Insiden KM Virgo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Insiden KM Virgo Transport 8 kembali mempertanyakan wajah keselamatan pelayaran Indonesia. Kapal rute Surabaya-Banjarmasin yang membawa 243 orang itu terbalik di Laut Jawa pada Minggu (13/9/2026). Hingga Kamis (17/9/2026), 114 orang ditemukan: 108 selamat, enam meninggal dunia, sementara 129 orang masih dalam pencarian.
Ini bukan kejadian yang berdiri sendiri. Basarnas mencatat 601 kecelakaan kapal di Indonesia terjadi sejak Januari-Agustus 2026, dengan 239 korban jiwa. Hanya sebulan sebelum KM Virgo terbalik, KM Mutiara Sentosa 2, kapal Ro-Ro lain yang mengangkut sekitar 250 orang dari Surabaya menuju Makassar, juga mengalami kebakaran di perairan utara Madura.
Rangkaian insiden pada kapal serupa ini semestinya sudah menjadi alarm, bukan sekadar catatan statistik tahunan.
Usia kapal yang dibangun pada 1987 menjadi sorotan, meski umur bukan satu-satunya ukuran kelaiklautan. Kapal tua bisa tetap laik berlayar jika dirawat ketat, sebagaimana kapal baru pun bisa mengalami kecelakaan jika pengawasan lemah. Dugaan pergeseran muatan kendaraan dan masuknya air menjadi dua kemungkinan penyebab yang masih harus dipastikan KNKT, termasuk kondisi fisik kapal sebelum berangkat dari Surabaya. Jika investigasi menemukan pelanggaran, persoalannya bukan semata cuaca, tetapi juga tata kelola muatan sebelum kapal meninggalkan pelabuhan.
Sistem peringatan darurat juga harus diusut. Kesaksian penumpang yang masih tertidur saat kapal mulai oleng, tanpa mendengar alarm, menimbulkan pertanyaan soal kapan keadaan darurat diketahui dan kapan peringatan diberikan. Dalam situasi seperti ini, keterlambatan beberapa menit bisa berarti hilangnya kesempatan menyelamatkan diri.
Investigasi tidak boleh berhenti pada penyebab teknis semata. Rantai pengawasan dari pemilik kapal, Biro Klasifikasi Indonesia (BKI), hingga Syahbandar atau KSOP perlu diperiksa menyeluruh. Presiden Prabowo Subianto telah meminta investigasi mendalam dan objektif, sementara Komisi III DPR RI mendorong agar cuaca buruk tidak menjadi satu-satunya alasan.
Instruksi itu harus berujung pada jawaban dan perbaikan nyata: apa yang terjadi, apakah standar keselamatan dipenuhi, dan di titik mana pengawasan gagal mencegah jatuhnya korban. Sebab, kapal-kapal Ro-Ro lainnya masih berlayar dengan risiko yang sama.
