Integritas yang Rapuh di Birokrasi

Rabu, 27 Agustus 2025 | 03:46 WIB
Integritas yang Rapuh di Birokrasi
[ILUSTRASI. Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer (kedua kiri) bersama tersangka lainnya berjalan menuju ruang konferensi pers usai terjaring OTT KPK di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Jumat (22/8/2025). KPK menetapkan Wamenaker Immanuel Ebenezer bersama 10 orang lainnya sebagai tersangka kasus pemerasa pengurusan sertifikat Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Kementerian Ketenagakerjaan. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/foc.]
Dwi Purwanto | Governance Analyst Pratama Institute for Fiscal Policy & Governance Studies

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang membuat publik terhenyak. Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer atau Noel, ditangkap dalam dugaan pemerasan terkait pengurusan sertifikat Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker).

Dari operasi itu, KPK menyita uang, puluhan mobil, dan sepeda motor mewah merek Ducati, sebuah barang yang seakan menjadi simbol betapa kekuasaan bisa tergelincir ketika integritas dikesampingkan.

Reaksi cepat datang dari Istana. Presiden Prabowo Subianto menyatakan keprihatinannya sekaligus menegaskan bahwa pemerintah menghormati proses hukum yang berjalan. Presiden juga mengingatkan para menteri dan wakil menteri agar tidak menyalahgunakan jabatan, serta menjaga semangat pemberantasan korupsi sebagai fondasi tata kelola pemerintahan yang baik. 

Baca Juga: Danantara Dikabarkan bakal Menerbitkan Patriot Bond Senilai Rp 50 Triliun

Dari internal kementerian, Menteri Ketenagakerjaan Yasierli mengaku terpukul oleh kasus ini yang menimpa wakilnya. Ia mendukung penuh langkah KPK dan segera meminta seluruh jajaran Kemenaker menandatangani pakta integritas. Ia juga menegaskan siap mencopot siapa pun yang terbukti melakukan korupsi tanpa kompromi.

Namun, di situlah letak ironinya. Kasus Noel justru muncul di tengah upaya Kementerian Ketenagakerjaan membenahi birokrasi dengan fokus pada integritas, profesionalisme dan layanan publik. Meski asas praduga tak bersalah tetap dijunjung, publik menangkap sinyal lain bahwa komitmen antikorupsi di birokrasi masih rapuh, lebih mudah roboh oleh godaan kepentingan sesaat ketimbang tegak menjaga kepercayaan rakyat.

Pola yang berulang

Persoalan ini pun bukanlah kasus tunggal. Sebelumnya publik masih mengingat dugaan korupsi kuota haji pada era Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas terkait pembagian kuota tambahan dari Pemerintah Arab Saudi. Pola yang berulang menunjukkan bahwa pencegahan korupsi belum berhasil membangun budaya antikorupsi yang kokoh. 

Baca Juga: Memantau Geliat Industri Bank Kustodian di Tahun 2025

Statistik global memperkuat pernyataan itu. Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia pada 2024 memang naik tiga poin, dari 34 menjadi 37. Tapi peringkat Indonesia hanya naik tipis ke posisi 99 dari 180 negara, jauh di bawah rata-rata global 44. Sejak 2015, skor Indonesia nyaris stagnan, bergerak hanya satu poin. Transparency International menyebutkan kenaikan ini tak signifikan. Dengan kata lain, riak kecil itu tak cukup menutupi arus besar persoalan. 

Kasus Noel pun merupakan bagian dari sistem yang rapuh dan mudah ditembus. Sejumlah skandal besar pun mencerminkan betapa mahalnya harga yang harus dibayar. Manipulasi impor minyak di Pertamina, misalnya, ditaksir merugikan negara hingga Rp 193,7 triliun. Atau pengadaan Chromebook di Kemendikbudristek senilai Rp 9,9 triliun, yang hingga kini masih meninggalkan tanda tanya besar karena barang yang dibeli justru tak efektif digunakan.

Langkah konkret

Fakta-fakta ini memberi pesan jelas bahwa integritas birokrasi tidak bisa hanya disandarkan pada individu, melainkan harus ditopang oleh sistem pengawasan yang kuat. Pertanyaannya, bagaimana menjaga kepercayaan publik? 

Baca Juga: Saham TLKM Tetap di Atas 3.000 di Tengah Jual-Beli oleh JP Morgan & Credit Agricole

Jawabannya tentu bukan dengan retorika, melainkan langkah konkret. Pertama, membangun whistleblowing system yang efektif, termasuk perlindungan nyata bagi pelapor pelanggaran (whistleblower). Survei ACFE Report to The Nation 2016 mencatat, sebagian kasus besar terungkap berkat keberanian orang dalam, namun keberanian itu sering tidak mendapat jaminan perlindungan yang memadai. 

Kedua, memperluas digitalisasi layanan publik. Digitalisasi terbukti memangkas ruang interaksi rawan pungli. Data Kementerian PAN-RB mencatat, layanan digital di sejumlah daerah berhasil menurunkan hingga 40% aduan pungutan liar. Sayangnya, implementasi ini belum merata, terutama di daerah jauh dari pusat.

Ketiga, meningkatkan transparansi dalam pengadaan barang dan jasa, promosi jabatan, serta pelaporan kinerja. Kasus Chromebook dan proyek bermasalah lain membuktikan bahwa ketertutupan informasi hanya membuka jalan bagi penyimpangan. Keterbukaan anggaran dan kontrak bukan lagi wacana, melainkan kebutuhan mendesak agar publik bisa ikut mengawasi. 

Baca Juga: Belanja Perpajakan Tak Ungkit Industri Pengolahan

Keempat, menegakkan hukum tanpa pandang bulu dan tebang pilih. Sebab kajian Lembaga Survei Indonesia tahun 2023 mencatat, kepercayaan publik terhadap Kepolisian hanya 63%, lebih rendah dari KPK (64%), dan jauh tertinggal dari TNI (91%). Angka-angka ini menunjukkan bahwa publik mulai meragukan ketegasan penegak hukum.

Melalui keempat langkah strategis tersebut, diharapkan kepercayaan publik bisa dipulihkan. Sebab kasus Noel sekali lagi memperlihatkan rapuhnya fondasi kepercayaan terhadap birokrasi. Padahal, kepercayaan adalah modal utama dalam mengelola negara. Tanpanya, legitimasi pemerintah mudah terkikis.

Oleh karena itu, memperkuat integritas dan komitmen antikorupsi bukan sekadar agenda teknokratis, melainkan syarat mutlak agar reformasi birokrasi benar-benar hidup dalam praktik. Aparatur negara dituntut bukan hanya profesional, tetapi juga bersih dan transparan.

Jika tidak, kasus seperti Noel hanyalah satu bab dari kisah panjang rapuhnya integritas birokrasi Indonesia, yaitu sebuah kisah yang semestinya segera kita akhiri. 

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Sikap Hawkish The Fed Bikin Bitcoin Kembali Tertekan
| Selasa, 01 September 2026 | 06:15 WIB

Sikap Hawkish The Fed Bikin Bitcoin Kembali Tertekan

Pergerakan harga bitcoin (BTC) kembali tertekan, setelah sempat menembus level US$ 81.000 pada akhir pekan lalu

Informasi Material
| Selasa, 01 September 2026 | 06:10 WIB

Informasi Material

Harapan agar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegakkan aturan main tanpa pandang bulu, tentu tidak pernah padam.

Ekonomi Belum Tentu Terangkat Belanja
| Selasa, 01 September 2026 | 06:05 WIB

Ekonomi Belum Tentu Terangkat Belanja

Belanja pemerintah pusat dalam RAPBN 2027 dialokasikan Rp 3.362,2 triliun, naik 3,6% dibandingkan outlook 2026

Strategi Darma Henwa Tbk (DEWA) Dongkrak Volume Tambang
| Selasa, 01 September 2026 | 06:00 WIB

Strategi Darma Henwa Tbk (DEWA) Dongkrak Volume Tambang

PT Darma Henwa Tbk (DEWA) mendapat sentimen positif dari perolehan kontrak baru PT Sebuku Sejaka Coal (SSC)

Asuransi Jiwa Genjot Koleksi Surat Utang
| Selasa, 01 September 2026 | 05:45 WIB

Asuransi Jiwa Genjot Koleksi Surat Utang

Sepanjang semester I-2025, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat, hasil investasi industri minus Rp 2,47 triliun. 

Bidik Devisa Wisata US$ 28 Miliar di 2027
| Selasa, 01 September 2026 | 05:35 WIB

Bidik Devisa Wisata US$ 28 Miliar di 2027

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendapat pagu anggaran kementerian sebesar Rp 1,51 triliun untuk tahun depan.

Tunjangan Khusus Tenaga Kesehatan di Daerah 3T
| Selasa, 01 September 2026 | 05:25 WIB

Tunjangan Khusus Tenaga Kesehatan di Daerah 3T

Kebijakan tersebut disiapkan untuk mendorong pemerataan distribusi tenaga kesehatan ke wilayah yang masih kekurangan dokter.​

Ekonomi Naik Kelas, Masyarakat Tertinggal
| Selasa, 01 September 2026 | 05:20 WIB

Ekonomi Naik Kelas, Masyarakat Tertinggal

Indonesia di posisi keempat dengan tingkat kemiskinan tertinggi versi World Bank dari 11 negara ASEAN dan beberapa negara peers                   

Lonjakan Harga Pangan Memasuki September
| Selasa, 01 September 2026 | 05:15 WIB

Lonjakan Harga Pangan Memasuki September

Harga sejumlah bahan pangan di pasaran, terutama daging ayam, mengalami lonjakan yang cukup signifikan di pasaran.

Parameter Bencana Nasional Perlu Indikator Akurat
| Selasa, 01 September 2026 | 05:05 WIB

Parameter Bencana Nasional Perlu Indikator Akurat

Mahkamah Konstitusi menitahkan penentuan paramater bencana nasional cukup menggunakan tiga indikator dari sebelumnya lima indikator.

INDEKS BERITA