Krisis Energi di Eropa, Harga Gas Alam Melambung 105%

Jumat, 15 Oktober 2021 | 05:30 WIB
Krisis Energi di Eropa, Harga Gas Alam Melambung 105%
[]
Reporter: Achmad Jatnika | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga gas alam sepanjang tahun 2021 ini meningkat dua kali lipat dibandingkan harga di awal tahun. Pasokan yang menipis, menjadi salah satu penyebab kenaikan komoditas tersebut.

Merujuk data Bloomberg, harga gas alam di bursa Nymex naik 105% secara year to date (ytd). Kamis (14/10) harga gas alam kontrak pengiriman November 2021 berada di US$ 5,73 per mmbtu. Harga gas alam berada di level tertingginya pada 5 Oktober lalu, di posisi US$ 6,31 per mmbtu.

Research and Development ICDX Girta Yoga mengatakan, kenaikan harga gas alam tahun ini dipicu pasokan gas alam di Eropa yang menipis. Padahal gas alam adalah sumber energi listrik di Eropa.

Baca Juga: Harga LNG yang melambung jadi peluang bagi Indonesia

Sementara di beberapa belahan bumi utara sudah memasuki musim dingin, sehingga kebutuhan listrik untuk pemanas ruangan kian meningkat. Dengan adanya tren ini, Gita perkirakan harga gas alam masih berpotensi menguat karena memasuki musim dingin. Sehingga negara yang mengandalkan gas alam harus mengupayakan kepastian terkait pasokan gas alam.

Saat ini, krisis listrik juga melanda Asia yang membuat kebutuhan akan batubara dan minyak bumi meningkat. 
Gita menyebut, apabila ada jaminan dari negara produsen untuk menjamin pemenuhan permintaan gas alam di Eropa, setidaknya hingga musim dingin maka akan membuat harga gas alam turun.

Founder Traderindo.com, Wahyu Tribowo Laksono menilai, kenaikan harga gas alam juga mengikuti harga minyak mentah. "Jika tren harga komoditas energi melandai, secara umum harga gas alam akan rentan kembali anjlok," ujar dia. Dia memperkirakan, penurunan harga gas alam bisa ke US$ 3 bahkan US$ 2 per mmbtu.

Namun kata Wahyu, penurunan ke level harga tersebut belum terlihat di akhir tahun ini. Sebabnya, gas alam masih dianggap paling murah serta kebutuhan di musim dingin biasanya terus meningkat. Oleh sebab itu, Wahyu dan Gita memproyeksi harga gas alam mampu menuju US$ 7 hingga US$ 8 per mmbtu.

Baca Juga: OPEC: Lonjakan Harga LNG Dapat Meningkatkan Permintaan Produk Minyak

Bagikan

Berita Terbaru

Securities Crowdfunding Pilih UMKM Sektor Defensif
| Jumat, 09 Januari 2026 | 04:15 WIB

Securities Crowdfunding Pilih UMKM Sektor Defensif

iklim bisnis UMKM masih akan cukup menantang, sehingga penyelenggara securities crowdfunding akan lebih selektif dalam memilah penerbit efek. 

UNVR Fokus Bisnis Inti, Aset Hasil Akuisisi Lama Satu per Satu Dilepas
| Kamis, 08 Januari 2026 | 19:59 WIB

UNVR Fokus Bisnis Inti, Aset Hasil Akuisisi Lama Satu per Satu Dilepas

Unilever global mendorong anak usahanya, termasuk di Indonesia, untuk lebih fokus pada core business dengan profitabilitas yang lebih stabil.

Rating Overweight Warnai Sektor Konsumer, Apa Artinya Untuk MYOR, INDF, Hingga UNVR?
| Kamis, 08 Januari 2026 | 18:02 WIB

Rating Overweight Warnai Sektor Konsumer, Apa Artinya Untuk MYOR, INDF, Hingga UNVR?

BRI Danareksa meyakini bahwa penyesuaian ke atas terhadap upah minimum akan memberikan dukungan tambahan terhadap daya beli rumah tangga.

Relaksasi Fiskal untuk Daerah Terdampak Banjir
| Kamis, 08 Januari 2026 | 13:32 WIB

Relaksasi Fiskal untuk Daerah Terdampak Banjir

Beleid baru memberi fleksibilitas TKD dan restrukturisasi pinjaman PEN daerah                       

Modal Belum Cukup Rp 250 Miliar, Saham VINS, AHAP, dan YOII Malah Berlari Kencang
| Kamis, 08 Januari 2026 | 09:30 WIB

Modal Belum Cukup Rp 250 Miliar, Saham VINS, AHAP, dan YOII Malah Berlari Kencang

Untuk mengejar target permodalan, emiten asuransi bisa menggelar private placement atau rights issue.

Menakar Arah Saham EMTK di Tengah Aksi Beli Saham SUPA dan Wacana IPO Vidio
| Kamis, 08 Januari 2026 | 08:44 WIB

Menakar Arah Saham EMTK di Tengah Aksi Beli Saham SUPA dan Wacana IPO Vidio

Penguatan narasi ekosistem digital dan potensi monetisasi aset dinilai menjaga minat investor terhadap pergerakan saham EMTK.

Harga Nikel Melesat Sinyal Positif Bagi Saham Lapis Kedua, Beli DKFT, NICL atau NICE?
| Kamis, 08 Januari 2026 | 08:10 WIB

Harga Nikel Melesat Sinyal Positif Bagi Saham Lapis Kedua, Beli DKFT, NICL atau NICE?

Harga nikel global terbang 24,33 persen sebulan terakhir. Simak analisis valuasi DKFT, NICL, dan NICE serta rekomendasi analis di sini.

AirAsia Indonesia (CMPP) Bersiap Buka Rute Baru ke Vietnam
| Kamis, 08 Januari 2026 | 07:15 WIB

AirAsia Indonesia (CMPP) Bersiap Buka Rute Baru ke Vietnam

Pembukaan rute Bali–Da Nang menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam memperluas jaringan internasional yang berfokus pada destinasi leisure.

Terulang Lagi, IHSG Cetak Rekor, Rupiah Nyungsep, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini
| Kamis, 08 Januari 2026 | 07:03 WIB

Terulang Lagi, IHSG Cetak Rekor, Rupiah Nyungsep, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini

Meski IHSG menguat, rupiah berlanjut terdepresiasi pada level Rp16,780 per dolar Amerika Serikat (AS). ​

Insentif Properti Mendorong Sektor Manufaktur
| Kamis, 08 Januari 2026 | 07:00 WIB

Insentif Properti Mendorong Sektor Manufaktur

Kebijakan memperpanjang insentif properti menjadi upaya mendorong daya beli masyarakat, serta memperkuat sektor ekonomi yang memiliki keterkaitan

INDEKS BERITA

Terpopuler