Konflik Geopolitik Makin Menjerat Membuat Harga Emas Semakin Mengkilat

Kamis, 14 Mei 2026 | 07:00 WIB
Konflik Geopolitik Makin Menjerat Membuat Harga Emas Semakin Mengkilat
[ILUSTRASI. Transaksi emas batangan dan perhiasan di Gorontalo (ANTARAFOTO/Adiwinata Solihin)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah mengambangnya usaha mencapai perdamaian dari Amerika Serikat (AS) dan Irak, harga emas terus menanjak. Sebenarnya, penguatan emas ini tidak hanya disokong oleh kombinasi tensi geopolitik, tetapi juga pelemahan dolar AS dan aksi borong bank sentral dunia.

Melihat jejak langkah harga emas, pada awal pekan ini, Senin (11/5) lalu, harga emas dunia di pasar spot ditutup di US$ 4.750,4 per ons troi alias bertambah kuat  0,73% dibandingkan penutupan perdagangan akhir pekan lalu. Harga emas pun genap naik dua hari berturut-turut. Selama dua hari tersebut, harga terangkat 1,37%.

Pada hari ini Rabu (13/5), harga emas spot terpantau masih stabil di level US$ 4.713,39 per ons troi, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni, naik 0,7% menjadi US$ 4.721,80 per ons troi.

Baca Juga: Ekspansi ARCI Dimulai: Laba Bersih Bisa Optimal di Tengah Harga Emas

Kenaikan harga emas memang sering terjadi selaras dengan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi geopoltik global. Tidak hanya imbas dari ketegangan AS - Iran, konflik Rusia - Ukraina yang memanas kembali pasca NATO berencana menggelar pembahasan turut menambah kekhawatiran pasar dan meningkatkan harga emas. Asal tahu saja, langkah NATO ini ditentang keras oleh Rusia dan hanya semakin menambah kekhawatiran eskalasi konflik yang sudah ada.

Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong menuturkan saat ini harga emas walau didukung oleh situasi geopolitik yang memanas, namun kenaikan harga minyak mentah dunia yang akan memicu inflasi dan kenaikan tingkat suku bunga lebih memberikan tekanan jangka pendek hingga menengah terhadap harga emas. Selain itu, dolar AS yang sebenarnya masih cukup lemah juga mendukung harga emas.

Walau demikian, Lukman masih melihat bahwa pergerakan harga emas tidak konsisten, peningkatannya akan sulit untuk kembali di atas US$ 5.000 per ons troi.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

MDKA Siap Membagikan Dividen Rp 300 Miliar
| Kamis, 25 Juni 2026 | 11:16 WIB

MDKA Siap Membagikan Dividen Rp 300 Miliar

Dividen tunai tersebut akan dibagikan dari sebagian saldo laba MDKA dari tahun buku 2025 yang belum ditentukan penggunaannya.​

Terbitkan Obligasi Jumbo Rp 2,25 Triliun, TPIA Tingkatkan Modal Kerja
| Kamis, 25 Juni 2026 | 11:03 WIB

Terbitkan Obligasi Jumbo Rp 2,25 Triliun, TPIA Tingkatkan Modal Kerja

Dana hasil penerbitan obligasi akan digunakan untuk kebutuhan modal kerja TPIA. Terutama, mendukung pengadaan bahan baku produksi.​

Enam Emiten Antre IPO, Sinyal Kebangkitan Pasar Saham atau Sekadar Cari Pendanaan?
| Kamis, 25 Juni 2026 | 09:20 WIB

Enam Emiten Antre IPO, Sinyal Kebangkitan Pasar Saham atau Sekadar Cari Pendanaan?

Saat sentimen positif mendominasi pasar, minat investor terhadap aset berisiko meningkat sehingga penyerapan saham baru menjadi lebih baik.

Enam Perusahaan Calon IPO, Ada  Afiliasi Djarum dan Emtek, Perhatikan Fundamental
| Kamis, 25 Juni 2026 | 09:10 WIB

Enam Perusahaan Calon IPO, Ada Afiliasi Djarum dan Emtek, Perhatikan Fundamental

Enam perusahaan siap IPO. Namun analis sepakat dua emiten ini paling prospektif. Cek fundamental dan potensi untungnya.

Masih Ada  Peringatan dari MSCI, IHSG Masih Terancam Lesu
| Kamis, 25 Juni 2026 | 08:58 WIB

Masih Ada Peringatan dari MSCI, IHSG Masih Terancam Lesu

Indonesia dipertahankan emerging market, tapi IHSG malah terjun bebas di bawah 6.000. Ada kekhawatiran besar di balik keputusan MSCI.

Transaksi Afiliasi Rp 18,27 Triliun, Rajawali Kapital Emas Jadi Pengendali ARCI
| Kamis, 25 Juni 2026 | 08:44 WIB

Transaksi Afiliasi Rp 18,27 Triliun, Rajawali Kapital Emas Jadi Pengendali ARCI

Rajawali Corpora lepas seluruh saham ARCI ke afiliasi senilai Rp 18,27 T. Perubahan ini bisa pengaruhi valuasi saham ARCI.

Indeks Sudah Jebol ke 5.800, Net Sell Rp 6 Triliun, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Kamis, 25 Juni 2026 | 08:06 WIB

Indeks Sudah Jebol ke 5.800, Net Sell Rp 6 Triliun, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Jika hingga November 2026 tidak ada perubahan signifikan, ada peluang penurunan status menjadi frontier market. 

ARPU TLKM, EXCL, dan ISAT Naik, tapi Ruang Kenaikan Tarif Mulai Menyempit
| Kamis, 25 Juni 2026 | 07:55 WIB

ARPU TLKM, EXCL, dan ISAT Naik, tapi Ruang Kenaikan Tarif Mulai Menyempit

Prospek sektor telekomunikasi dalam jangka menengah masih dinilai positif, amun narasi pertumbuhannya mulai mengalami pergeseran.

Saham DSSA Mulai Bangkit Usai Keluar dari MSCI dan FTSE, Masih Layak Dibeli?
| Kamis, 25 Juni 2026 | 07:34 WIB

Saham DSSA Mulai Bangkit Usai Keluar dari MSCI dan FTSE, Masih Layak Dibeli?

DSSA memiliki eksposur yang kuat di sektor energi, pembangkit listrik, serta mulai memperluas bisnis ke sektor transisi energi dan EBT.

Menakar Prospek Saham BREN Usai Diborong Prajogo Pangestu, Masih Layak Dibeli?
| Kamis, 25 Juni 2026 | 06:46 WIB

Menakar Prospek Saham BREN Usai Diborong Prajogo Pangestu, Masih Layak Dibeli?

BREN merupakan pemain panas bumi terbesar di Indonesia dan berada di peringkat keempat secara global.

INDEKS BERITA

Terpopuler