreditur dana keberlanjutan. Hasil audit ini dilaporkan secara terbuka dalam Laporan Keberlanjutan Tahunan yang dapat akses melalui website perusahaan maupun Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sedangkan untuk mengawal pelaksanaan dan meningkatkan kinerja sustainability yang diukur melalui implementasi ESG, dibentuklah Dewan Penasihat Keberlanjutan atau Sustainability Advisory Board (SAB) pada akhir 2020. SAB beranggotakan perwakilan internal perseroan serta individu-individu yang punya pengalaman, keahlian, dan kredibilitas di bidang ESG, juga berasal dari pihak eksternal yang independen. 

Salah satu strategi keberlanjutan Grup DSN adalah sirkularitas. Pendekatan yang meminimalkan limbah dengan memanfaatkan sumber daya sebaik mungkin, diharapkan membawa dampak positif bagi lingkungan serta efisiensi bagi perusahaan. 

Bahkan, perusahaan bisa dapat sumber pendapatan baru dari energi baru dan terbarukan (EBT). DSNG menerapkan energi terbarukan ini baik di bisnis sawit maupun kayu.

Ekonomi sirkular

Pada unit bisnis kelapa sawit, DSNG memanfaatkan limbah cair atau palm oil mill effluent (POME), limbah biomassa cangkang, dan serat inti sawit untuk  energi terbarukan. 

Penurunan emisi signifikan dan penghematan bahan bakar, terutama sejak mengoperasikan pabrik Bio-CNG yang berasal dari pengelolaan POME di daerah Muara Wahau, Kalimantan Timur sejak 2020 lalu.

Sebagai sumber energi terbarukan yang diklaim lebih bersih, Bio-CNG digunakan sebagai sumber listrik dan pengganti bahan baku solar kendaraan operasional. "Dampak positif langsung yang didapat perusahaan adalah penurunan biaya operasional," sebut Jenti. 

Mengutip laporan keberlanjutan 2023, Bio-CNG yang DSNG produksi telah menghasilkan 7,16 juta kWh listrik yang mereka gunakan untuk operasional pabrik kelapa sawit, kantor, dan perumahan karyawan. 

Sedangkan sebagai pengganti bahan bakar, DSNG menggunakannya untuk truk dan pengangkut alat berat serta genset. "Dalam periode 2021-2023, penggunaan satu instalasi Bio-CNG untuk pengelolaan POME berkapasitas produksi TBS 60 ton per jam telah berhasil menghemat 5,2 juta liter bahan bakar," ungkap Jenti. 

Sementara di unit bisnis produk kayu, perusahaan menggunakan tenaga surya untuk mendiversifikasi sumber energi listrik untuk operasional. PLTS  atap dipasang di pabrik WP Flooring seluas 16.000 meter persegi dengan kapasitas terpasang sebesar 2 megawatt. 

Hingga akhir 2023, PLTS ini telah menghasilkan 1,38 GW listrik yang digunakan untuk memenuhi operasional. Perusahaan ini berpotensi mengurangi emisi yang dihasilkan setara 1.035 tCO2e per tahun.

Dari penggunaan seluruh jenis energi terbarukan, DSNG berpotensi mengurangi emisi gas rumah kaca ( GRK) Lingkup 1 dan 2 sebesar 253.076 tCO2e per tahun. Jumlah ini setara dengan kegiatan menanam 4,05 juta pohon atau menghilangkan 55.677 mobil penumpang, atau mengurangi 86.046 ton sampah di tempat pembuangan akhir.

DSNG masih akan terus berinovasi mencari bahan bakar alternatif karena memiliki rencana menghentikan penggunaan bahan bakar fosil secara bertahap, dimulai tahun 2028.  

Untuk mendanai semua program ESG dan tujuan keberlanjutan ini, DSNG tak sendirian. Mereka mengalokasikan anggaran untuk program ESG dengan kisaran hingga 1% dari harga CPO per ton atas penjualan tahun yang bersangkutan. Bujet ini bervariasi, tergantung program kerja yang terlaksana di tahun berjalan. 

DSNG juga mendapat pendanaan eksternal, yakni dalam bentuk impact fund dari Stichting and Green fund yang berbasis di Belanda senilai US$ 30 juta untuk 10 tahun, serta Sustainability-linked Loans (SLL) dari Asian Develoment Bank (ADB) dengan plafon US$ 500.000 selain kredit dari Bank Mandiri dan BCA.

Total nilai SLL dan green loan pada akhir kuartal pertama 2024 berkisar 25% dari total pinjaman perseroan atau sekitar Rp 1,55 triliun. Jadi, “Saat ini perusahaan belum punya rencana mencari pendanaan atau menerbitkan obligasi hijau,” kata Jenti

Pendapatan baru

Penerapan ESG di tubuh DSNG dan rantai pasoknya bukan tanpa tantangan.Tantangan internal, misalnya, berkaitan dengan fokus pada pilar masyarakat, yakni menanamkan kesadaran budaya keselamatan kerja. DSNG melihat,  perlu model komunikasi yang baik dan mudah dimengerti oleh semua karyawan akan pesan-pesan keselamatan kerja, dan dilengkapi dengan sistem pengawasan dan evaluasi.

Sedang tantangan eksternal, ketika mengajak rantai pasok dan kontraktor bahan baku utama dan masyarakat sekitar wilayah operasional untuk secara bersama-sama berpartisipasi dan menyelaraskan kegiatan operasional mereka dengan pilar keberlanjutan DSNG.

Perusahaan melakukan langkah proaktif. Contoh, dengan memastikan produk ditelusuri hingga ke perkebunan dari pemasok (traceability to the plantation) melalui registrasi petani dan pemasok. 

Pada bisnis kayu, bekerjasama dengan petani swadaya dan membagikan bibit jabon kepada 8.350 petani untuk memastikan rantai pasok berkelanjutan.

Tantangan ini tak menyusutkan niat DSNG tetap menerapkan ESG sesuai rencana dan target perusahaan. "Bagi perseroan, penerapan ESG berdampak positif terhadap lingkungan dan sosial, yang berkontribusi positif terhadap kinerja finansial perseroan," beber Jenti. 

Dampak positif tidak langsung, misalnya, mereka mendapatkan produk biomassa dari cangkang sawit. 

Hanya, sejak pertengahan 2023, DSNG sudah mendapat laba dari situ, dengan  mengekspor cangkang kelapa sawit ke perusahaan pembangkit listrik di Jepang lewat perusahaan patungan PT Dharma Sumber Energi (DSE) dengan eRex Singapore Pte Ltd,

Tahun 2023, DSE telah mengekspor 40.397 ton cangkang sawit ke eRex dengan estimasi pendapatan Rp 70,36 miliar. Segmen baru ini jadi harapan meski laba DSNG pada akhir 2023 terkoreksi 30% lantaran meningkatnya beban pokok penjualan akibat kenaikan harga pupuk untuk segmen kelapa sawit dan penurunan volume penjualan serta harga rata-rata penjualan segmen kayu.

Pada kuartal pertama 2024, segmen renewable energy ini kembali berkontribusi terhadap penjualan sebesar Rp 56,7 miliar. Secara keseluruhan, pendapatan perusahaan naik 7,9% dibanding periode yang sama menjadi Rp 2,23 triliun, lebih didorong kenaikan volume penjualan di tengah harga jual rata-rata (ASP) CPO dan produk kayu yang melandai.

Segmen sawit yang memberi kontribusi 85% dari pendapatan perusahaan, naik 5,1% jadi Rp 1,9 triliun. Kenaikan volume penjualan CPO sebesar 3,7%, sedangkan palm kernel oil mencapai 45,1%. 

Unit bisnis kayu juga naik 5,7% jadi Rp 269 miliar. Dengan kinerja ini, laba DSNG naik 6,6% year on year jadi Rp 229 miliar akhir Maret 2024. 

Tahun ini, DSNG memproyeksikan pertumbuhan penjualan CPO sebesar 5%. Proyeksi pertumbuhan produksi CPO di tahun ini, harapannya, berasal dari peningkatan produktivitas kelapa sawit dari kebun inti dan kemitraan, baik rendemen maupun potensi tanaman yang lebih dari 70% berada di usia prima alias produktif. "Lebih lanjut, perusahaan juga melaksanakan replanting secara bertahap," ujar Jenti. 

Analis Phillip Sekuritas Marvin Lievincent dalam risetnya melihat, sektor sawit masih menarik di tahun ini. CPO dibandingkan dengan minyak nabati lainnya, masih digunakan secara luas, mulai dari produk makanan hingga skincare dan kosmetik yang kini mengalami kenaikan. 

Memang, selama sisa tahun ini, ada peluang harga CPO melandai lantaran stagflasi menahan laju permintaan. Tapi, dia tetap optimistis terhadap sektor perkebunan CPO di Indonesia karena didukung oleh produksi biodiesel yang kuat dan permintaan domestik. 

Marvin memberi rekomendasi buy untuk saham DSNG dengan target harga Rp 780. Menurut dia, kinerja kuartal pertama tahun ini DSNG di atas ekspektasinya. Ia memperkirakan, pendapatan perusahaan bisa tumbuh rata-rata 3,72% per tahun atau CAGR untuk periode 2022 hingga 2027.

Analis Ciptadana Sekuritas Yasmin Soulisa juga menyematkan rekomendasi buy saham DSNG dengan target harga Rp 770. Dia memperkirakan, ada kenaikan rata-rata harga jual (ASP) di 2024 dan memberi nilai positif segmen energi terbarukan, meski masih berkontribusi kecil pada pendapatan.

Senin (15/7), harga saham DSNG di Rp 635 per saham. Dalam sepanjang tahun berjalan, sahamnya naik 14,41% year to date.

 

 

 

Bagikan

Berita Terbaru

Purbaya Harus Tahu, Yield SBN Tinggi Akibat Risiko Investasi & Disiplin Fiskal Kendor
| Senin, 30 Maret 2026 | 11:19 WIB

Purbaya Harus Tahu, Yield SBN Tinggi Akibat Risiko Investasi & Disiplin Fiskal Kendor

Tingginya yield SBN menandakan harga obligasi sedang turun dan persepsi risiko dalam negeri  meningkat.

Menimbang Investasi dan Risiko Geopolitik
| Senin, 30 Maret 2026 | 10:48 WIB

Menimbang Investasi dan Risiko Geopolitik

Melihat kecenderungan ini, sudah saatnya politik dan geopolitik menjadi salah satu pertimbangan bisnis keberlanjutan. 

Sinyal Bahaya Mengintai! Efek Jeda Suku Bunga BI 4,75% Berpotensi Menjerat Laba Bank
| Senin, 30 Maret 2026 | 09:15 WIB

Sinyal Bahaya Mengintai! Efek Jeda Suku Bunga BI 4,75% Berpotensi Menjerat Laba Bank

Masyarakat cenderung makin berhati-hati dalam mengambil komitmen pembiayaan jangka panjang, seperti KPR dan KKB.

Perluas Segmen OEM dan Baterai EV, Cek Rekomendasi dan Target Harga Saham DRMA
| Senin, 30 Maret 2026 | 08:30 WIB

Perluas Segmen OEM dan Baterai EV, Cek Rekomendasi dan Target Harga Saham DRMA

Mandiri Sekuritas memproyeksikan laba bersih 2026 DRMA bakal terbang sekitar 23,46% menjadi di kisaran Rp 805 miliar.

Menengok Potensi Sektor Saham di Kuartal Kedua
| Senin, 30 Maret 2026 | 08:03 WIB

Menengok Potensi Sektor Saham di Kuartal Kedua

Memasuki kuartal II-2026, pundak investor dalam negeri menanggung sentimen negatif. Sentimen apa saja yang harus diawasi market?

Saham BRMS Mulai Bangkit, Disengat Aksi Borong Blackrock, Vanguard Hingga Manulife
| Senin, 30 Maret 2026 | 08:00 WIB

Saham BRMS Mulai Bangkit, Disengat Aksi Borong Blackrock, Vanguard Hingga Manulife

Laba bersih PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) pada 2026 diperkirakan mampu melonjak ke angka US$ 94 juta.

Tekanan Jual, Rupiah Loyo dan Sentimen Global, Berikut Proyeksi IHSG Hari Ini
| Senin, 30 Maret 2026 | 07:43 WIB

Tekanan Jual, Rupiah Loyo dan Sentimen Global, Berikut Proyeksi IHSG Hari Ini

Kenaikan harga minyak mentah dan gas alam menjadi sentimen negatif, di tengah kekhawatiran  supply serta dampak kenaikan harga energi ke inflasi

Harga Batubara Membara! Asing Guyur Ratusan Miliar ke Saham AADI, BUMI, ITMG dan PTBA
| Senin, 30 Maret 2026 | 07:30 WIB

Harga Batubara Membara! Asing Guyur Ratusan Miliar ke Saham AADI, BUMI, ITMG dan PTBA

Harga batubara menguat tajam di atas US$ 140 per ton pada Jumat pekan lalu, mendekati level tertingginya sejak Oktober 2024.

Awal Pekan: Persepsi Risiko Jelek, Rupiah Jeblok, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 30 Maret 2026 | 07:22 WIB

Awal Pekan: Persepsi Risiko Jelek, Rupiah Jeblok, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Dari faktor domestik, persepsi terhadap risiko fiskal, kenaikan CDS dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah menjadi pemberat bursa saham.

Gadai Ramai, Kredit Tetap Landai
| Senin, 30 Maret 2026 | 07:12 WIB

Gadai Ramai, Kredit Tetap Landai

Permintaan gadai naik untuk memenuhi kebutuhan saat Ramadan dan Lebaran.                                 

INDEKS BERITA

Terpopuler