Ketimun Naik Kelas
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kabar dampak dari kemarau kembali menghiasi ruang publik. Mulai dari tanah yang kering dan retak, sawah yang mengering, ancaman gagal panen, hingga kesulitan memperoleh air bersih menjadi kabar yang silih berganti muncul di berbagai media. Situasi ini sudah diproyeksikan jauh-jauh hari oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Dalam prediksi yang disampaikan April lalu, BMKG sudah memperkirakan musim kemarau tahun ini berlangsung hingga Oktober bahkan November dengan puncak kemarau akan terjadi bulan ini dan Agustus 2026. BMKG juga menyebut, musim kemarau kali ini cenderung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Dampaknya kini mulai terasa di berbagai sektor. Ada padi yang menguning sebelum musim panen datang. Krisis air bersih juga menghantui warga di berbagai wilayah, terutama di kawasan Pantai Utara Jawa. Kemarau juga merembet ke dapur rumah tangga karena naiknya komoditas pangan dan sayuran.
Salah satunya adalah ketimun. Jika dua bulan lalu harganya masih Rp 10.000 per kilogram (kg), kini di sejumlah pasar harganya menembus Rp 20.000 hingga Rp 25.000 per Kg. Komoditas yang selama ini identik dengan harga murah dan mudah diperoleh itu kini ikut merasakan tekanan akibat berkurangnya pasokan dari sentra produksi.
Kenaikan harga ketimun terlihat sepele ketimbang ancaman gagal panen padi atau krisis air bersih. Namun, fenomena ini sesungguhnya menjadi indikator bahwa dampak kemarau telah terasa. Ketimun yang memiliki masa tanam 50-70 hari saja sudah terdampak oleh kekeringan. Bukan tak mungkin, padi yang memiliki masa tanam lebih panjang 90-130 hari juga terimbas oleh kekurangan pasokan air.
Di sisi lain, Indonesia merupakan salah satu negara dengan curah hujan tertinggi di dunia. Namun, melimpahnya pasokan air saat musim hujan belum mampu menjamin ketersediaan air ketika kemarau tiba. Infrastruktur yang dibangun cenderung memprioritaskan air masuk ke laut ketimbang disimpan atau dikonservasi.
Kondisi ini diperparah oleh rusaknya hutan dan berkurangnya kawasan resapan air. Hutan yang seharusnya berfungsi sebagai "mesin penyimpan air" justru kehilangan kemampuannya akibat alih fungsi lahan dan degradasi lingkungan.
Jika hari ini dan kemarin harga ketimun sudah tak lagi murah. Besok bisa jadi cabai, bawang, atau bahkan beras menyusul ketimun.
