Sinyal Hawkish Datang Dari AS, Rupiah Terancam Kembali Merosot ke Rp 18.000?
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penguatan rupiah yang dicatat sepanjang Agustus 2026, seakan menemui tantangan memasuki September 2026 ini. Sinyal hawkish yang datang dari bank sentral Amerika Serikat (AS) dan keputusan bahwa The Federal Reserve (The Fed) bisa memicu pembalikan momentum penguatan mata uang Garuda pada bulan lalu.
Sebagai gambaran, pada Agustus 2026 lalu, rupiah berhasil mencetak penguatan yang cukup solid dan menutup perdagangan terakhir Agustus pada Senin (31/8) ke level Rp 17.710 per dolar AS. Secara bulanan, rupiah terapresiasi 1,56% terhadap dolar AS.
Penguatan yang tercetak di Agustus 2026 ini, menjadi prestasi pertama rupiah secara bulanan, sejak Februari 2026. Kinerja rupiah di Agustus juga menjadi penguatan bulanan terkuat rupiah sejak Mei 2025, ketika rupiah menguat 1,87% di periode tersebut.
Sementara di saat yang sama, yakni pada akhir Agustus 2026 lalu, Gubernur The Fed Kevin Warsh memberikan pidato dalam simposium Jackson Hole yang isinya mendorong kenaikan yield US Treasury, terutama tenor dua tahun yang sangat sensitif terhadap ekspektasi perubahan suku bunga The Fed.
Kini, pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada September meski konsensus belum sepenuhnya bulat mengenai langkah The Fed berikutnya.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong pun bahkan menilai bahwa risiko rupiah kembali tergelincir cukup besar di pekan ini.
Menurutnya, sinyal hawkish Warsh berpotensi mendorong kenaikan yield US Treasury sekaligus memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan permintaan dolar AS dan menekan aset di negara berkembang atau emerging market. “Risiko rupiah kembali tertekan pekan ini cukup besar,” ujar Lukman kepada KONTAN, Selasa (1/9).
Tetapi dia juga menilai bahwa rupiah masih memiliki peluang melanjutkan penguatan hingga September, walau pergerakannya jauh lebih volatil dibandingkan dengan Agustus.
Pasalnya, pasar masih akan mendapatkan sejumlah data penting dari AS sebelum keputusan FOMC September. Data inflasi dan ketenagakerjaan akan menjadi penentu apakah ekspektasi kenaikan suku bunga benar-benar bertahan atau kembali mereda.
Asal tahu saja, jika data ekonomi AS kembali kuat, maka tekanan terhadap rupiah berpotensi meningkat. Lalu sebaliknya, jika inflasi dan pasar tenaga kerja menunjukkan pelemahan, maka yield US Treasury berpotensi kembali turun dan memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat.
“Pasar sendiri masih terdapat perbedaan pandangan mengenai apakah The Fed benar-benar akan menaikkan suku bunga pada September,” imbuh Lukman.
Pengamat Mata Uang sekaligus Pendiri Traderindo.com Wahyu Tribowo Laksono juga memandang risiko rupiah kembali tertekan pada pekan ini berada di tingkat sedang hingga tinggi. Penyebabnya masih sama, yaitu sinyal hawkish yang sangat kuat dari pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole.
Sinyal hawkish yang datang dari negeri Paman Sam ini memang dinilai sebagai salah satu komunikasi paling ketat dalam dua dekade yang tak hanya memicu lonjakan yield US Treasury tenor dua tahun, tetapi juga mengerek kembali Indeks Dolar AS (DXY).
"Naiknya yield aset AS secara otomatis memperlebar kembali selisih imbal hasil (yield differential) dan memicu potensi pelarian modal asing (capital outflow) dari pasar keuangan domestik menuju aset berdenominasi dolar AS," ujar Wahyu saat dihubungi oleh KONTAN.
Dia pun juga melihat momentum penguatan rupiah yang dinikmati sepanjang Agustus lalu, menghadapi risiko cukup besar untuk berbalik arah atau masuk ke fase konsolidasi tertekan (sideways to weak) hingga akhir September.
Penegasan The Fed bahwa tekanan inflasi belum sepenuhnya jinak dan suku bunga berpotensi dipertahankan lebih lama menepis ekspektasi pelonggaran moneter agresif.
Akibatnya, alih-alih melanjutkan tren penguatan, rupiah kini harus berjuang mempertahankan level psikologisnya di tengah sentimen penguatan dolar AS secara global. "Namun, semuanya akan ditentukan pada FOMC Meeting 15-16 September ini," tambah WAhyu.
Proyeksi hingga akhir Kuartal III-2026
Hingga akhir kuartal III, Lukman memperkirakan rupiah berada di kisaran Rp 17.400-Rp 17.800 per dolar AS. Namun, jika The Fed semakin hawkish, risiko rupiah kembali menembus level Rp 18.000 tetap terbuka.
Adapun faktor kunci yang masih mempengaruhi rupiah adalah arah suku bunga The Fed, imbal hasil obligasi AS, kekuatan dolar AS, kebijakan BI, serta arus modal asing ke pasar domestik.
Sementara Wahyu mengatakan bahwa dengan ketidakpastian arah suku bunga The Fed yang kembali meningkat, kisaran level nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang realistis untuk dicermati hingga akhir kuartal III-2026 berada di rentang Rp 17.500 – Rp 18.000 per dolar AS.
"Outlook suku bunga The Fed masih menjadi titik yang menentukan arah dolar AS (USD) secara global," kata Wahyu.
Jika tidak terjadi perubahan suku bunga, maka kecemasan investor terkait komentar Warsh kemarin akan mereda dan justru berbalik menjadi faktor penekan dolar AS seperti akibat FOMC sebelumnya yang tidak mengubah suku bunga The Fed di Juli lalu, setelah sebelumnya pasar mengantisipasi adanya kenaikan suku bunga.
Lalu tingkat sensitivitas pasar terhadap data ketenagakerjaan dan inflasi AS lanjutan yang menentukan apakah yield obligasi AS akan terus merangkak naik.
Selanjutnya, efektivitas intervensi domestik melalui konsistensi kebijakan stabilisasi dari Bank Indonesia (BI), termasuk optimalisasi instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan intervensi di pasar valas untuk meredam volatilitas yang liar.
"Permintaan valas korporasi domestik juga masih mempengaruhi pergerakan rupiah. Kebutuhan likuiditas valuta asing korporasi untuk pembayaran kewajiban dan impor menjelang akhir triwulan III," tandas Wahyu.
