Jam Kiamat

Jumat, 27 Januari 2023 | 08:00 WIB
Jam Kiamat
[]
Reporter: SS. Kurniawan | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Doomsday Clock atawa Jam Kiamat, dua kata ini belakangan jadi perbincangan. Bagaimana tidak? Selasa (24/1) lalu, ilmuwan atom menyetel Jam Kiamat lebih dekat ke tengah malam dibanding posisi sebelumnya.

Invasi Rusia ke Ukraina menempatkan umat manusia pada risiko pemusnahan yang lebih besar, yang mendorong sejumlah ilmuwan atom mengubah jarum Jam Kiamat lebih dekat ke tengah malam. Sebab, perang Rusia-Ukraina yang hampir berkecamuk hampir satu tahun telah menghidupkan kembali ketakutan akan perang nuklir.

Jam Kiamat, yang dibuat oleh Bulletin of the Atomic Scientists untuk mengilustrasikan betapa dekatnya umat manusia dengan akhir dunia, bergeser "waktunya" pada 24 Januari 2023 menjadi 90 detik menuju tengah malam. Atau, 10 detik lebih dekat dibanding posisi sebelumnya dalam tiga tahun terakhir.

Ancaman apokaliptik yang tercermin dari Jam Kiamat termasuk perubahan iklim. Emisi karbon dioksida global dari pembakaran bahan bakar fosil kembali meningkat di 2022 dan mencapai rekor tertinggi baru, menyusul pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19.

Memang, banyak negara, tak terkecuali Indonesia, berlomba mengurangi emisi karbon. Salah satunya, Indonesia tunjukkan dengan mengerek target Enhanced Nationally Determined Contribution (E-NDC) menjadi 32% atau setara 912 juta ton CO2 pada 2030. Target sebelumnya, sebesar 29% atau setara dengan 835 juta ton CO2.

Untuk memangkas emisi karbon, pemerintah tahun ini memulai perdagangan karbon secara komersial, dengan target menekan 500.000 ton CO2 per tahun.

Rencananya, 99 pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) bakal ikut skema perdagangan karbon yang bergulir awal tahun ini. Sektor kelistrikan adalah salah satu penyumbang emisi karbon terbesar di Indonesia, mencapai 250 juta ton CO2 per tahun.

Dalam jangka panjang, pemerintah bakal menghentikan operasional seluruh pembangkit listrik berbahan bakar batubara secara bertahap lewat program pensiun dini.

Selain itu, pemerintah berambisi menjadikan Indonesia salah satu pusat ekosistem kendaraan listrik di dunia. Pemerintah menargetkan, populasi kendaraan listrik yang meningkat bisa memangkas hingga 3,8 juta ton CO2 hingga 2030.

Tentu, dengan segala aksi pengurangan emisi karbon, tidak hanya di Indonesia pastinya, jarum Jam Kiamat bisa berjalan mundur, bergerak menjauh dari akhir dunia.

Bagikan

Berita Terbaru

A$1,6 Triliun Dana Pensiun Australia Siap Guyur RI, Ini Proyek Incaran!
| Rabu, 04 Februari 2026 | 14:59 WIB

A$1,6 Triliun Dana Pensiun Australia Siap Guyur RI, Ini Proyek Incaran!

Misi bisnis Australia lebih konkret, dengan investor institusi A$ 1,6 triliun mencari peluang di Indonesia. Pahami mengapa mereka tertarik.

Hubungan Dagang Australia–Indonesia Menguat, Investasi Energi Hijau Jadi Fokus
| Rabu, 04 Februari 2026 | 14:41 WIB

Hubungan Dagang Australia–Indonesia Menguat, Investasi Energi Hijau Jadi Fokus

Hubungan ekonomi Indonesia-Australia makin solid. Austrade ungkap potensi investasi di energi hijau, SDM, dan hilirisasi. Cek sektor prioritasnya!

Penjualan BBM dan Lahan JIIPE Melesat, Potensi Dividen dari Saham AKRA Menggoda
| Rabu, 04 Februari 2026 | 09:35 WIB

Penjualan BBM dan Lahan JIIPE Melesat, Potensi Dividen dari Saham AKRA Menggoda

Total penjualan lahan industri PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) sepanjang tahun 2025 tembus 84 hektare (ha).

Batas Atas Investasi Asuransi & Dapen di Saham Naik, Penegak Hukum Harus Paham Pasar
| Rabu, 04 Februari 2026 | 09:05 WIB

Batas Atas Investasi Asuransi & Dapen di Saham Naik, Penegak Hukum Harus Paham Pasar

Investasi dapen dan asuransi bisa menjadi buffer namun mereka harus diberikan kepastian hukum agar tak jadi korban di kemudian hari.

Seminggu Terbang 23%, Saham Samator (AGII) Jadi Primadona di Tengah Pasar yang Labil
| Rabu, 04 Februari 2026 | 08:14 WIB

Seminggu Terbang 23%, Saham Samator (AGII) Jadi Primadona di Tengah Pasar yang Labil

Permintaan gas industri mayoritas datang dari pelanggan tetap dengan kontrak jangka menengah hingga panjang.

Fundamental Kuat, Prospek Phapros (PEHA) Masih Sehat
| Rabu, 04 Februari 2026 | 07:42 WIB

Fundamental Kuat, Prospek Phapros (PEHA) Masih Sehat

Prospek PT Phapros Tbk (PEHA) pada 2026 dinilai semakin membaik seiring perbaikan fundamental kinerja dan fokus bisnis ke produk bermargin tinggi.

MSCI Effect Menghantam Saham Konglomerasi, Duo Indofood ICBP dan INDF Justru Menari
| Rabu, 04 Februari 2026 | 07:39 WIB

MSCI Effect Menghantam Saham Konglomerasi, Duo Indofood ICBP dan INDF Justru Menari

Jauh sebelum badai MSCI menghantam IHSG, saham INDF dan ICBP sejatinya sudah berada di fase bearish.

Sinergi Inti Andalan Prima (INET) Menuntaskan Akuisisi Saham PADA
| Rabu, 04 Februari 2026 | 07:37 WIB

Sinergi Inti Andalan Prima (INET) Menuntaskan Akuisisi Saham PADA

PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) telah membeli sekitar 1,68 juta saham PADA di harga Rp 63 per saham.  

Saham EXCL Paling Banyak Dibeli Investor Asing, Vanguard & Dimensional Tambah Muatan
| Rabu, 04 Februari 2026 | 07:10 WIB

Saham EXCL Paling Banyak Dibeli Investor Asing, Vanguard & Dimensional Tambah Muatan

Investor asing tertarik dengan EXCL seiring potensi perbaikan kinerja setelah proses merger dengan Smartfren Telecom selesai.

Kurs Rupiah Menguat 0,26% Lawan Dolar AS, Ada Apa di Baliknya?
| Rabu, 04 Februari 2026 | 06:45 WIB

Kurs Rupiah Menguat 0,26% Lawan Dolar AS, Ada Apa di Baliknya?

Penguatan rupiah didorong oleh membaiknya sentimen risiko (risk-on) di pasar global akibat berita kesepakatan tarif antara AS dengan India.

INDEKS BERITA

Terpopuler