Investor Cemaskan Tencent, Saham Game di AS dan Eropa Ikut Tertekan

Selasa, 03 Agustus 2021 | 23:06 WIB
Investor Cemaskan Tencent, Saham Game di AS dan Eropa Ikut Tertekan
[ILUSTRASI. Logo Tencent terlihat dalam acara World Internet Conference (WIC) di Wuzhen, Provinsi Zhejiang, China, 23 November 2020. REUTERS/Aly Song/File Photo]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - LONDON. Saham perusahaan game yang tercatat di bursa Amerika Serikat (AS) dan Eropa, Selasa (3/8), melandai menyusul aksi jual yang melanda saham Tencent. Raksasa media sosial dan video game asal China tertekan oleh kekhawatiran sektor game merupakan bidikan pihak oritas China berikutnya.

Saham Prosus yang tercatat di bursa Amsterdam melemah 7%. Prosus merupakan perusahaaan yang berinvestasi di berbagai perusahaan teknologi, termasuk memiliki 29% saham Tencent. Sementara saham emiten video game online di bursa Eropa: Ubisoft, Embracer Group dan Frontier Developments turun sekitar 4%. Tencent memiliki 9% saham Frontier.

Di Wall Street, saham video game Activision Blizzard , Electronic Arts, Take-Two Interactive Software dan Zynga turun di kisaran 3% dan 9%.

Baca Juga: Wall Street turun, investor ambil untung di tengah kekhawatiran kasus Covid-19

Pelemahan saham emiten game di bursa Eropa dan AS mengikuti kejatuhan Tencent di bursa Hong Kong. Pada satu titik Tencent terjun lebih dari 10% setelah sebuah media Pemereintah China menyebut game online sebagai candu bagi jiwa Penurunan itu menggerus nilai kapitalisasi pasar Tencent hingga US$ 60 miliar.

Beropini bahwa banyak anak di bawah umur yang kecanduan game online, artikel yang dipublikasikan oleh media yang berafiliasi dengan kantor berita Pemerintah Tiongkok, Xinhua itu, menyebut Honor of Kings, salah satu game besutan Tencet sebagai contoh. Artikel itu mendesak Beijing untuk melakukan lebih banyak pembatasan di industri game.

Analis di Citi memperkirakan berita itu tidak memiliki dampak operasional yang besar pada perusahaan game di luar China. Namun apa yang terjadi di bursa Eropa dan AS menunjukkan betapa gelisahnya pasar pada topik regulasi teknologi China.

Baca Juga: Berkat Cuitan Kim Kardashian, Kini Afterpay Akan Diakuisisi Seharga US$ 29 Miliar

"Ini mengingatkan akan risiko regulasi di pasar yang berada di titik tertingginya sepanjang masa, di mana beberapa orang ingin mengunci keuntungan. Karena itu kami melihat sejumlah kecil penularan,” ujar Grace Peters, kepala strategi investasi EMEA di JP Morgan Private Bank.

Kekhawatiran Investor akan campur tangan pemerintah di sektor bisnis semakin meningkat. Beijing baru-baru ini menargetkan sektor properti, pendidikan dan teknologi.

Analis Equita Gianmarco Bonacina menurunkan rekomendasi untuk saham Prosus menjadi tahan dari beli, dengan alasan Tencent menghadapi peningkatan risiko peraturan. “Kami percaya bahwa risiko regulasi yang membatasi juga pada game sekarang lebih konkret,” katanya.

Pada perdagangan Selasa (3/8), Tencent sempat tergusur, dalam waktu yang singkat, dari posisi sebagai perusahaan paling berharga di Asia oleh pembuat chip Taiwan Semiconductor Manufacturing Co Ltd.

Selanjutnya: Valuasi Perusahaan Teknologi China Tergerus Aturan

 

Bagikan

Berita Terbaru

Antisipasi Risiko Volatil di Kuartal II 2026, Tambah Portofolio Aset Defensif
| Selasa, 31 Maret 2026 | 13:49 WIB

Antisipasi Risiko Volatil di Kuartal II 2026, Tambah Portofolio Aset Defensif

Sentimen global dan domestik bikin kinerja pasar modal melempem pada kuartal pertama. Simak saran portofolio menghadapi kuartal II 2026!

Restrukturisasi Utang saat Sulit Membayar Cicilan
| Selasa, 31 Maret 2026 | 13:11 WIB

Restrukturisasi Utang saat Sulit Membayar Cicilan

Terkadang, terdapat kondisi seseorang kesulitan membayar utang. Dibanding gagal bayar, ada opsi restrukturisasi.

Kinerja Paling Buruk di ASEAN, IHSG Kehilangan Daya Tarik di Tengah Gejolak Global
| Selasa, 31 Maret 2026 | 08:25 WIB

Kinerja Paling Buruk di ASEAN, IHSG Kehilangan Daya Tarik di Tengah Gejolak Global

Kondisi domestik dan respons kebijakan pemerintah RI menjadi alasan bagi investor asing untuk keluar dari pasar saham.

Produksi Batubara Turun, BUMA Internasional Grup (DOID) Cetak Rugi US$ 128 Juta
| Selasa, 31 Maret 2026 | 08:20 WIB

Produksi Batubara Turun, BUMA Internasional Grup (DOID) Cetak Rugi US$ 128 Juta

Kerugian PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) dipicu penurunan EBITDA, penyisihan piutang usaha dari kontrak di Australia yang telah berakhir.

Penjualan Melejit Dua Digit, Laba  Archi Indonesia (ARCI) Melesat 873% Pada 2025
| Selasa, 31 Maret 2026 | 08:15 WIB

Penjualan Melejit Dua Digit, Laba Archi Indonesia (ARCI) Melesat 873% Pada 2025

Mayoritas pendapatan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) pada 2025 berasal dari pelanggan domestik sebesar US$ 399,86 juta. 

Layanan Berbasis AI Meningkat, ­DCII Siap Memperbesar Kapasitas Pusat Data
| Selasa, 31 Maret 2026 | 08:09 WIB

Layanan Berbasis AI Meningkat, ­DCII Siap Memperbesar Kapasitas Pusat Data

PT DCI Indonesia Tbk (DCII) menyiapkan strategi untuk memenuhi tingginya permintaan data center. Salah satunya, membangun kapasitas baru.

Penjualan Rokok Elektrik IQOS Terbang, bisa Jadi Game Changer untuk Saham HMSP?
| Selasa, 31 Maret 2026 | 08:05 WIB

Penjualan Rokok Elektrik IQOS Terbang, bisa Jadi Game Changer untuk Saham HMSP?

Sepanjang tahun lalu HMSP mencatatkan penjualan IQOS melesat 43,8% hingga menyentuh Rp 2,44 triliun.

Harga Batubara Naik, Kinerja Emiten bisa Membaik
| Selasa, 31 Maret 2026 | 08:02 WIB

Harga Batubara Naik, Kinerja Emiten bisa Membaik

Tren lonjakan harga batubara di pasar global bisa jadi katalis kinerja emiten batubara pada tahun 2026.

Poultry Bersinar di Awal Tahun, Akankah Bertahan Hingga Akhir 2026?
| Selasa, 31 Maret 2026 | 07:06 WIB

Poultry Bersinar di Awal Tahun, Akankah Bertahan Hingga Akhir 2026?

Laba dua emiten besar sektor ini, yakni CPIN dan JPFA, berpotensi melampaui ekspektasi pasar pada awal tahun.

Kinerja BLOG Ditopang Bisnis Logistik Cold Chain
| Selasa, 31 Maret 2026 | 06:49 WIB

Kinerja BLOG Ditopang Bisnis Logistik Cold Chain

Mengutip laporan keuangan perusahaan, BLOG mencatat pendapatan sebesar Rp 1,33 triliun, meningkat 23% dibandingkan tahun sebelumnya.

INDEKS BERITA

Terpopuler