KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan harga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal pekan ini, di antaranya akan bergantung pada rilis sejumlah data ekonomi Indonesia, mulai dari angka inflasi, neraca perdagangan dan Produk Domestik Bruto (PDB).
Adapun IHSG menutup perdagangan April 2026 dengan melemah 2,03% atau turun 144,42 poin ke level 6.956,80 pada perdagangan Kamis (30/5). Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 1,48 triliun.
Pengamat Pasar Modal & Co-Founder Pasardana Hans Kwee mencermati, dengan banyak rilis data ekonomi Indonesia pada pekan ini, IHSG berpotensi konsolidasi menguat dengan support di level 6.876 dan resistance di level 7.109.
Adapun inflasi Indonesia pada April 2026 diproyeksikan naik ke level 3,5%. Menurut Hans, ini akan memperkecil ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk memangkas suku bunga acuan.
“Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia terlihat meningkat di tengah penguatan yield obligasi Amerika Serikat (AS) yang mendorong tekanan pada arus dana asing yang keluar dari Indonesia,” kata Hans, Minggu (3/6).
Masih dari sentimen dalam negeri, Hans menilai kondisi fiskal Indonesia yang diperkirakan memburuk juga akan menambah tekanan di pasar keuangan, termasuk pasar obligasi.
Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memproyeksi, IHSG masih akan cenderung terkoreksi dengan area support di level 6.838 dan resistance di 7.022 pada perdagagan Senin (4/5)
“IHSG masih rawan didominasi oleh tekanan jual, di tengah rilis data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia,” katanya akhir pekan lalu.
Untuk Senin (4/5), Herditya merekomendasikan buy on weakness pada ANTM di area Rp 3.550–Rp 3.710. Ia juga merekomendasikan trading buy CPIN di kisaran Rp 3.900–Rp 4.000.
Herditya juga menyarankan buy on weakness DEWA di area Rp 458 - Rp 486. Lalu, buy on weakness MAPI di rentang Rp 1.180–Rp 1.125 dengan batas stop loss di bawah Rp 1.125.
