Harga Sudah Naik 100%, Ini Alasan Analis Masih Merekomendasikan Beli Saham KBLI

Jumat, 02 Agustus 2019 | 07:37 WIB
Harga Sudah Naik 100%, Ini Alasan Analis Masih Merekomendasikan Beli Saham KBLI
[]
Reporter: Dimas Andi | Editor: A.Herry Prasetyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten kabel PT KMI Wire & Cable Tbk (KBLI) sejauh ini menunjukkan performa harga saham mengesankan.

Emiten berkode saham KBLI tersebut juga memiliki prospek bisnis yang positif.

Bila dihitung sejak akhir tahun lalu hingga kemarin (year to date), harga saham KBLI (KMI Wire & Cable) sudah melesat 106,95% ke level Rp 625 per saham.

Khusus kemarin saja, saham KBLI melonjak 4,17%.

Analis Panin Sekuritas William Hartanto mengatakan, kenaikan harga saham KBLI yang signifikan sangat dipengaruhi oleh performa keuangan perusahaan yang tak kalah mentereng.

Lihat saja, KBLI sukses mencetak pertumbuhan pendapatan sebesar 16,31% year on year, dari Rp 1,61 triliun di semester I-2018 menjadi Rp 1,87 triliun, di semester I-2019.

Bersamaan dengan itu, laba bersih produsen kabel tersebut meroket 227,16% dari Rp 54,02 miliar menjadi Rp 176,73 miliar di akhir Juni.

Analis Jasa Capital Utama Chris Apriliony menyebut, daya tarik KBLI makin bertambah karena valuasi KBLI masih tergolong murah, meski harga sahamnya sudah melejit.

Terbukti, price to earning ratio (PER) emiten tersebut masih berada di level 7,10 kali hingga hari ini.

Kondisi keuangan KBLI juga masih sehat lantaran posisi debt to equity ratio (DER) di level 42,11% atau 0,42 kali.

"KBLI masih berpeluang mencatatkan kenaikan harga saham lebih tinggi lagi," ujar Chris, Kamis (1/8).

Selain itu, prospek bisnis KBLI terbilang cerah di sisa tahun ini.

KMI Wire & Cable dinilai cukup terbantu oleh mega proyek pengadaan kapasitas pembangkit listrik sebesar 35.000 MW oleh pemerintah.

Proyek ini tentu dapat mendatangkan banyak permintaan kabel produksi KBLI.

Memang, megaproyek ini masih tersendat-sendat.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut, total kapasitas pembangkit listrik dari program ini baru mencapai 3.617 MW per 15 Juni 2019, atau sekitar 10% dari target awal pemerintah.

Karena perkembangannya cukup lambat, KBLI perlu realistis terhadap proyek yang sebenarnya sudah berlangsung sejak 2015 tersebut.

"Jadi, potensi permintaan kabel juga perlu menunggu perkembangan lebih lanjut proyek 35.000 MW tersebut," imbuh William, kemarin.

Akan tetapi, ia tetap memandang, keberadaan proyek ini dapat berdampak positif bagi produsen kabel seperti KBLI dalam jangka panjang.

Ini dengan asumsi KBLI aktif mengikuti tender pengadaan kabel di luar PLN, sembari menunggu proyek pembangkit listrik 35.000 MW, agar kinerja perusahaan tetap stabil secara berkesinambungan.

Harga komoditas

Sebelum ini, manajemen KBLI pernah mengatakan, pihaknya tengah mendorong agar pendapatan tidak hanya bergantung pada proyek pemerintah.

Emiten ini aktif mengincar beberapa tender dan berpartisipasi dalam berbagai gelaran pameran.

Bukan hanya itu, KMI Wire & Cable juga berencana meningkatkan penjualan kabel di pasar ekspor.

Pasalnya, pendapatan ekspor perusahaan ini masih tergolong kecil, yakni sebesar Rp 19,52 miliar di semester pertama lalu.

Kontribusi pendapatan ekspor saat ini kurang lebih 1% dari total pendapatan KBLI.

Bahkan, pendapatan ekspor perusahaan sebenarnya berkurang.

Ini mengingat di semester pertama 2018, perusahaan ini sanggup meraup pendapatan ekspor sebanyak Rp 28,78 miliar.

Menurut Chris, upaya peningkatan ekspor yang dilakukan oleh KBLI pada akhirnya akan mendatangkan manfaat bagi kinerja perusahaan.

Bukan tidak mungkin laba bersihnya kembali melonjak signifikan jika penjualan ekspor produk kabel berhasil.

Di sisi lain, KBLI perlu memperhatikan beban bahan baku yang meningkat 17,5% menjadi Rp 1,41 triliun pada semester satu lalu.

Chris berpendapat, bisnis KBLI memang dipengaruhi oleh volatilitas harga komoditas, seperti tembaga dan aluminium.

Keduanya merupakan bahan baku pembuatan kabel.

Namun, KBLI diyakini memiliki stok bahan baku yang bisa digunakan dalam beberapa bulan.

"Harusnya beban bahan baku masih bisa terjaga," kata Chris.

Sementara William menilai, dampak kenaikan beban bahan baku masih bisa diatasi, karena di waktu yang sama penjualan emiten juga meningkat.

Dia merekomendasikan beli saham KBLI.

William menilai kenaikan harga KBLI masih bisa berlanjut selama harga bertahan di atas support 565.

Ia menargetkan harga KBLI mencapai Rp 670-Rp 850 per saham.

Chris juga merekomendasikan beli saham KBLI dengan target Rp 880 per saham.

Analis OSO Sekuritas Sukarno Alatas juga merekomendasikan beli dengan target harga Rp 765 per saham..

Bagikan

Berita Terbaru

Dana Asing Terus Keluar, Laju IHSG Semakin Liar
| Kamis, 12 Februari 2026 | 14:45 WIB

Dana Asing Terus Keluar, Laju IHSG Semakin Liar

Sejak awal tahun 2026, total net sell asing di pasar saham Indonesia telah mencapai Rp 12,97 triliun.

Anak Usaha Medco Energi (MEDC) Jadi Operator PSC Cendramas
| Kamis, 12 Februari 2026 | 14:12 WIB

Anak Usaha Medco Energi (MEDC) Jadi Operator PSC Cendramas

Anak usaha PT Medco Energi Internasional Tbk mendapatkan Surat Penunjukan dari Petroliam Nasional Berhad untuk kontrak bagi hasil Cendramas.​

Prospek Emiten Nikel Terganjal Pemangkasan Kuota Produksi
| Kamis, 12 Februari 2026 | 13:37 WIB

Prospek Emiten Nikel Terganjal Pemangkasan Kuota Produksi

Pembatasan kuota berpotensi menekan target volume penjualan bijih nikel emiten dalam jangka pendek. 

ASII Bidik Pertumbuhan Penjualan Kendaraan Pada 2026
| Kamis, 12 Februari 2026 | 13:28 WIB

ASII Bidik Pertumbuhan Penjualan Kendaraan Pada 2026

Untuk mempertahankan dominasi pasar, ASII akan konsisten fokus pada penyediaan produk, teknologi, dan layanan yang sesuai kebutuhan pelanggan.

Saham Kena Depak MSCI, Dana Asing Lari Dari BEI
| Kamis, 12 Februari 2026 | 13:22 WIB

Saham Kena Depak MSCI, Dana Asing Lari Dari BEI

Dampak dari aksi rebalancing MSCI kali ini adalah pergerakan dana asing ke Bursa Efek Indonesia (BEI)​.

Mengurai Dosa Ekologis di Konsesi Batubara Eks KPC untuk NU, Potensi Konflik Menganga
| Kamis, 12 Februari 2026 | 10:30 WIB

Mengurai Dosa Ekologis di Konsesi Batubara Eks KPC untuk NU, Potensi Konflik Menganga

Konsesi batubara eks KPC yang diserahkan ke Nahdlatul Ulama (NU) berada di lahan yang sudah menjadi pemukiman dan 17.000 ha hutan sekunder. 

Pemangkasan RKAB Berdampak Instan pada Pergerakan Saham Emiten Nikel
| Kamis, 12 Februari 2026 | 10:00 WIB

Pemangkasan RKAB Berdampak Instan pada Pergerakan Saham Emiten Nikel

Industri sudah mengantisipasi penurunan RKAB hingga 250 juta ton, sehingga penetapan RKAB oleh pemerintah masih sedikit di atas ekspektasi awal.

Transparansi Cuma Sampai Pemilik di Atas 1%, Peluang Goreng Saham Masih Terbuka
| Kamis, 12 Februari 2026 | 09:12 WIB

Transparansi Cuma Sampai Pemilik di Atas 1%, Peluang Goreng Saham Masih Terbuka

Gorengan saham masih mungkin melalui pemegang saham di bawah 1%. Nominees account  dibuat sekecil mungkin, saya pernah bikin sampai 30 account.

Peta Emiten Batubara Bergeser Seiring Kebijakan Pemangkasan RKAB 2026 & Kenaikan DMO
| Kamis, 12 Februari 2026 | 09:00 WIB

Peta Emiten Batubara Bergeser Seiring Kebijakan Pemangkasan RKAB 2026 & Kenaikan DMO

Kebijakan DMO dan RKAB menggeser narasi sektor batubara, dari yang sebelumnya bertumpu pada volatilitas harga global yang liar.

Berharap Bisa Melanjutkan Penguatan, Simak Proyeksi IHSG Hari Ini, Kamis (12/2)
| Kamis, 12 Februari 2026 | 08:49 WIB

Berharap Bisa Melanjutkan Penguatan, Simak Proyeksi IHSG Hari Ini, Kamis (12/2)

Investor disarankan akumulasi pada saham-saham berfundamental solid. Khususnya undervalued  dengan tetap menerapkan manajemen risiko.

INDEKS BERITA

Terpopuler