Krisis Iklim

Sabtu, 17 September 2022 | 08:00 WIB
Krisis Iklim
[]
Reporter: Harian Kontan | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Belakangan ini, dunia semakin serius bersiap menghadapi ancaman perubahan iklim. Inisiatif penanganan ancaman perubahan iklim kini bukan cuma sekadar berasal dari perorangan, organisasi atau perusahaan lagi. Negara juga mulai ikut turun tangan.

Sayangnya, inisiatif penanganan ancaman perubahan iklim ini lahir kurang cepat, kalau tidak bisa dibilang terlambat. Lantaran kurang cepat bertindak menangani efek perubahan iklim, sekarang dunia mulai menghadapi ancaman krisis iklim.

Krisis iklim ini juga berdampak buruk bagi ekonomi. Di ajang HSBC Summit 2022 kemarin, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut krisis iklim ini bahkan bisa menurunkan produk domestik bruto (PDB). 

Krisis iklim ini berpotensi mengganggu rantai pasok, yang diakibatkan bencana akibat perubahan cuaca, seperti banjir dan badai. Permukaan air laut yang naik juga menjadi ancaman.

Hitungan Sri Mulyani, kerugian ekonomi akibat krisis iklim ini berpotensi mencapai Rp 112,2 triliun tahun depan. Ini setara 0,5% PDB 2023. PDB Indonesia bisa merosot 0,63% hingga 45% pada 2030 jika hal ini terus berlanjut.

Memang, Indonesia sudah semakin gencar menjalankan inisiatif mencegah perubahan iklim, termasuk di antaranya mengaplikasikan energi ramah lingkungan. Indonesia juga masih on track menuju target net zero emission di 2060.

Pemerintah misalnya meminta instansi dan perusahaan pemerintah mulai menggunakan kendaraan listrik sebagai kendaraan dinas. Banyak perusahaan juga mulai rajin menggunakan energi baru dan terbarukan dalam operasional harian. 

Masyarakat pun aktif mengupayakan pemanfaatan energi hijau. Cukup banyak rumahtangga yang juga memanfaatkan panel surya untuk memenuhi kebutuhan listriknya. 

Tapi, masih ada cukup banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan dalam pengembangan energi ramah lingkungan di dalam negeri. Misal, aturan main yang jelas. 

Masih ada pengguna panel surya yang mengeluhkan aturan terkait penggunaan listrik ini yang kerap berubah-ubah. Alhasil, pengguna jadi bingung dan memilih kembali menggunakan listrik yang ditenagai oleh tenaga fosil.

Selain itu, tarif listrik EBT juga terhitung mahal. Memang, ada harapan tarif ke depan makin terjangkau. Pemerintah sudah meneken Perpres soal tarif EBT.

Tarif yang dipatok masih lebih murah ketimbang tarif yang diajukan pengusaha. Semoga langkah ini membawa Indonesia terhindar dari krisis iklim.

Bagikan

Berita Terbaru

CEO Optimistis Peluang Ekspansi di Kuartal Akhir 2026 Terbuka Lebar
| Senin, 05 Oktober 2026 | 21:06 WIB

CEO Optimistis Peluang Ekspansi di Kuartal Akhir 2026 Terbuka Lebar

Indeks Ekspansi Bisnis (IEB) mencapai level 3,65 pada Oktober 2026, naik tinggi 11,28% dibanding realisasi di Juli 2026

CEO Hati-Hati Memantau Kondisi Politik, Kepastian Kebijakan Jadi Perhatian
| Senin, 05 Oktober 2026 | 20:23 WIB

CEO Hati-Hati Memantau Kondisi Politik, Kepastian Kebijakan Jadi Perhatian

Indeks Politik Nasional (IPN) berada di posisi 2,89 di Oktober 2026, turun dari Juli 2026 yang berada di 2,90. 

Global Masih Tidak Menentu, Para CEO Pesimistis Meneropong Prospek Global
| Senin, 05 Oktober 2026 | 17:46 WIB

Global Masih Tidak Menentu, Para CEO Pesimistis Meneropong Prospek Global

Indeks Ekonomi Global (IEG) Oktober 2026 berada di level 2,78. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan IEG di periode Juli 2026. 

Bukan Sekedar Tren Format, tapi Perubahan Cara Nonton
| Senin, 05 Oktober 2026 | 14:08 WIB

Bukan Sekedar Tren Format, tapi Perubahan Cara Nonton

Tren drama pendek kini mulai beralih dari media sosial ke penyedia layanan over the top dengan format vertikal. 

Daya Beli Masyarakat Mulai Pulih, Tapi CEO Sebut Konsumen Makin Selektif
| Senin, 05 Oktober 2026 | 13:46 WIB

Daya Beli Masyarakat Mulai Pulih, Tapi CEO Sebut Konsumen Makin Selektif

Indeks Daya Beli (IDB), yang merupakan salah satu komponen ICCI, berada di level 3,17 pada Oktober 2026.

CEO Soroti Kualitas Belanja Pemerintah: Yang Penting Bukan Besarnya Anggaran
| Senin, 05 Oktober 2026 | 13:17 WIB

CEO Soroti Kualitas Belanja Pemerintah: Yang Penting Bukan Besarnya Anggaran

Indeks Belanja Pemerintah (IBP) berada di level 3,20 pada Oktober 2026, membaik dibandingkan IBP di kuartal sebelumnya di level 3,05%

CEO Index Q4 2026 Naik, Pebisnis Masih Khawatir Ekonomi Global dan Politik
| Senin, 05 Oktober 2026 | 13:07 WIB

CEO Index Q4 2026 Naik, Pebisnis Masih Khawatir Ekonomi Global dan Politik

Keyakinan para CEO terhadap kondisi bisnis menunjukkan pemulihan meski masih dalam level optimistis yang hati-hati.

Akumulasi 833 Juta Saham BIPI Usai Terkoreksi, Waktunya Beli atau Wait and See?
| Senin, 05 Oktober 2026 | 11:42 WIB

Akumulasi 833 Juta Saham BIPI Usai Terkoreksi, Waktunya Beli atau Wait and See?

PT Indotambang Perkasa menambah kepemilikan sebanyak 833 juta saham, sehingga kepemilikan sahamnya di BIPI, meningkat dari 19,39% menjadi 20,7%.

Keyakinan CEO terhadap Faktor Makroekonomi Menguat, tetapi Rupiah Jadi Perhatian
| Senin, 05 Oktober 2026 | 11:22 WIB

Keyakinan CEO terhadap Faktor Makroekonomi Menguat, tetapi Rupiah Jadi Perhatian

Berdasarkan survei Indonesia CEO Confidence Index (ICCI) Oktober 2026 yang dilakukan KONTAN, CEO cenderung optimistis terhadap faktor makroekonomi

Potensi Indonesia Menjaring Investasi EBT dari Eropa Melalui Implementasi IEU-CEPA
| Senin, 05 Oktober 2026 | 10:36 WIB

Potensi Indonesia Menjaring Investasi EBT dari Eropa Melalui Implementasi IEU-CEPA

Peluang investasi di proyek energi bersih dari Uni Eropa terbuka lebar, tapi Indonesia mesti membenahi sederet hambatan

INDEKS BERITA

Terpopuler