Ketimun Naik Kelas

Selasa, 21 Juli 2026 | 08:26 WIB
Ketimun Naik Kelas
[ILUSTRASI. Asnil Bambani Amri (KONTAN/Indra Surya)]
Asnil Bambani | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kabar dampak dari kemarau kembali menghiasi ruang publik. Mulai dari tanah yang kering dan retak, sawah yang mengering, ancaman gagal panen, hingga kesulitan memperoleh air bersih menjadi kabar yang silih berganti muncul di berbagai media. Situasi ini sudah diproyeksikan jauh-jauh hari oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Dalam prediksi yang disampaikan April lalu, BMKG sudah memperkirakan musim kemarau tahun ini berlangsung hingga Oktober bahkan November dengan puncak kemarau akan terjadi bulan ini dan Agustus 2026. BMKG juga menyebut, musim kemarau kali ini cenderung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal.

Dampaknya kini mulai terasa di berbagai sektor. Ada padi yang menguning sebelum musim panen datang. Krisis air bersih juga menghantui warga di berbagai wilayah, terutama di kawasan Pantai Utara Jawa. Kemarau juga merembet ke dapur rumah tangga karena naiknya komoditas pangan dan sayuran.

Salah satunya adalah ketimun. Jika dua bulan lalu harganya masih Rp 10.000 per kilogram (kg), kini di sejumlah pasar harganya menembus Rp 20.000 hingga Rp 25.000 per Kg. Komoditas yang selama ini identik dengan harga murah dan mudah diperoleh itu kini ikut merasakan tekanan akibat berkurangnya pasokan dari sentra produksi.

Kenaikan harga ketimun terlihat sepele ketimbang ancaman gagal panen padi atau krisis air bersih. Namun, fenomena ini sesungguhnya menjadi indikator bahwa dampak kemarau telah terasa. Ketimun yang memiliki masa tanam 50-70 hari saja sudah terdampak oleh kekeringan. Bukan tak mungkin, padi yang memiliki masa tanam lebih panjang 90-130 hari juga terimbas oleh kekurangan pasokan air.

Di sisi lain, Indonesia merupakan salah satu negara dengan curah hujan tertinggi di dunia. Namun, melimpahnya pasokan air saat musim hujan belum mampu menjamin ketersediaan air ketika kemarau tiba. Infrastruktur yang dibangun cenderung memprioritaskan air masuk ke laut ketimbang disimpan atau dikonservasi.

Kondisi ini diperparah oleh rusaknya hutan dan berkurangnya kawasan resapan air. Hutan yang seharusnya berfungsi sebagai "mesin penyimpan air" justru kehilangan kemampuannya akibat alih fungsi lahan dan degradasi lingkungan.

Jika hari ini dan kemarin harga ketimun sudah tak lagi murah. Besok bisa jadi cabai, bawang, atau bahkan beras menyusul ketimun.

Bagikan

Berita Terbaru

BEI Akan Evaluasi Saham HSC Tiap 3 Bulan, Apa Dampaknya bagi IHSG?
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 15:46 WIB

BEI Akan Evaluasi Saham HSC Tiap 3 Bulan, Apa Dampaknya bagi IHSG?

BEI akan mengevaluasi saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) setiap tiga bulan. 

Realisasi Investasi Meningkat, PMDN Justru Turun 7,48% pada Kuartal III-2026
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 15:03 WIB

Realisasi Investasi Meningkat, PMDN Justru Turun 7,48% pada Kuartal III-2026

Kementerian Investasi dan Hilirisasi mencatat, realisasi investasi pada kuartal III-2026 mencapai Rp 528,7 triliun, tumbuh 7,59% secara tahunan.​

UMKM Merasa Dua Tahun Terakhir Situasi Lebih Sulit dibandingkan Saat Pandemi
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:00 WIB

UMKM Merasa Dua Tahun Terakhir Situasi Lebih Sulit dibandingkan Saat Pandemi

Keterbatasan modal, UMKM sulit mengikuti lelang/tender proyek-proyek pemerintah karena secara kapasitas produksi dan modal tidak akan mencukupi.

Pasar Saham Anjlok, Asing Lari ke SBN: Intip Strategi dan Tenor Obligasi Paling Cuan
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:00 WIB

Pasar Saham Anjlok, Asing Lari ke SBN: Intip Strategi dan Tenor Obligasi Paling Cuan

Peningkatan realisasi belanja dan kebutuhan pembiayaan pada kuartal IV berpotensi menambah tekanan pasokan SBN.

SCMA Membagikan Dividen Interim Rp 533,43 Miliar
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:49 WIB

SCMA Membagikan Dividen Interim Rp 533,43 Miliar

PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) mengumumkan akan membagikan dividen interim kepada pemegang saham sebesar Rp 533,43 miliar.​

Manajemen DSSA Buka Suara Soal Sanksi OJK
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:44 WIB

Manajemen DSSA Buka Suara Soal Sanksi OJK

Manajemen PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) buka suara perihal sanksi yang diberikan OJK terkait dugaan manipulasi perdagangan saham.

Tiga Emiten Tersangkut Pemeriksaan OJK, Buyback Rp 2,5 Triliun Usai Saham Anjlok
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:43 WIB

Tiga Emiten Tersangkut Pemeriksaan OJK, Buyback Rp 2,5 Triliun Usai Saham Anjlok

Aksi buyback dengan total anggaran Rp 2,5 triliun berpotensi membantu meredam tekanan jual dan menjaga stabilitas harga.

Emiten Big Caps Buyback Saham Saat Pasar Tertekan
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:38 WIB

Emiten Big Caps Buyback Saham Saat Pasar Tertekan

Emiten berkapitalisasi besar di BEI, dari BREN hingga BBCA menyisihkan anggaran jumbo untuk buyback saham.

Bursa Butuh Dana Institusi Domestik Saat Tekanan Jual Asing Semakin Mencekik
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:26 WIB

Bursa Butuh Dana Institusi Domestik Saat Tekanan Jual Asing Semakin Mencekik

Investor institusi domestik bisa jadi penyangga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah tekanan jual investor asing​.

Aturan ARB 7% Berlaku, Penurunan Saham Big Cap Bisa Diredam Sementara Waktu
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:00 WIB

Aturan ARB 7% Berlaku, Penurunan Saham Big Cap Bisa Diredam Sementara Waktu

Saham big caps dengan likuiditas tinggi dan fundamental kuat lebih mampu menyerap tekanan jual, meski tak otomatis kebal terhadap outflow asing.

INDEKS BERITA

Terpopuler