Indonesia Semakin Gelap

Minggu, 16 Maret 2025 | 03:00 WIB
Indonesia Semakin Gelap
[ILUSTRASI. Jurnalis KONTAN Adi Wikanto. (Ilustrasi KONTAN/Indra Surya)]
Adi Wikanto | Redaktur Pelaksana

Tagar #IndonesiaGelap sempat viral bulan lalu. Tagar tersebut sebagai bentuk protes warga negara terhadap nasib bangsa Indonesia yang semakin suram akibat kinerja dan kebijakan pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang menyusahkan masyarakat.

Kini tampaknya Indonesia semakin gelap. Bahkan, kalimat yang pernah disampaikan Presiden Prabowo saat kampanye Pilpres 2019 bahwa Indonesia akan bubar tahun 2030 perlu kita waspadai.

Bagaimana tidak? Keuangan negara sudah tekor di awal 2025. Besar pasak daripada tiang, tapi Kementerian Keuangan sebagai bendahara negara menutupinya.

Hingga awal Maret 2025, belum ada publikasi kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun ini. Biasanya, publikasi kinerja APBN berlangsung rutin tiap bulan.

Hingga akhirnya, Kemenkeu mengumumkan kinerja APBN per Januari 2025 pada Rabu 12 Maret, meski pengumuman itu dicabut. Sehari kemudian, Kamis 13 Maret, Kemenkeu malah mengumumkan kinerja APBN per Februari 2025.

Baca Juga: Serangan Udara Israel Tewaskan Sedikitnya Lima Orang di Kota Gaza Utara

Hasilnya sama saja, APBN sudah tekor pada dua bulan pertama tahun 2025. Jumlah penerimaan pajak hingga Februari 2025 sebesar Rp 187,8 triliun, turun 30,19%.

Total pendapatan negara sebesar Rp 316,9 triliun, berkurang Rp 83,46 triliun atau 20,84% dari Februari 2024 yang sebesar Rp 400,36 triliun. Sedangkan realisasi belanja negara pada periode yang sama mencapai Rp 348,1 triliun.

Walhasil, APBN sudah defisit sebesar Rp 31,2 triliun. Ini tak seperti biasanya, yang surplus pada awal tahun. Seperti pada Februari 2024, APBN surplus Rp 26 triliun.

Saat kantong kas negara jebol, dompet masyarakat terutama kalangan menengah ke bawah juga semakin kempis. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat jumlah simpanan nasabah di bank dengan nominal di bawah Rp 100 juta menyusut 2,6% secara bulanan pada Januari 2025. Penurunan itu merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan nominal lainnya.

Usaha makan tabungan di kalangan menengah ke bawah diperkirakan terus berlanjut hingga Maret 2025 ini. Pasalnya, kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) marak terjadi belakangan ini. Puluhan ribu buruh di Sritex Group, PT Sanken Indonesia, Yamaha Music, KFC Indonesia, PT Tokai Kagu Indonesia, PT Danbi International, PT Bapintri, PT Adis Dimension Footwear dan PT Victriy Ching Luh telah kehilangan pekerjaan pada Januari-Maret 2025.

Selain itu, daya beli masyarakat juga semakin melemah. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan deflasi tahunan pada Februari 2025 sebesar 0,09%. Pada Januari 2025 juga sudah terjadi deflasi sebesar 0,76%.

Baca Juga: Kenaikan Tarif Royalti Minerba Tinggal Tunggu Peraturan Pemerintah

Pemerintah harus berani mengambil langkah strategis agar Indonesia tak semakin gelap. Efisiensi anggaran harus tetap dijalankan saat penerimaan pajak tersendat.

Namun, penghematan anggaran belanja harus dilakukan secara tepat, bukan sekadar potong dana belanja seperti yang belakangan terjadi. Sisir dahulu anggaran yang sekiranya tidak mendesak, sehingga bisa ditunda pelaksanaan hingga kondisi ekonomi membaik.

Lalu, percepat penyerapan anggaran yang mampu mendongkrak perekonomian nasional. Saat ekonomi sedang tidak baik-baik saja, keberadaan dana belanja negara penting untuk mendorong agresivitas sektor swasta. Jika anggaran pemerintah bisa menggerakkan perekonomian, kalangan menengah ke bawah tak butuh adanya bantuan sosial uang tunai.

Pemerintah pun perlu merevisi tata niaga impor. Maraknya PHK karena membanjirnya produk impor di dalam negeri.

Kemudian, kebijakan perpajakan yang menekan daya beli perlu ditinjau lagi. Kejam rasanya, saat ekonomi terpuruk, banyak tarif pajak naik.

 

Bagikan

Berita Terbaru

Harga Energi Berfluktuasi, RAJA Tetap Mengantongi Laba Tinggi
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:57 WIB

Harga Energi Berfluktuasi, RAJA Tetap Mengantongi Laba Tinggi

Laba bersih PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) tumbuh 100,44% yoy menjadi US$ 22,75 juta pada akhir semester pertama lalu.

Gubernur BI di Zaman yang Tak Pasti
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:13 WIB

Gubernur BI di Zaman yang Tak Pasti

Ukuran keberhasilan gubernur BI bukan popularitas atau ketenangan pasar selama satu-dua hari, melainkan kepercayaan.

Transparansi ETF Emas
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 10:55 WIB

Transparansi ETF Emas

Ingat, tanpa transparansi emas fisik dan jaminan likuiditas, maka ETF emas berisiko merugikan investor. 

Rapor Merah IPO BUMN Membayangi Rencana Danantara Boyong Pelat Merah ke Lantai Bursa
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 10:01 WIB

Rapor Merah IPO BUMN Membayangi Rencana Danantara Boyong Pelat Merah ke Lantai Bursa

Dari 13 BUMN dan anak usaha BUMN non-bank yang IPO sejak 2010, hanya PGEO yang sahamnya mampu bertahan di atas harga perdana.

Penjualan Ritel Juga Diperkirakan Menurun
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:16 WIB

Penjualan Ritel Juga Diperkirakan Menurun

Indeks Penjualan Riil (IPR) Juli 2026 diperkirakan berada di level 224,4, turun 0,7% per bulan      

Penerimaan Pajak Baru Setengah Target
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:11 WIB

Penerimaan Pajak Baru Setengah Target

Realisasi penerimaan pajak hingga akhir Juli 2026 baru mencapai 51% dari target                     

Kasus Korupsi Ekspor CPO 15 Perusahaan Sawit Masuk Pengadilan, Kerugian Rp 7,3 T
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:07 WIB

Kasus Korupsi Ekspor CPO 15 Perusahaan Sawit Masuk Pengadilan, Kerugian Rp 7,3 T

Skandal ini menjadi sorotan tajam setelah hasil audit BPKP mengungkap angka fantastis kerugian negara yang mencapai Rp 7,3 triliun.​

Usai Dapat Kontrak Rp 22 Triliun Saham DEWA Melandai, Investor Tunggu Pembuktian
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 08:38 WIB

Usai Dapat Kontrak Rp 22 Triliun Saham DEWA Melandai, Investor Tunggu Pembuktian

Efek kontrak Sebuku Sejaka Coal (SSC) ke EBITDA PT Darma Henwa Tbk (DEWA) diproyeksikan sekitar 4% pada 2026.

Saham Duo Garuda GIAA dan GMFI Kompak Terbang, Masih Aman Buat Dikejar?
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 08:10 WIB

Saham Duo Garuda GIAA dan GMFI Kompak Terbang, Masih Aman Buat Dikejar?

Kenaikan harga saham Grup Garuda, yakni GIAA dan GMFI dibumbui cerita soal aksi korporasi dan dukungan pemerintah.

Antara MSCI dan Indeks Kepercayaan Konsumen, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 07:44 WIB

Antara MSCI dan Indeks Kepercayaan Konsumen, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Investor juga cenderung wait and see menjelang review MSCI pada 12 Agustus. Ini katalis penting bagi arah IHSG dan aliran dana asing.

INDEKS BERITA

Terpopuler