Sinyal Hawkish Datang Dari AS, Rupiah Terancam Kembali Merosot ke Rp 18.000?

Rabu, 02 September 2026 | 07:12 WIB
Sinyal Hawkish Datang Dari AS, Rupiah Terancam Kembali Merosot ke Rp 18.000?
[ILUSTRASI. Nilai tukar rupiah (KONTAN/Fransiskus Simbolon)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penguatan rupiah yang dicatat sepanjang Agustus 2026, seakan menemui tantangan memasuki September 2026 ini. Sinyal hawkish yang datang dari bank sentral Amerika Serikat (AS) dan keputusan bahwa The Federal Reserve (The Fed) bisa memicu pembalikan momentum penguatan mata uang Garuda pada bulan lalu.

Sebagai gambaran, pada Agustus 2026 lalu, rupiah berhasil mencetak penguatan yang cukup solid dan menutup perdagangan terakhir Agustus pada Senin (31/8) ke level Rp 17.710 per dolar AS. Secara bulanan, rupiah terapresiasi 1,56% terhadap dolar AS.

Penguatan yang tercetak di Agustus 2026 ini, menjadi prestasi pertama rupiah secara bulanan, sejak Februari 2026. Kinerja rupiah di Agustus juga menjadi penguatan bulanan terkuat rupiah sejak Mei 2025, ketika rupiah menguat 1,87% di periode tersebut.

Sementara di saat yang sama, yakni pada akhir Agustus 2026 lalu, Gubernur The Fed Kevin Warsh memberikan pidato dalam simposium Jackson Hole yang isinya mendorong kenaikan yield US Treasury, terutama tenor dua tahun yang sangat sensitif terhadap ekspektasi perubahan suku bunga The Fed.

Kini, pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada September meski konsensus belum sepenuhnya bulat mengenai langkah The Fed berikutnya.

Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong pun bahkan menilai bahwa risiko rupiah kembali tergelincir cukup besar di pekan ini.

Menurutnya, sinyal hawkish Warsh berpotensi mendorong kenaikan yield US Treasury sekaligus memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan permintaan dolar AS dan menekan aset di negara berkembang atau emerging market. “Risiko rupiah kembali tertekan pekan ini cukup besar,” ujar Lukman kepada KONTAN, Selasa (1/9).

Tetapi dia juga menilai bahwa rupiah masih memiliki peluang melanjutkan penguatan hingga September, walau pergerakannya jauh lebih volatil dibandingkan dengan Agustus.

Pasalnya, pasar masih akan mendapatkan sejumlah data penting dari AS sebelum keputusan FOMC September. Data inflasi dan ketenagakerjaan akan menjadi penentu apakah ekspektasi kenaikan suku bunga benar-benar bertahan atau kembali mereda.

Asal tahu saja, jika data ekonomi AS kembali kuat, maka tekanan terhadap rupiah berpotensi meningkat. Lalu sebaliknya, jika inflasi dan pasar tenaga kerja menunjukkan pelemahan, maka yield US Treasury berpotensi kembali turun dan memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat.

“Pasar sendiri masih terdapat perbedaan pandangan mengenai apakah The Fed benar-benar akan menaikkan suku bunga pada September,” imbuh Lukman.

Pengamat Mata Uang sekaligus Pendiri Traderindo.com Wahyu Tribowo Laksono juga memandang risiko rupiah kembali tertekan pada pekan ini berada di tingkat sedang hingga tinggi. Penyebabnya masih sama, yaitu sinyal hawkish yang sangat kuat dari pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole.

Sinyal hawkish yang datang dari negeri Paman Sam ini memang dinilai sebagai salah satu komunikasi paling ketat dalam dua dekade yang tak hanya memicu lonjakan yield US Treasury tenor dua tahun, tetapi juga mengerek kembali Indeks Dolar AS (DXY).

"Naiknya yield aset AS secara otomatis memperlebar kembali selisih imbal hasil (yield differential) dan memicu potensi pelarian modal asing (capital outflow) dari pasar keuangan domestik menuju aset berdenominasi dolar AS," ujar Wahyu saat dihubungi oleh KONTAN.

Dia pun juga melihat momentum penguatan rupiah yang dinikmati sepanjang Agustus lalu, menghadapi risiko cukup besar untuk berbalik arah atau masuk ke fase konsolidasi tertekan (sideways to weak) hingga akhir September.

Penegasan The Fed bahwa tekanan inflasi belum sepenuhnya jinak dan suku bunga berpotensi dipertahankan lebih lama menepis ekspektasi pelonggaran moneter agresif.

Akibatnya, alih-alih melanjutkan tren penguatan, rupiah kini harus berjuang mempertahankan level psikologisnya di tengah sentimen penguatan dolar AS secara global. "Namun, semuanya akan ditentukan pada FOMC Meeting 15-16 September ini," tambah WAhyu.

Proyeksi hingga akhir Kuartal III-2026

Hingga akhir kuartal III, Lukman memperkirakan rupiah berada di kisaran Rp 17.400-Rp 17.800 per dolar AS. Namun, jika The Fed semakin hawkish, risiko rupiah kembali menembus level Rp 18.000 tetap terbuka.

Adapun faktor kunci yang masih mempengaruhi rupiah adalah arah suku bunga The Fed, imbal hasil obligasi AS, kekuatan dolar AS, kebijakan BI, serta arus modal asing ke pasar domestik.

Sementara Wahyu mengatakan bahwa dengan ketidakpastian arah suku bunga The Fed yang kembali meningkat, kisaran level nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang realistis untuk dicermati hingga akhir kuartal III-2026 berada di rentang Rp 17.500 – Rp 18.000 per dolar AS.

"Outlook suku bunga The Fed masih menjadi titik yang menentukan arah dolar AS (USD) secara global," kata Wahyu.

Jika tidak terjadi perubahan suku bunga, maka kecemasan investor terkait komentar Warsh kemarin akan mereda dan justru berbalik menjadi faktor penekan dolar AS seperti akibat FOMC sebelumnya yang tidak mengubah suku bunga The Fed di Juli lalu, setelah sebelumnya pasar mengantisipasi adanya kenaikan suku bunga.

Lalu tingkat sensitivitas pasar terhadap data ketenagakerjaan dan inflasi AS lanjutan yang menentukan apakah yield obligasi AS akan terus merangkak naik.

Selanjutnya, efektivitas intervensi domestik melalui konsistensi kebijakan stabilisasi dari Bank Indonesia (BI), termasuk optimalisasi instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan intervensi di pasar valas untuk meredam volatilitas yang liar.

"Permintaan valas korporasi domestik juga masih mempengaruhi pergerakan rupiah. Kebutuhan likuiditas valuta asing korporasi untuk pembayaran kewajiban dan impor menjelang akhir triwulan III," tandas Wahyu.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

IHSG Rebound 5,65% ke 5.278, Simak Analisis dan Rekomendasi Saham Hari Ini (21/10)
| Rabu, 21 Oktober 2026 | 04:50 WIB

IHSG Rebound 5,65% ke 5.278, Simak Analisis dan Rekomendasi Saham Hari Ini (21/10)

Meski menguat tajam secara harian, IHSG masih melemah 10,92% dalam sepekan terakhir. Sedangkan sejak awal tahun, IHSG masih melemah 38,95%.​

Pindar Terjepit Biaya Pendanaan
| Rabu, 21 Oktober 2026 | 04:30 WIB

Pindar Terjepit Biaya Pendanaan

Kenaikan suku bunga acuan dan seretnya likuiditas memicu persaingan pendanaan, sementara batas atas manfaat ekonomi.

Mengejar MSCI, Melupakan Investor Sendiri?
| Rabu, 21 Oktober 2026 | 04:13 WIB

Mengejar MSCI, Melupakan Investor Sendiri?

Tujuan pasar modal Indonesia bukan sekadar menjadi favorit investor asing, melainkan tetap berfungsi menopang roda perekonomian nasional.

BEI Akan Evaluasi Saham HSC Tiap 3 Bulan, Apa Dampaknya bagi IHSG?
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 15:46 WIB

BEI Akan Evaluasi Saham HSC Tiap 3 Bulan, Apa Dampaknya bagi IHSG?

BEI akan mengevaluasi saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) setiap tiga bulan. 

Realisasi Investasi Meningkat, PMDN Justru Turun 7,48% pada Kuartal III-2026
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 15:03 WIB

Realisasi Investasi Meningkat, PMDN Justru Turun 7,48% pada Kuartal III-2026

Kementerian Investasi dan Hilirisasi mencatat, realisasi investasi pada kuartal III-2026 mencapai Rp 528,7 triliun, tumbuh 7,59% secara tahunan.​

UMKM Merasa Dua Tahun Terakhir Situasi Lebih Sulit dibandingkan Saat Pandemi
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:00 WIB

UMKM Merasa Dua Tahun Terakhir Situasi Lebih Sulit dibandingkan Saat Pandemi

Keterbatasan modal, UMKM sulit mengikuti lelang/tender proyek-proyek pemerintah karena secara kapasitas produksi dan modal tidak akan mencukupi.

Pasar Saham Anjlok, Asing Lari ke SBN: Intip Strategi dan Tenor Obligasi Paling Cuan
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:00 WIB

Pasar Saham Anjlok, Asing Lari ke SBN: Intip Strategi dan Tenor Obligasi Paling Cuan

Peningkatan realisasi belanja dan kebutuhan pembiayaan pada kuartal IV berpotensi menambah tekanan pasokan SBN.

SCMA Membagikan Dividen Interim Rp 533,43 Miliar
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:49 WIB

SCMA Membagikan Dividen Interim Rp 533,43 Miliar

PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) mengumumkan akan membagikan dividen interim kepada pemegang saham sebesar Rp 533,43 miliar.​

Manajemen DSSA Buka Suara Soal Sanksi OJK
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:44 WIB

Manajemen DSSA Buka Suara Soal Sanksi OJK

Manajemen PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) buka suara perihal sanksi yang diberikan OJK terkait dugaan manipulasi perdagangan saham.

Tiga Emiten Tersangkut Pemeriksaan OJK, Buyback Rp 2,5 Triliun Usai Saham Anjlok
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:43 WIB

Tiga Emiten Tersangkut Pemeriksaan OJK, Buyback Rp 2,5 Triliun Usai Saham Anjlok

Aksi buyback dengan total anggaran Rp 2,5 triliun berpotensi membantu meredam tekanan jual dan menjaga stabilitas harga.

INDEKS BERITA