Dirut RUIS, Sofwan Farisyi: Cuan Berlimpah Berkat Diversifikasi Aset

Sabtu, 20 November 2021 | 04:55 WIB
Dirut RUIS, Sofwan Farisyi: Cuan Berlimpah Berkat Diversifikasi Aset
[]
Reporter: Ika Puspitasari | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dalam berinvestasi, Direktur Utama PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS) Sofwan Farisyi memiliki prinsip tidak menaruh telur di keranjang yang sama. Kondisi ini membuatnya terhindar dari kerugian. 

Seperti diketahui, kepanikan di bursa saham akibat pandemi Covid-19 memantik aksi jual besar-besaran. Akibatnya, pasar saham membuat pada awal tahun 2020 kompak melemah. Prinsip investasi yang teguh dipegang Sofwan membuat dia tak mengkhawatirkan modal yang ditanamnya. 

Ini karena ia menempatkan aset ke beberapa macam instrumen investasi. "Portofolio investasi saya cukup terdiversifikasi dari awal saya berinvestasi, jadi sejauh ini risiko pasar bisa dimitigasi," ujar Sofwan. Dia menegaskan, dengan menempatkan berbagai instrumen investasi di portofolionya, ia bisa menghindari risiko tunggal pada aset investasi tertentu. 

Baca Juga: BNP Paribas AM perluas jangkauan mitra distribusi reksadana bertema teknologi global

Bahkan, berdasarkan pengalaman, pria kelahiran 1969 ini berhasil mendulang imbal hasil lebih tinggi untuk jangka panjang, dengan membangun portofolio dari beberapa jenis instrumen. Sebelum pandemi, Sofwan mengalokasikan aset pada instrumen yang minim risiko, misalnya obligasi pemerintah dan obligasi korporasi. 

Obligasi korporasi yang diincarnya minimal memiliki tingkat peringkat utang BBB- atau investment grade, yang mana bunganya lebih besar dari deposito serta risiko gagal bayarnya lebih kecil. Selanjutnya, Sofwan juga menempatkan asetnya pada reksadana saham global, reksadana campuran, dan obligasi global. 

Tak hanya itu, ia juga memiliki asuransi jiwa dengan pertanggungan yang dinilai cukup untuk keluarga. "Itu merupakan portofolio inti, untuk pegangan dalam jangka panjang dan dinilai cukup stabil serta tahan banting terhadap peristiwa goncangan keuangan, seperti sell-off di awal tahun 2020 karena kondisi tidak wajar pandemi akibat Covid-19," kata Sofwan. 

Dia menambahkan, dua produk yang lebih dominan dan aktif digunakan yakni reksadana dan obligasi. Kedua produk ini lebih dominan karena Sofwan bisa tetap aktif mengelola tapi tidak perlu melakukan trading setiap hari.

"Reksadana memiliki cakupan yang lebih luas terhadap bermacam-macam kelas aset, geografi, dan sektor yang berbeda," tutur Sofwan. Dia juga masuk dan mengoleksi saham-saham global, khususnya sektor teknologi dan kesehatan di pasar saham Asia maupun Amerika Serikat. Saham-saham sektor tersebut memiliki prospek bisnis yang cerah di tengah pandemi.

Baca Juga: Inilah negara paling kaya di dunia saat ini, bukan Amerika

Rutin review portofolio

Dengan melakukan alokasi aset di berbagai macam instrumen, Sofwan bisa meminimalisir risiko yang ada. Bahkan, ia melihat penurunan valuasi saham pada awal tahun lalu menjadi sebuah peluang. 

Saat itu, ia tak mau ketinggalan mengoleksi saham-saham bagus dengan harga murah. "Saat itu saya melihat peluang dan memutuskan untuk memindahkan aset lebih banyak ke saham," cerita Sofwan. Dia melihat ketika itu valuasi sahamnya cukup rendah. 

Terbukti harga saham naik dari pertengahan 2020 sampai sekarang. Tapi saat ini dia mengaku valuasi saham-saham yang ia koleksi sudah mulai tinggi. Sofwan kemudian sedikit demi sedikit tengah mengurangi instrumen investasi saham.

Sofwan mengaku, dirinya rutin melakukan penyesuaian instrumen investasi setiap dua atau tiga bulan sekali. Menurut dia, penting melakukan review secara rutin untuk menyesuaikan keadaan pasar dan potensi pertumbuhan portofolio ke depan. 

Ia menambahkan, sejauh ini mayoritas instrumen investasinya menghasilkan return yang cukup tinggi. Semua alokasi reksadana saham dan campuran yang ia genggam selama lima hingga tujuh tahun ini selalu memberikan dividen yang konsisten, meskipun kondisi pasar menghadapi sejumlah tantangan.'

Baca Juga: Kinerja kompak menghijau, MI tertarik luncurkan reksadana saham bertema ESG

Investasi yang dialokasikan di saham Asia dari awal tahun ini memberikan imbal hasil 35%. Ia bilang sebelumnya keuntungannya jauh lebih tinggi lagi. Ini karena ada koreksi saham Asia dalam satu hingga dua bulan terakhir. Tapi Sofwan menilai, prospek ke depan masih bagus dan valuasinya belum mahal. Karena itu, ia masih mendekap portofolio yang sama. 

Investasi di Produk Bertema ESG

Perjalanan investasi Sofwan Farisyi, Direktur Utama PT Radiant Utama Interinsco Tbk, tak selalu mulus. Salah satu saham tunggal yang dia miliki melalui Credit Suisse masih belum pulih dalam kurun waktu dua-tiga tahun ini. Investasinya ambles 39,84% dengan porsi investasi 1,2% dari alokasi investasi total yang dimiliki.

Porsi investasi yang kecil tersebut membuat dirinya tidak rugi terlalu besar. Meski begitu, Sofwan juga menyarankan agar selalu berhati-hati dalam berinvestasi dan mengukur risiko investasi sesuai profil masing-masing. Secara keseluruhan, pria kelahiran Muntok, Bangka Barat, ini mengaku juga menempatkan dana di tabungan atau deposito. 

Ini dilakukan untuk memastikan ia tetap memiliki dana likuid. "Di situasi sekarang ini, bunga tabungan atau deposito tidak cukup menjamin keamanan finansial dan mengalahkan nilai inflasi secara garis besar," ujar Sofwan.

Saat berinvestasi, Sofwan juga mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola atau environmental, social, and corporate governance (ESG). Sekarang dia sudah mulai menyeleksi saham yang yang masuk dalam indeks ini.. 

Bursa Efek Indonesia (BEI) juga sudah meluncurkan indeks ESG pada akhir tahun lalu. Investasi di aset ESG ini merupakan dukungannya pada sustainable lingkungan. "Portofolio saya di ESG mengandung unsur kepedulian lingkungan, tata kelola perusahaan dan etika sosial yang bagus selain profit. Contohnya green energy dan mobil listrik," kata dia.     

Baca Juga: AUM reksadana indeks saham tumbuh paling tinggi tersokong kinerja indeks LQ45

Bagikan

Berita Terbaru

Sejumlah Stimulus Tak Terserap Optimal
| Jumat, 31 Juli 2026 | 08:36 WIB

Sejumlah Stimulus Tak Terserap Optimal

Realisasi insentif PPN DTP pembelian rumah tapak dan satuan rumah susun sepanjang tahun lalu hanya 86,02%

Laba Fintech GoPay Lampaui Gojek, Bisnis Fintech Kini Jadi Lokomotif Kinerja GOTO
| Jumat, 31 Juli 2026 | 08:30 WIB

Laba Fintech GoPay Lampaui Gojek, Bisnis Fintech Kini Jadi Lokomotif Kinerja GOTO

Untuk pertama kalinya, profitabilitas bisnis fintech (GoPay) melampaui bisnis on demand services (Gojek) pada kuartal II-2026.

Meski Melandai, Risiko Inflasi Masih Mengintai
| Jumat, 31 Juli 2026 | 08:26 WIB

Meski Melandai, Risiko Inflasi Masih Mengintai

Ekonom memperkirakan laju inflasi bulanan dan tahunan Juli 2026 turun dari bulan sebelumnya         

Sektor Hulu Tekstil Masih Tertekan
| Jumat, 31 Juli 2026 | 08:05 WIB

Sektor Hulu Tekstil Masih Tertekan

Kinerja sektor hulu di semester I mengalami penurunan produksi 5% yoy. Hal ini terkait dengan permintaan di sektor hilir yang sedikit menurun.

Sempat Bullish, Saham Bukalapak.com (BUKA) Patut Dicermati
| Jumat, 31 Juli 2026 | 08:00 WIB

Sempat Bullish, Saham Bukalapak.com (BUKA) Patut Dicermati

Keberlanjutan tren positif BUKA di semester II-2026 sangat bergantung pada kemampuannya menjaga pertumbuhan pendapatan berkualitas.

El Nino Ikut Mendorong Pertumbuhan Bisnis AMDK
| Jumat, 31 Juli 2026 | 07:53 WIB

El Nino Ikut Mendorong Pertumbuhan Bisnis AMDK

Cuaca yang lebih panas dan kering umumnya meningkatkan kebutuhan hidrasi masyarakat sehingga bisa meningkatkan permintaan AMDK.

Andalkan Home Appliances, Selaras Citra (SCNP) Kejar Pendapatan Rp 388,8 Miliar
| Jumat, 31 Juli 2026 | 07:46 WIB

Andalkan Home Appliances, Selaras Citra (SCNP) Kejar Pendapatan Rp 388,8 Miliar

SCNP juga membidik laba bersih sebesar Rp 24,30 miliar dengan target volume produksi mencapai 1.594.062 unit hingga akhir tahun.

Rebalancing Indeks SMC Liquid, Simak Saham Pilihan Analis
| Jumat, 31 Juli 2026 | 07:43 WIB

Rebalancing Indeks SMC Liquid, Simak Saham Pilihan Analis

Bursa Efek Indonesia melakukan evaluasi mayor terhadap indeks small mid cap (SMC) Liquid yang berisi saham berkapitalisasi kecil dan menengah 

Didorong Musim Laporan Keuangan, IHSG Berpeluang Menguat
| Jumat, 31 Juli 2026 | 07:33 WIB

Didorong Musim Laporan Keuangan, IHSG Berpeluang Menguat

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,56% atau 94,98 poin ke level 6.186,36 pada Kamis (30/7).

Arus Peti Kemas IPC TPK Panjang Melonjak 73,7%
| Jumat, 31 Juli 2026 | 07:30 WIB

Arus Peti Kemas IPC TPK Panjang Melonjak 73,7%

Pembukaan layanan baru oleh PT Buaya Mas Prima juga berdampak langsung terhadap peningkatan trafik peti kemas domestik antarpulau.

INDEKS BERITA

Terpopuler