Laba ACES Diproyeksi Turun 20% di 2025, bisa Rebound Berkat Low Base Effect di 2026

Senin, 08 Desember 2025 | 07:57 WIB
Laba ACES Diproyeksi Turun 20% di 2025, bisa Rebound Berkat Low Base Effect di 2026
[ILUSTRASI. Salah satu gerai Azko di Jakarta. DOK/ACES]
Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja dan saham PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) diproyeksi pulih pada 2026, setelah tahun 2025 yang dihantam tantangan berat.

Penjualan ritel perlengkapan rumah tangga dan gaya hidup sejauh ini memang masih tertekan kuat oleh pelemahan daya beli masyarakat. Hal ini terlihat jelas dari tren Same Store Sales Growth (SSSG) ACES yang terperosok ke zona negatif hingga September 2025.

Laporan Kuartal III-2025 menunjukkan tekanan yang masih kuat. Penjualan ACES anjlok 3,2% year on year (YoY) dan 1,4% quarter on quarter (QoQ), sementara SSSG tercatat -3,6% per September 2025.

Secara kumulatif, pendapatan ACES hanya tumbuh marginal 1,76% YoY menjadi Rp 6,23 triliun. Dampaknya, laba bersih emiten ritel ini terpangkas 16,21% YoY menjadi Rp 481,09 miliar, dengan SSSG kumulatif di -8,2% YoY.

Sejalan dengan kinerja yang loyo, harga saham ACES masih tertahan, meski sempat terapresiasi 0,48% ke level Rp 420 per saham per Jumat (5/12). Sejak awal tahun, saham ACES telah ambles hingga 46,84%.

Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, melihat secara teknikal, posisi ACES cenderung sideways dalam jangka pendek. "Indikator MACD mulai menyempit di area negatif dan berpeluang golden cross, sedangkan Stochastic mulai memasuki area netral," ujarnya kepada KONTAN, Jumat (5/12).

Baca Juga: Asing Rajin Borong Saham TLKM, JP Morgan hingga Invesco Serok Ratusan Juta Lembar

Pemangkasan Proyeksi & Peluang Rebound

Analis BRI Danareksa Sekuritas Christy Halim memaparkan, peluang perbaikan di sisa 2025 seiring momentum belanja akhir tahun yang secara historis menjadi penopang terbesar penjualan ACES.

Namun, akibat tekanan sepanjang tahun ini, Christy memangkas proyeksi pendapatan dan laba bersih ACES 2025. Pendapatan diturunkan menjadi Rp 8,76 triliun dari sebelumnya Rp 8,93 triliun. Laba bersih juga dikoreksi tajam dari Rp 820 miliar menjadi Rp 713 miliar.

Asal tahu saja, meskipun estimasi diturunkan, proyeksi pendapatan 2025 tersebut masih tumbuh 2,09% YoY. Namun, perkiraan laba bersih Rp 713 miliar itu berarti laba ACES akan tergerus 20,06% YoY dibandingkan realisasi 2024.

Dari efek basis rendah (low base effect) tersebut, Christy melihat peluang pemulihan signifikan pada 2026. Analis juga mencermati profitabilitas ACES mulai terangkat di kuartal III-2025 berkat pengelolaan beban operasional dan perbaikan bauran produk. Hal ini terlihat dari lonjakan operating profit 31,4% QoQ dengan margin operasi naik menjadi 8,8%.

"Dengan upaya berkelanjutan untuk memaksimalkan biaya dan opex, kami memperkirakan laba akan pulih dengan tumbuh 15,5% YoY pada 2026, didukung oleh efek basis yang rendah," papar Christy.

Selain itu, pendapatan ACES pada 2026 diperkirakan tumbuh 6,2% YoY seiring membaiknya daya beli dan dukungan stimulus fiskal.

Baca Juga: Ihwal Bencana Sumatra, Pemerintah Hentikan Operasional Tiga Korporasi

Strategi Rejuvenasi dan Gerai Format Baru

ACES turut mendorong transformasi melalui dua strategi utama: pembaruan konsep toko dan peluncuran format gerai baru. Sejumlah flagship store di lokasi strategis telah diremajakan (revamp) dengan konsep premium dan rencananya akan direplikasi ke lokasi kelas A dan A+.

Manajemen juga meluncurkan brand Neka, gerai format kecil (<700 sqm) yang menyasar segmen menengah ke bawah dengan lebih dari 10.000 Stock Keeping Unit (SKU). Saat ini, empat pilot store Neka telah dibuka, dengan target ekspansi yang lebih agresif pada 2026.

Meskipun Neka membutuhkan waktu break even point (BEP) lebih panjang (1–2 tahun) dibanding toko ACES (6 bulan), Christy menilai margin dan produktivitas Neka setara dengan gerai ACES konvensional.

Berbekal katalis pemulihan dan strategi ini, BRI Danareksa Sekuritas berani mengatrol rating ACES menjadi Beli (Buy) dengan target harga yang juga ditingkatkan menjadi Rp 550 dari sebelumnya Rp 500 per lembar saham.

Sementara Herditya merekomendasikan trading buy dengan level support Rp 416 dan resistance Rp 422, dan target harga di kisaran Rp 426 - Rp 432 per saham.

Investor perlu mewaspadai sejumlah risiko seperti pemulihan daya beli yang lebih lambat dari ekspektasi, persaingan ketat sektor omnichannel retail, dan perubahan perilaku konsumen.

 

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan

Berita Terbaru

Harga Minyak Terus Melonjak, Margin Emiten Sektor Ini Rentan Tertekan
| Kamis, 26 Maret 2026 | 07:37 WIB

Harga Minyak Terus Melonjak, Margin Emiten Sektor Ini Rentan Tertekan

Jika daya beli masyarakat melemah akibat inflasi energi, emiten sektor konsumer akan kesulitan menjaga volume penjualan.

Sentimen Pembagian Dividen Emiten Kakap, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Kamis, 26 Maret 2026 | 07:04 WIB

Sentimen Pembagian Dividen Emiten Kakap, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Sentimen positif lain, langkah efisiensi berbagai kementerian melalui pemangkasan belanja tidak mendesak. 

Pemulihan Aset Diprediksi Lebih Sulit Tahun Ini
| Kamis, 26 Maret 2026 | 07:00 WIB

Pemulihan Aset Diprediksi Lebih Sulit Tahun Ini

Bank andalkan jual aset bermasalah untuk jaga laba—tapi tahun ini makin sulit karena stok menipis dan pasar lesu.

Kakao Indonesia Terbentur Kualitas
| Kamis, 26 Maret 2026 | 06:53 WIB

Kakao Indonesia Terbentur Kualitas

Dari sisi hilir, kapasitas industri pengolahan kakao nasional sebenarnya telah mencapai sekitar 739.000 ton per tahun

Suplai Kontainer Langka,  Bongkar Muat Melambat
| Kamis, 26 Maret 2026 | 06:50 WIB

Suplai Kontainer Langka, Bongkar Muat Melambat

Hambatan di pelabuhan akibat kelangkaan kontainer dan keandalan carane, serta  perang Timur Tengah turut mengerek biaya logistik ekspor-impor

Roland Berger: Pasar RI Masih Terbuka
| Kamis, 26 Maret 2026 | 06:44 WIB

Roland Berger: Pasar RI Masih Terbuka

Indonesia menawarkan kombinasi antara potensi jangka panjang yang signifikan dan stabilitas konsumsi yang relatif tinggi.

 Krisis Minyak, Batubara Kembali Menjadi Andalan
| Kamis, 26 Maret 2026 | 06:38 WIB

Krisis Minyak, Batubara Kembali Menjadi Andalan

Potensi Filipina mengimpor batubara dari Indonesia bisa mencapai 40 juta ton pada tahun ini untuk mengamankap operasional PLTU

Bank Swasta Harus Cari Cara Menumbuhkan Simpanan Valas
| Kamis, 26 Maret 2026 | 06:35 WIB

Bank Swasta Harus Cari Cara Menumbuhkan Simpanan Valas

​DHE SDA wajib parkir di bank BUMN. Kebijakan ini membuat likuiditas valas bank swasta tergerus, sehingga strategi pun dirombak.

Waspada! Ketahanan Energi Nasional Masih Rentan
| Kamis, 26 Maret 2026 | 06:31 WIB

Waspada! Ketahanan Energi Nasional Masih Rentan

Cadangan BBM Indonesia tercatat berada pada kisaran 27-28 hari berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Strategi Divestasi Bisa Memacu Prospek Telkom (TLKM) Semakin Seksi
| Kamis, 26 Maret 2026 | 06:30 WIB

Strategi Divestasi Bisa Memacu Prospek Telkom (TLKM) Semakin Seksi

PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) terus fokus memperkuat bisnis inti dengan menggelar divestasi entitas usaha. 

INDEKS BERITA

Terpopuler