Dilema Si Hampir Kaya
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekonomi Indonesia terus mencatat pertumbuhan kisaran 5%. Angka ini sering menjadi simbol optimisme dan narasi menuju negara maju. Namun di balik itu, ada realitas yang lebih sunyi: kelas menengah justru menyusut.
Catatan Mandiri Institute, sepanjang 2019-2025, jumlah kelas menengah bawah rontok lebih dari 11 juta orang. Jumlah ini bukan karena mereka naik kelas, tetapi justru terjerembab ke kelompok rentan.
Fenomena ini mengingatkan pada Chile’s Paradox. Chile pernah dipuji sebagai negara dengan pertumbuhan tinggi dan kemiskinan rendah. Tapi pada 2019, negara itu dilanda gelombang protes besar.
Penyebabnya bukan sekadar angka ekonomi, melainkan tekanan nyata: biaya hidup tinggi, layanan kesehatan mahal, dan sistem pensiun yang tidak memadai.
Indonesia menunjukkan gejala serupa. Fenomena kelompok makan tabungan atau rentan miskin meningkat signifikan beberapa tahun terakhir. Ini berarti semakin banyak masyarakat yang berada di posisi rawan secara ekonomi.
Sinyal pelemahan juga terlihat dari konsumsi. Penjualan kendaraan tren menurun, pasar keuangan cenderung stagnan, dan daya beli kelas menengah mulai tergerus. Padahal, kelompok ini merupakan tulang punggung konsumsi domestik dengan porsi hampir 80%.
Masalah lain muncul dari kebijakan. Perlindungan sosial lebih fokus pada kelompok miskin, sementara kelompok atas memiliki akses sumber daya. Kelas menengah berada di tengah: terlalu "mampu" untuk mendapatkan bantuan pemerintah, tapi terlalu rentan untuk menanggung tekanan biaya hidup.
Kenaikan pajak pertambahan nilai, suku bunga tinggi, dan harga kebutuhan pokok yang meningkat semakin membebani kelompok ini. Ketika mereka tertekan, dampaknya meluas ke ekonomi secara keseluruhan: konsumsi turun, bisnis melemah, hingga risiko pemutusan hubungan kerja massal meningkat.
Pengalaman Chile menunjukkan bahwa angka pertumbuhan ekonomi wow tidak selalu mencerminkan kesejahteraan nyata. Angka bisa terlihat stabil, tetapi tekanan sosial bisa terus menumpuk.
Bagi Indonesia, pertanyaannya bukan hanya soal pertumbuhan, tetapi siapa yang benar-benar merasakan hasilnya. Jika kelas menengah terus melemah, maka fondasi ekonomi menjadi rapuh. Indonesia Emas 2045 membutuhkan kelas menengah yang kuat. Tanpa itu, pertumbuhan hanya sekadar angka—bukan kesejahteraan yang nyata.
