Dilema Si Hampir Kaya

Kamis, 16 April 2026 | 06:10 WIB
Dilema Si Hampir Kaya
[ILUSTRASI. TAJUK - Syamsul Ashar (KONTAN/Indra Surya)]
Syamsul Ashar | Managing Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekonomi Indonesia terus mencatat pertumbuhan kisaran 5%. Angka ini sering menjadi simbol optimisme dan narasi menuju negara maju. Namun di balik itu, ada realitas yang lebih sunyi: kelas menengah justru menyusut.

Catatan Mandiri Institute, sepanjang 2019-2025, jumlah kelas menengah bawah rontok lebih dari 11 juta orang. Jumlah ini bukan karena mereka naik kelas, tetapi justru terjerembab ke kelompok rentan.

Fenomena ini mengingatkan pada Chile’s Paradox. Chile pernah dipuji sebagai negara dengan pertumbuhan tinggi dan kemiskinan rendah. Tapi pada 2019, negara itu dilanda gelombang protes besar. 

Penyebabnya bukan sekadar angka ekonomi, melainkan tekanan nyata: biaya hidup tinggi, layanan kesehatan mahal, dan sistem pensiun yang tidak memadai.

Indonesia menunjukkan gejala serupa. Fenomena kelompok makan tabungan atau rentan miskin meningkat signifikan beberapa tahun terakhir. Ini berarti semakin banyak masyarakat yang berada di posisi rawan secara ekonomi.

Sinyal pelemahan juga terlihat dari konsumsi. Penjualan kendaraan tren menurun, pasar keuangan cenderung stagnan, dan daya beli kelas menengah mulai tergerus. Padahal, kelompok ini merupakan tulang punggung konsumsi domestik dengan porsi hampir 80%.

Masalah lain muncul dari kebijakan. Perlindungan sosial lebih fokus pada kelompok miskin, sementara kelompok atas memiliki akses sumber daya. Kelas menengah berada di tengah: terlalu "mampu" untuk mendapatkan bantuan pemerintah, tapi terlalu rentan untuk menanggung tekanan biaya hidup.

Kenaikan pajak pertambahan nilai, suku bunga tinggi, dan harga kebutuhan pokok yang meningkat semakin membebani kelompok ini. Ketika mereka tertekan, dampaknya meluas ke ekonomi secara keseluruhan: konsumsi turun, bisnis melemah, hingga risiko pemutusan hubungan kerja massal meningkat.

Pengalaman Chile menunjukkan bahwa angka pertumbuhan ekonomi wow tidak selalu mencerminkan kesejahteraan nyata. Angka bisa terlihat stabil, tetapi tekanan sosial bisa terus menumpuk.

Bagi Indonesia, pertanyaannya bukan hanya soal pertumbuhan, tetapi siapa yang benar-benar merasakan hasilnya. Jika kelas menengah terus melemah, maka fondasi ekonomi menjadi rapuh. Indonesia Emas 2045 membutuhkan kelas menengah yang kuat. Tanpa itu, pertumbuhan hanya sekadar angka—bukan kesejahteraan yang nyata.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Rupiah Terus Ambruk, Defisit Fiskal Mengkhawatirkan, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Kamis, 16 April 2026 | 07:20 WIB

Rupiah Terus Ambruk, Defisit Fiskal Mengkhawatirkan, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Kenaikan biaya energi berpotensi meningkatkan biaya subsidi. Padahal tanpa ada konflik, defisit fiskal Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan.

Ancaman Geopolitik: Biaya Utang Korporasi Makin Mahal
| Kamis, 16 April 2026 | 07:00 WIB

Ancaman Geopolitik: Biaya Utang Korporasi Makin Mahal

Kupon obligasi korporasi diprediksi menanjak, imbas ketidakpastian global. Analis ungkap pemicu utama kenaikannya.

Emiten Ramai Buyback Saham, Tetap Cermat Sebelum Membeli
| Kamis, 16 April 2026 | 06:56 WIB

Emiten Ramai Buyback Saham, Tetap Cermat Sebelum Membeli

Euforia buyback saham bisa menjebak. Kenali risiko fundamental yang wajib diwaspadai investor sebelum membeli.

Bunga Simpanan Bank Digital Tetap Tinggi
| Kamis, 16 April 2026 | 06:50 WIB

Bunga Simpanan Bank Digital Tetap Tinggi

​Bank digital masih menawarkan bunga tinggi untuk menarik dana di tengah likuiditas yang belum merata dan LDR yang tinggi.

Perlahan Bergeser dari Safe Haven, Peluang Selektif Masuk ke Saham di Kuartal II
| Kamis, 16 April 2026 | 06:33 WIB

Perlahan Bergeser dari Safe Haven, Peluang Selektif Masuk ke Saham di Kuartal II

Dominasi aset safe haven masih bertahan, namun mulai muncul peluang selektif untuk masuk ke aset berisiko. 

Bank Ini Berjuang Bersihkan Aset Busuk Warisan
| Kamis, 16 April 2026 | 06:25 WIB

Bank Ini Berjuang Bersihkan Aset Busuk Warisan

​Sejumlah bank masih menghadapi kredit macet warisan, sehingga pembersihan NPL lewat restrukturisasi dan penjualan aset terus dilakukan.

Ekosistem GOTO Membesar: Fintech dan ODS Kerek Laba Bersih Hingga 2026
| Kamis, 16 April 2026 | 06:20 WIB

Ekosistem GOTO Membesar: Fintech dan ODS Kerek Laba Bersih Hingga 2026

GOTO diproyeksi laba Rp 439 miliar pada 2026. Sektor fintech kini menguntungkan, menyumbang dua pertiga peningkatan pendapatan

Bank Diversifikasi Pendanaan, Antisipasi Lonjakan Kredit
| Kamis, 16 April 2026 | 06:10 WIB

Bank Diversifikasi Pendanaan, Antisipasi Lonjakan Kredit

​Likuiditas perbankan awal 2026 tetap longgar, tetapi penerbitan obligasi masih aktif sebagai strategi menjaga fleksibilitas pendanaan 

Dilema Si Hampir Kaya
| Kamis, 16 April 2026 | 06:10 WIB

Dilema Si Hampir Kaya

Bagi Indonesia, pertanyaannya bukan hanya soal pertumbuhan, tetapi siapa yang benar-benar merasakan hasilnya.

Transportasi Umum Kembali Didorong
| Kamis, 16 April 2026 | 05:35 WIB

Transportasi Umum Kembali Didorong

Pemerintah tengah mengerjakan proyek BRT alias bus rapid transit di daerah-daerah dan salah satunya adalah di Bandung Raya.

INDEKS BERITA

Terpopuler