IMF Meminta Negara-Negara Asia Mewaspadai Spillover Risk

Jumat, 20 Mei 2022 | 12:12 WIB
IMF Meminta Negara-Negara Asia Mewaspadai Spillover Risk
[ILUSTRASI. Logo International Monetary Fund (IMF) di depan kantor pusatnya di Washington, Amerika Serika, 4 September 2018. REUTERS/Yuri Gripas/File Photo]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Negara-negara Asia harus mewaspadai risiko limpahan (spillover risks) karena berbagai bank sentral utama menghentikan kebijakan pelonggaran lebih cepat dari yang diperkirakan, demikian pernyataan Wakil Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kenji Okamura.

Risiko terutama membayangi negara-negara dengan ekonomi yang paling rentan, kata Okamura.

Menghadapi percepatan penghentian kebijakan pelonggaran di negara-negara maju, ekonomi di Asia bisa memilih satu dari dua pilihan. Yaitu, mendukung pertumbuhan dengan lebih banyak mengucurkan stimulus. Atau, menarik stimulus untuk menstabilkan utang dan inflasi, tutur Okamura.

Baca Juga: Setelah Lima Hari Bebas dari Infeksi Covid, Shanghai Kembali Mencatat Kasus Baru

IMF menggambarkan gaya pelonggaran yang dipertahankan Bank of Japang (BOJ) sebagai cukup efektif. Kendati, kebijakan BOJ itu bertentangan dengan tren global yang menuju pengetatan moneter. Semisal, bank sentral di Amerika Serikat, Inggris dan Australia telah menaikkan suku bunga.

Kesenjangan yang melebar antara suku bunga Jepang dan AS telah menjadi faktor utama di balik depresiasi yen baru-baru ini ke posisi terendah dua dekade.

"Anda sebagian besar dapat menjelaskan pergerakan baru-baru ini, terutama bulan lalu, dalam yen berdasarkan pada dasarnya kebijakan moneter global yang lebih ketat" termasuk Federal Reserve AS, kata Ranil Salgado, asisten direktur dan kepala misi Jepang di Departemen Asia dan Pasifik IMF.

"Depresiasi yen pada keseimbangan membantu Jepang," tambah Salgado, menggemakan pandangan Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda.

Baca Juga: Meski Ada Kebijakan Lockdown Ketat, Penjualan Mobil di China Masih Ngebut

Okamura, mantan wakil menteri keuangan Jepang untuk urusan internasional, mengatakan pandemi Covid-19, perang di Ukraina dan kondisi keuangan global yang lebih ketat akan membuat tahun ini "menantang" bagi Asia.

Perang itu mempengaruhi Asia melalui harga komoditas yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat di Eropa, katanya.

Berbicara di acara media pertamanya sejak menjadi salah satu dari empat wakil direktur pelaksana di pemberi pinjaman global pada bulan Desember, Okamura memperingatkan tentang prospek pengetatan yang lebih kuat jika ekspektasi inflasi terus "melayang".

"Ada risiko bahwa ekspektasi inflasi yang melayang dapat memerlukan pengetatan yang lebih kuat lagi," katanya, menyerukan kebijakan yang dikalibrasi dan komunikasi yang jelas.

Bagikan

Berita Terbaru

Bukan Sebatas Parkir Dana, Ada Pula Potensi Cuannya
| Senin, 09 Maret 2026 | 18:38 WIB

Bukan Sebatas Parkir Dana, Ada Pula Potensi Cuannya

Risiko berinvestasi sedang meningkat. Jika ingin parkir dana, simak alternatif aset likuid yang tak cuma aman, juga mumpuni menambah nilai aset.

Gaji Naik, Hati-Hati Pengeluaran Ikut Naik
| Senin, 09 Maret 2026 | 18:10 WIB

Gaji Naik, Hati-Hati Pengeluaran Ikut Naik

Kenaikan gaji sering diikuti oleh kenaikan pengeluaran. Simak cara mengatasinya.                    

ESG Chandra Asri (TPIA): Meninggalkan Jejak Hijau Gaya Hidup Berkelanjutan
| Senin, 09 Maret 2026 | 11:01 WIB

ESG Chandra Asri (TPIA): Meninggalkan Jejak Hijau Gaya Hidup Berkelanjutan

PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menyiapkan langkah keberlanjutan. Bukan hanya dengan strategi besar korporasi, tetapi juga l

Lonjakan Harga Komoditas dan Kebijakan Angkutan Batubara Bikin Saham RMKE Memesona
| Senin, 09 Maret 2026 | 09:15 WIB

Lonjakan Harga Komoditas dan Kebijakan Angkutan Batubara Bikin Saham RMKE Memesona

Aturan larangan truk angkutan batubara melintasi jalan umum milik provinsi menjadi katalis positif bagi RMKE.

Menakar Potensi Rebound Saham BBCA di Tengah Gencarnya Aksi Jual Investor Asing
| Senin, 09 Maret 2026 | 08:00 WIB

Menakar Potensi Rebound Saham BBCA di Tengah Gencarnya Aksi Jual Investor Asing

Sejumlah investor asing institusi menerapkan strategi averaging down seiring koreksi harga saham BBCA.

Free Float 15% dan Disclosure 1% Menjawab MSCI?
| Senin, 09 Maret 2026 | 07:46 WIB

Free Float 15% dan Disclosure 1% Menjawab MSCI?

Menjadikan batasan free float sebagai target tunggal berisiko membawa investor ke fetisisme angka.​ 

Pendapatan dan Laba Bersih Bumi Serpong Damai (BSDE) Kompak Turun Pada 2025
| Senin, 09 Maret 2026 | 07:37 WIB

Pendapatan dan Laba Bersih Bumi Serpong Damai (BSDE) Kompak Turun Pada 2025

Seiring turunnya pendapatan, laba bersih PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE)  ikut tergerus 41,6% secara tahunan menjadi Rp 2,54 triliun di 2025

Beban Pendapatan Membengkak Laba Bersih PGAS Terpangkas
| Senin, 09 Maret 2026 | 07:32 WIB

Beban Pendapatan Membengkak Laba Bersih PGAS Terpangkas

Laba bersih PGAS anjlok 36,54% (YoY) ke US$ 215,4 juta pada 2025, seiring beban pokok pendapatan bengkak 10% (YoY) jadi US$ 3,3 miliar pada 2025. 

Harga Nikel Anjlok, Saham Emiten Jeblok
| Senin, 09 Maret 2026 | 07:27 WIB

Harga Nikel Anjlok, Saham Emiten Jeblok

Seiring loyonya harga komoditas di pasar global, mayoritas harga saham emiten nikel di Bursa Efek Indonesia (BEI) ikut terkoreksi​.

Harga Minyak Dunia Melonjak, Margin Emiten Consumer Staples Berisiko Tergerus
| Senin, 09 Maret 2026 | 07:25 WIB

Harga Minyak Dunia Melonjak, Margin Emiten Consumer Staples Berisiko Tergerus

Lonjakan harga minyak dunia berdampak secara langsung dan tidak langsung terhadap emiten sektor barang konsumsi.

INDEKS BERITA

Terpopuler