Konflik Geopolitik Makin Menjerat Membuat Harga Emas Semakin Mengkilat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah mengambangnya usaha mencapai perdamaian dari Amerika Serikat (AS) dan Irak, harga emas terus menanjak. Sebenarnya, penguatan emas ini tidak hanya disokong oleh kombinasi tensi geopolitik, tetapi juga pelemahan dolar AS dan aksi borong bank sentral dunia.
Melihat jejak langkah harga emas, pada awal pekan ini, Senin (11/5) lalu, harga emas dunia di pasar spot ditutup di US$ 4.750,4 per ons troi alias bertambah kuat 0,73% dibandingkan penutupan perdagangan akhir pekan lalu. Harga emas pun genap naik dua hari berturut-turut. Selama dua hari tersebut, harga terangkat 1,37%.
Pada hari ini Rabu (13/5), harga emas spot terpantau masih stabil di level US$ 4.713,39 per ons troi, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni, naik 0,7% menjadi US$ 4.721,80 per ons troi.
Baca Juga: Ekspansi ARCI Dimulai: Laba Bersih Bisa Optimal di Tengah Harga Emas
Kenaikan harga emas memang sering terjadi selaras dengan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi geopoltik global. Tidak hanya imbas dari ketegangan AS - Iran, konflik Rusia - Ukraina yang memanas kembali pasca NATO berencana menggelar pembahasan turut menambah kekhawatiran pasar dan meningkatkan harga emas. Asal tahu saja, langkah NATO ini ditentang keras oleh Rusia dan hanya semakin menambah kekhawatiran eskalasi konflik yang sudah ada.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong menuturkan saat ini harga emas walau didukung oleh situasi geopolitik yang memanas, namun kenaikan harga minyak mentah dunia yang akan memicu inflasi dan kenaikan tingkat suku bunga lebih memberikan tekanan jangka pendek hingga menengah terhadap harga emas. Selain itu, dolar AS yang sebenarnya masih cukup lemah juga mendukung harga emas.
Walau demikian, Lukman masih melihat bahwa pergerakan harga emas tidak konsisten, peningkatannya akan sulit untuk kembali di atas US$ 5.000 per ons troi.
