Kilau Harga Berlian Tidak Selamanya Menyilaukan

Sabtu, 09 Maret 2019 | 05:29 WIB
Kilau Harga Berlian Tidak Selamanya Menyilaukan
[]
Reporter: Yusuf Imam Santoso | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konon, diamond is forever. Namun rupanya kilau berlian tak lantas menjanjikan keuntungan. Belakangan, harga berlian justru mulai meredup.

Ini membuat investasi berlian tidak lagi terlalu menarik. Barangkali Anda belum tahu, berlian merupakan salah satu barang koleksi yang juga bisa dimanfaatkan sebagai instrumen investasi. Saat ini, para pemain di industri berlian melihat batu mulia ini lebih banyak menjadi sebatas barang koleksi ketimbang instrumen investasi.

Stefani, Digital Marketing Orori, gerai penjaja berlian, mengatakan, saat ini harga berlian memang cenderung mengalami koreksi. "Berlian pada dasarnya perhiasan, dalam lima tahun ke belakang harga jualnya tidak akan naik malah lebih cenderung koreksi," kata dia, kemarin.

Mengacu pada indeks harga berlian wholesale yang disusun oleh Polished Prices dalam lima tahun, harga batu permata ini turun 16,55%. Per Kamis (7/3), berlian dilego US$ 121,48 per karat.

Sebenarnya, secara year to date (ytd) harga berlian sudah menguat 1,57%. Di akhir 2018 lalu, harga berlian wholesale ada di US$ 119,6 per karat.

Menurut Perencana Keuangan OneShildt Personal Financial Planning Budi Raharjo, kebangkitan harga berlian dipengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Saat ini, nilai tukar mata uang Garuda tersebut masih cenderung menguat dibandingkan posisi di tahun lalu.

Hal ini lah yang membawa harga batu mulia tersebut melesat tahun ini. Tetapi perlu diingat, ketika the greenback kembali perkasa, otomatis harga berlian berada di bawah bayang-bayang pelemahan.

Karena itu, Budi bilang, sebenarnya berlian kurang cocok dijadikan produk investasi. Bahkan nilainya pun kini sudah berada di bawah emas batangan. Mengingat, selama ini emas batangan masuk kategori safe haven. Di sisi lain, berlian lebih cocok dikategorikan sebagai barang seni atau perhiasan.

Dalam jangka waktu panjang lima tahun atau sepuluh tahun ke depan, return investasi emas masih unggul. "Emas bagus buat investasi karena jelas komoditas, ada patokan harganya," kata Budi.

Ia menilai berlian lebih cocok dijadikan investasi dalam jangka panjang. Sebab, jika mengharapkan cuan cepat, berlian kalah kinclong dengan emas yang memiliki likuiditas lebih tinggi.

Budi menambahkan, berlian bukanlah sarana investasi yang cocok untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tertentu, seperti dana pensiun atau dana pendidikan. Sebab, risikonya relatif tinggi. Investasi berlian juga butuh waktu yang cukup panjang. Harga instrumen ini masih sulit naik.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Pengusaha Menanti Aturan Pelaksana UU Reforma Agraria: Jangan Menimbulkan Multitafsir
| Senin, 28 September 2026 | 11:55 WIB

Pengusaha Menanti Aturan Pelaksana UU Reforma Agraria: Jangan Menimbulkan Multitafsir

Reforma agraria di sektor kelapa sawit harus fokus pada kebun kelapa sawit sitaan yang saat ini dikelola oleh Agrinas.

Tak Perlu IPO yang Lebih Repot, Masuk Bursa Lewat Jalan Belakang Makin Diminati
| Senin, 28 September 2026 | 10:35 WIB

Tak Perlu IPO yang Lebih Repot, Masuk Bursa Lewat Jalan Belakang Makin Diminati

Saat ini setidaknya ada tiga emiten yang mengumumkan keterbukaan informasi terkait rencana akuisisi saham mayoritas.

BI Perkuat Insentif Hedging, Dominasi Tenor Pendek Masih Membayangi Stabilitas Rupiah
| Senin, 28 September 2026 | 09:48 WIB

BI Perkuat Insentif Hedging, Dominasi Tenor Pendek Masih Membayangi Stabilitas Rupiah

Insentif hedging BI lebih efektif menambah pasokan valuta asing di pasar keuangan domestik ketimbang menarik dana asing berjangka panjang.

Restitusi Pajak di Bawah Audit Khusus Menteri Keuangan
| Senin, 28 September 2026 | 09:43 WIB

Restitusi Pajak di Bawah Audit Khusus Menteri Keuangan

Ketentuan tersebut menjadi salah satu tambahan dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) APBN 2027 yang telah disepakati pemerintah dan DPR

Batu Sandungan Bagi Kebijakan Pajak Karbon
| Senin, 28 September 2026 | 09:20 WIB

Batu Sandungan Bagi Kebijakan Pajak Karbon

Penerapan pajak karbon berisiko meningkatkan biaya energi dan beban subsidi dalam APBN              

Dharma Polimetal (DRMA) Tebar Pesona Cari Mitra Strategis
| Senin, 28 September 2026 | 08:43 WIB

Dharma Polimetal (DRMA) Tebar Pesona Cari Mitra Strategis

 Demi mengerek pendapatan hingga 10% pada tahun ini, DRMA proaktif memburu mitra strategis global di ajang Automechanika.

Mayora (MYOR) Mencermati Dampak Cukai Baru
| Senin, 28 September 2026 | 08:39 WIB

Mayora (MYOR) Mencermati Dampak Cukai Baru

Lini bisnis olahan minuman dalam kemasan menyumbang 45% terhadap seluruh penjualan PT Mayora Indah Tbk (MYOR).

Harga Paket Data Naik pada September 2026, Begini Strategi TLKM, ISAT, dan EXCL
| Senin, 28 September 2026 | 08:35 WIB

Harga Paket Data Naik pada September 2026, Begini Strategi TLKM, ISAT, dan EXCL

Premi yield paket data perdana melebar menjadi 103% pada September 2026 dari 60% pada Agustus 2026 dibandingkan dengan yield isi ulang.

Perhatian ke ENRG Bergeser, Rights Issue Bakal Jadi Sentimen Positif atau Beban?
| Senin, 28 September 2026 | 08:13 WIB

Perhatian ke ENRG Bergeser, Rights Issue Bakal Jadi Sentimen Positif atau Beban?

Keberhasilan rights issue PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) tidak cukup diukur dari terserapnya 13,28 miliar saham baru.

Ratusan Ribu Investor GOTO Waswas Jelang Aturan Baru Price Floor, Harga bisa Melorot
| Senin, 28 September 2026 | 07:36 WIB

Ratusan Ribu Investor GOTO Waswas Jelang Aturan Baru Price Floor, Harga bisa Melorot

Sepanjang September sampai dengan tanggal 25, asing mencatatkan net foreign sell di harga rata-rata Rp 25 per saham.

INDEKS BERITA

Terpopuler