Harga Minyak Mentah Menguat, Angin Segar Bagi MEDC dan ENRG
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah yang berada di atas angin, turut memberikan kekuatan pada emiten-emiten hulu minyak dan migas seperti PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC). Kedua saham emiten yang fokus di bidang eksplorasi dan produksi minyak gas bumi ini kompak melesat seiring kenaikan harga minyak dunia yang sudah mendekati level psikologis US$ 80 per barel.
Terhitung sejak 6 Juli 2026 lalu hingga perdagangan Selasa (14/7) kemarin, harga minyak dunia sudah naik sekitar 16,57% dan bertengger di kisaran US$ 79,9 per barel. Penguatan ini juga tecermin pada kinerja saham ENRG dan MEDC yang pada hari ini masih melanjutkan relinya.
Pada penutupan perdagangan Kamis (16/7), harga saham ENRG kembali ditutup menguat 0,36% ke level Rp 1.395 melanjutkan penguatan yang sudah terjadi pada sepekan terakhir sebesar 14,81%. Perjalanan harga saham ENRG sepanjang tahun berjalan 2026 atau year to date (YtD) masih berada di zona merah, yaitu koreksi 12,81%.
Hampir serupa, harga saham MEDC masih betah berada di zona hijau dalam rentang harian, mingguan hingga bulanan. Hari ini, MEDC ditutup menguat lagi yaitu sebesar 1,61% ke posisi Rp 1.265. Dalam horizon waktu seminggu dan sebulan, penguatan MEDC sudah sebesar 8,58% dan 7,20%. Sama nasibnya dengan ENERG, MEDC pun masih tertekan pada rentang sepanjang tahun berjalan (YtD). Penurunan yang terjadi pada harga saham MEDC secara YtD sudah mencapai 5,95%.
Baca Juga: Saham MEDC Rebound Meski Harga Minyak Melemah, Kinerja Diperkirakan Tetap Solid
Retail Research Team Leader CGS International Sekuritas Indonesia Mino menyampaikan bahwa penguatan harga minyak mentah memang menjadi katalis utama yang mengangkat prospek MEDC dan ENRG, emiten produsen minyak.
Dalam kacamata teknikal, Mino berpendapat bahwa kedua saham ini sudah bisa disebut keluar dari fase pelemahan dan mulai memasuki tren bullish jangka pendek. “Kedua saham tersebut sudah berhasil keluar dari lower low dan saat ini membentuk tren bullish dalam jangka pendek,” ujar Mino belum lama ini.
Dia menegaskan, lonjakan harga minyak kali ini dipicu oleh kembali meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran. Tensi anyar ini pula disebabkan oleh serangan kapal-kapal yang melintas Selat Hormuz dan Amerika Serikat meresponsnya dengan aksi militer terhadap Iran.
Kini situasi pun semakin memanas, karena negara Paman Sam mengeluarkan wacana pembatasan kapal-kapal yang keluar masuk Iran dengan tarif sebesar 20% atas nilai kargo.
Wacana ini pun sudah layu sebelum berkembang alias sudah dibatalkan, tetapi tidak mengurangi ketegangan geopolitik yang terus menumpuk, guna menjaga premi risiko di pasar minyak dan mendorong harga minyak untuk tetap berada di level tingginya.
