Menteri Keuangan di Antara Dua Tuan
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konon, seorang kakek kehilangan kudanya. Para tetangga menganggapnya sial. Sang kakek hanya menjawab, belum tentu. Beberapa waktu kemudian kudanya kembali bersama beberapa kuda liar. Para tetangga menyebutnya keberuntungan. Sang kakek kembali menjawab, belum tentu. Anaknya kemudian jatuh ketika menunggang salah satu kuda itu dan kakinya patah. Para tetangga kembali menyebutnya sial. Lagi-lagi jawabannya sama, belum tentu. Tidak lama kemudian perang pecah dan para pemuda desa diwajibkan berangkat, kecuali anak sang kakek yang kakinya patah.
Cerita itu tidak mengajarkan bahwa setiap kemalangan pada akhirnya membawa keberuntungan. Ia mengingatkan kecenderungan manusia untuk terlalu cepat mengambil kesimpulan atas suatu keadaan. Kita melihat sebuah peristiwa, memberi penilaian, lalu memperlakukannya seolah seluruh rangkaian sebab dan akibat telah selesai memberi makna. Apakah itu hindsight atau insight seolah tidak penting.
