Lima Faktor Ini yang Dicermati Investor Obligasi di Saat Kecemasan Pandemi Meningkat

Minggu, 25 Juli 2021 | 08:55 WIB
Lima Faktor Ini yang Dicermati Investor Obligasi di Saat Kecemasan Pandemi Meningkat
[ILUSTRASI. FILE PHOTO: Suasana distrik keuangan di New York, AS, 19 November 2020. REUTERS/Shannon Stapleton/File Photo]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Surat utang pemerintah Amerika Serikat, alias treasury, bergerak liar sepanjang pekan ini. Investor pun harus menelusuri berbagai faktor, seperti kebijakan Federal Reserve serta data-data ekonomi makro, yang akan mempengaruhi arah yang dituju treasury dalam beberapa pekan mendatang.

Imbal hasil, yang berbanding terbalik dengan harga, untuk treasury berjangka 10 tahun  sebesar 1,28% pada Jumat (23/7). Di awal pekan lalu, yield surat utang acuan itu sempat jatuh hingga 1,128% pada awal pekan, hampir 65 basis poin di bawah rekor tertingginya di tahun ini. Penurunan spread sejalan dengan merebaknya kekhawatiran akan perlambatan. pertumbuhan dan penyebaran infeksi Covid-19. 

Aliran dana yang masuk ke iShares 7, produk ETF untuk treasury bertenor 10 tahun, mencerminkan tingginya minat pasar terhadap obligasi pemerintah AS. Mengutip data Lipper, inflow ke iShares 7 mencapai kisaran US$1,2 miliar dalam pekan yang berakhir 21 Juli. Itu adalah angka tertinggi dalam setahun terakhir.

Baca Juga: Wall Street ditutup ke level tertinggi sepanjang masa terdorong kebangkitan ekonomi

Pertanyaan utama pasar saat ini adalah ke arah mana imbal hasil treasury akan bergerak. Apakah imbal hasil kembali ke kisaran 1%, seperti yang terjadi di masa pandemi? Atau, yield mengalami rebound menuju rentang 2%, seperti yang diharapkan para pelaku pasar?

Berikut, beberapa indikator yang menjadi paduan investor dalam memprediksi ke arah mana spread treasury akan bergerak.

Pembahasan tapering

Federal Reserve (The Fed) mengejutkan banyak pelaku pasar, saat beralih ke posisi hawkish pada pertemuan kebijakan terakhirnya, Juni lalu. Beberapa pejabat The Fed mengubah ekspektasinya terhadap timeline kenaikan suku bunga pertama menjadi 2023.

Dari dua pertemuan The Fed, yaitu pertemuan kebijakan pada 28 Juli dan simposium tahunan pada akhir Agustus, investor akan mencari tanda-tanda petinggi otoritas moneter beralih sikap, dengan dasar laju inflasi saat ini bersifat sementara.

Investor juga akan mencari sinyal apakah The Fed percaya varian Delta dari Covid-19 akan menekan pertumbuhan, berpotensi menunda pelonggaran kebijakan uang mudah Fed dan menekan imbal hasil.

Selisih imbal hasil

Kendati imbal hasil Treasury telah turun, selisih antara yield surat utang pemerintah AS dengan imbal hasil obligasi tetap stabil. Itu menunjukkan beberapa investor tetap bullish pada ekonomi AS secara keseluruhan. “Faktor jangka pendek seperti posisi dan pasokan mendorong reli di treasury,” kata Jonathan Golub, kepala strategi ekuitas AS di Credit Suisse, dalam laporannya.

Bunga jangka pendek

Dana leverage, termasuk dana lindung nilai, telah menumpuk menjadi taruhan bahwa treasury akan masuk ke tren bearish. Ini termasuk dari apa yang disebut perdagangan reflasi, situasi di mana investor mengambil posisi untuk imbal hasil yang lebih rendah sekaligus membeli saham perusahaan yang dapat memetik manfaat, di saat ekonomi mengalami rebound yang kuat.

Sementara taruhan spekulatif bersih pada treasury berjangka 10-tahun berbalik ke wilayah bullish untuk pekan yang berakhir 13 Juli, taruhan pada obligasi dengan jatuh tempo lain, termasuk 30-tahun, tetap bearish, data dari Commodity Futures Trading Commission menunjukkan.

Pembalikan posisi itu dapat memicu kenaikan Treasury dan menyeret hasil lebih rendah.

Baca Juga: Lebih optimis, BI naikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global

Data ekonomi

Kendati ekonomi AS mulai pulih dari posisinya yang terpuruk di tahun lalu, kekhawatiran bahwa laju pertumbuhan akan melambat berkontribusi terhadap reli treasury, awal pekan ini.

Indeks Kejutan Ekonomi AS Citigroup, yang mengukur sejauh mana data tersebut mengalahkan atau meleset dari perkiraan para ekonom, berada di 11,6, dibandingkan dengan rekor tertingginya di 270,8 yang disentuh pada tahun 2020.

Praveen Koropaty, ahli strategi suku bunga AS di Goldman Sachs, percaya The Fed ingin mengevaluasi laporan ketenagakerjaan selama Juli, Agustus dan September terlebih dahulu, sebelum berkomitmen untuk pelonggaran kebijakan uang mudah.

Di beberapa titik di bulan November atau Desember, “The Fed akan mengumumkan penurunan dan saya pikir pasar tidak akan panik, karena tanda-tandanya sudah terlihat,” katanya.

Tingkat impas inflasi

Tingkat impas, alias selisih antara imbal hasil treasury note dan Treasury Inflation Protected Security dalam durasi yang sama – menyempit. Ini pertanda investor mempercayai perkiraan The Fed bahwa inflasi tinggi akan bersifat sementara, tulis Craig Johnson, kepala teknisi pasar di Piper Sandler.

 “Kelesuan di pasar komoditas dan mundurnya momentum reflasi memberikan kredibilitas tambahan pada perkiraan Fed,” imbuh Johnson.

Selanjutnya: Ini Dua Poin yang Hambat G20 Membuat Komitmen untuk Atasi Perubahan Iklim

 

Bagikan

Berita Terbaru

Tertekan Libur Lebaran, Bisnis Taksi BIRD Bakal Ngacir Setelah Arus Balik
| Selasa, 10 Maret 2026 | 11:00 WIB

Tertekan Libur Lebaran, Bisnis Taksi BIRD Bakal Ngacir Setelah Arus Balik

PT Blue Bird Tbk (BIRD) diperkirakan akan mendapatkan berkah dari festive Lebaran, saat arus mudik dan arus balik Lebaran.

Eagle High Plantations (BWPT) Terbitkan Obligasi Senilai Rp 98,06 Miliar
| Selasa, 10 Maret 2026 | 10:36 WIB

Eagle High Plantations (BWPT) Terbitkan Obligasi Senilai Rp 98,06 Miliar

Sesuai jadwal, masa penawaran umum obligasi ini dimulai pada Senin (9/3) dan tanggal pencatatan di Bursa Efek Indonesia pada 12 Maret 2026. ​

Harga Minyak Terus Mendidih Tembus US$ 113, Ekspansi Data Center Bakal Terjerembap?
| Selasa, 10 Maret 2026 | 09:30 WIB

Harga Minyak Terus Mendidih Tembus US$ 113, Ekspansi Data Center Bakal Terjerembap?

Biaya energi menyedot sekitar 40% hingga 60% dari total pengeluaran operasional sebuah fasilitas pusat data.

Rupiah Loyo, IHSG Koreksi : Ini Rekomendasi Saham Hari Ini (10/3)
| Selasa, 10 Maret 2026 | 09:07 WIB

Rupiah Loyo, IHSG Koreksi : Ini Rekomendasi Saham Hari Ini (10/3)

Pelemahan IHSG 3,27% dan rupiah jadi sinyal. Analis berikan 3 rekomendasi saham potensial. Ketahui level beli dan target cuannya sekarang!

TP Rachmat Kantongi Cuan Tebal Usai Jual 42,24 Juta Saham, Prospek  ESSA Masih Oke?
| Selasa, 10 Maret 2026 | 08:59 WIB

TP Rachmat Kantongi Cuan Tebal Usai Jual 42,24 Juta Saham, Prospek ESSA Masih Oke?

TP Rachmat mulai tercatat sebagai pemegang saham ESSA dengan kepemilikan lebih dari 5% pada Februari 2024.

Buka Data Pemegang Saham di Atas 1%, Risiko Capital Outflow Mengintai Saham Big Caps
| Selasa, 10 Maret 2026 | 08:45 WIB

Buka Data Pemegang Saham di Atas 1%, Risiko Capital Outflow Mengintai Saham Big Caps

Foreign inclusion factor (FIF) emiten berpeluang menyusut sehingga akan menggiring dana asing keluar. 

Harga Saham ELSA Terjerembap Usai Tembus ATH, Haiyanto Gercep Profit Taking
| Selasa, 10 Maret 2026 | 07:36 WIB

Harga Saham ELSA Terjerembap Usai Tembus ATH, Haiyanto Gercep Profit Taking

Haiyanto baru tercatat sebagai pemegang saham PT Elnusa Tbk (ELSA) dengan kepemilikan di atas 5% pada Juni 2025.

Kenaikan Harga CPO dan Wacana B50 Diprediksi Membawa Berkah Bagi DSNG
| Selasa, 10 Maret 2026 | 05:32 WIB

Kenaikan Harga CPO dan Wacana B50 Diprediksi Membawa Berkah Bagi DSNG

Menyeruaknya perang di Timur Tengah membuat harga komoditas terkerek naik, salah satunya adalah minyak nabati dan CPO.

PANI dan CBDK Kompak Mencetak Pertumbuhan Laba Pada 2025
| Selasa, 10 Maret 2026 | 05:10 WIB

PANI dan CBDK Kompak Mencetak Pertumbuhan Laba Pada 2025

PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) dan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) mencatat pertumbuhan laba pada 2025.

TLKM Divestasi AdMedika ke Fullerton Health
| Selasa, 10 Maret 2026 | 04:54 WIB

TLKM Divestasi AdMedika ke Fullerton Health

Penandatangan CSPA dengan Fullerton Health merupakan langkah menuju realisasi divestasi penuh AdMedika Group

INDEKS BERITA

Terpopuler