Lima Tahun, Investor Syariah Naik Lima Kali Lipat

Sabtu, 16 April 2022 | 06:00 WIB
Lima Tahun, Investor Syariah Naik Lima Kali Lipat
[]
Reporter: Nur Qolbi | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, pasar modal syariah menunjukkan kinerja yang baik. Sama seperti Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sudah menembus level psikologis 7.000, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) telah melampaui level psikologis 200.

Saham syariah adalah efek berbentuk saham yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah di pasar modal. 

Direktur Pengembangan Pasar BEI Hasan Fawzi mengatakan, ISSI sempat menyentuh level penutupan tertinggi di 206,4 pada 8 April 2022. Sepanjang tahun ini hingga Kamis (14/2), ISSI tercatat menguat 8,71%.

Indeks syariah lainnya juga terlihat melaju. Jakarta Islamic Index (JII) naik 8,15%. Sedangkan indeks MES BUMN 17 naik 6,55%.

Saat ini, terdapat 480 saham yang masuk dalam Daftar Efek Syariah atau mencakup 61,38% dari total saham yang tercatat di BEI. Emiten baru yang tergolong efek syariah juga cukup banyak, yaitu 13 dari total 16 perusahaan.

Kapitalisasi pasar saham-saham syariah mencapai Rp 4.315,5 triliun atau setara 46% dari total market cap. "Rata-rata transaksi harian saham syariah berkontribusi 52,3%, frekuensi transaksi 64,4%, dan volume transaksi 53,8%," kata Hasan dalam acara Edukasi Wartawan Pasar Modal Syariah, Kamis (14/4).

Seiring dengan perkembangan saham-saham syariah, jumlah investor saham syariah juga terus bertambah. Per kuartal I-2022, jumlah investor syariah mencapai 108.345 investor, naik dari akhir 2021, yaitu 105.174 investor.

"Angka ini tumbuh hampir empat kalinya dalam lima tahun terakhir dengan tingkat keaktifan 16,6%," ucap Hasan. Sebagai gambaran, per akhir tahun 2017, jumlah investor saham syariah baru sebanyak 23.207 investor.

Kepada Divisi Pasar Modal Syariah BEI Irwan Abdalloh menambahkan, BEI menargetkan jumlah investor syariah dapat meningkat 30% pada 2022. Demi mendorong jumlah investor syariah aktif, BEI akan rutin mengadakan kegiatan edukasi, literasi, dan sosialisasi.

BEI juga akan melakukan pengembangan pasar dan menghadirkan inovasi produk. BEI juga mendorong kehadiran Anggota Bursa yang menyediakan Sharia Online Trading System (SOTS).

Analis MNC Sekuritas Herditya Wcaksana memprediksi, JII rawan terkoreksi terlebih dahulu. Ini karena top gainers indeks ini berasal dari sektor pertambangan. "Untuk saham pertambangan, kami mengamati, sudah berada di akhir-akhir penguatannya, sehingga rawan terkoreksi," kata Herditya, Kamis.

Mengutip data Bloomberg, top gainers JII yaitu PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dengan kenaikan 70,41% year to date. Saham tambang lainnya yaitu PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) tercatat naik 46,67% serta PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sebesar 37,64%. Selain itu, secara teknikal, Herditya melihat, indikator stochastic JII melandai dan belum menunjukkan tanda penguatan lagi.

Sebaliknya, dia melihat ada beberapa saham losers yang dapat dicermati karena pergerakannya sudah cenderung downtrend dan ada peluang pembalikan. Dia merekomendasikan buy on weakness untuk EMTK dengan target harga Rp 2.960, INDF target harga Rp 6.250-Rp 6.500 dan BUKA di Rp 390-Rp 440 per saham.

 

 

Bagikan

Berita Terbaru

Aturan Reaktif Soal Free Float Dinilai Tak Realistis, 321 Emiten Butuh Rp 156 Triliun
| Kamis, 05 November 2026 | 16:06 WIB

Aturan Reaktif Soal Free Float Dinilai Tak Realistis, 321 Emiten Butuh Rp 156 Triliun

Otoritas Jasa Keuanan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) perlu mempertimbangkan relaksasi tenggat waktu secara selektif.

Ekonomi Tumbuh 5,47% di Kuartal III-2026, Konsumsi Rumah Tangga Justru Terkontraksi
| Kamis, 05 November 2026 | 13:46 WIB

Ekonomi Tumbuh 5,47% di Kuartal III-2026, Konsumsi Rumah Tangga Justru Terkontraksi

BPS mencatat konsumsi rumah tangga pada kuartal III-2026 terkontraksi 0,57% dibandingkan kuartal sebelumnya.

Pemerintah Siapkan Revisi Aturan DHE SDA, Emiten Nikel Paling Terdampak, CPO Aman
| Kamis, 05 November 2026 | 11:03 WIB

Pemerintah Siapkan Revisi Aturan DHE SDA, Emiten Nikel Paling Terdampak, CPO Aman

Ada potensi ketergantungan perusahaan terhadap pembiayaan perbankan dalam dolar AS meningkat jika fleksibilitas penggunaan DHE lebih terbatas.

Kinerja Keuangan TINS Solid, Harga Timah Global dan Permintaan China Jadi Tantangan
| Kamis, 05 November 2026 | 11:00 WIB

Kinerja Keuangan TINS Solid, Harga Timah Global dan Permintaan China Jadi Tantangan

Prospek TINS masih positif, tetapi risiko pada tahun 2027 adalah normalisasi harga komoditas dan margin keuntungan.

BRIS Bak Hadapi Simalakama, Wajib Mengejar Free Float Saat Harga Saham Anjlok Parah
| Kamis, 05 November 2026 | 10:02 WIB

BRIS Bak Hadapi Simalakama, Wajib Mengejar Free Float Saat Harga Saham Anjlok Parah

Emiten dipaksa memenuhi ketentuan minimum free float di saat pasar saham tengah diliputi ketidakpastian. 

Emiten Ritel Cetak Kinerja Positif, Ini Prospek Saham AMRT, MIDI, HERO, dan RANC
| Kamis, 05 November 2026 | 08:57 WIB

Emiten Ritel Cetak Kinerja Positif, Ini Prospek Saham AMRT, MIDI, HERO, dan RANC

Emiten yang mampu beradaptasi dengan perubahan pola konsumsi masyarakat berpeluang memperoleh kinerja yang lebih baik.

Ketidakpastian Masih Tinggi, Premi Risiko Investasi Mendaki
| Kamis, 05 November 2026 | 08:37 WIB

Ketidakpastian Masih Tinggi, Premi Risiko Investasi Mendaki

 Kenaikan credit default wwap (CDS) mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap tekanan global dan domestik. 

Kinerja ANTM Masih Solid, Tapi Tantangan Ini Menghantui Margin Jangka Menengah
| Kamis, 05 November 2026 | 08:32 WIB

Kinerja ANTM Masih Solid, Tapi Tantangan Ini Menghantui Margin Jangka Menengah

Prospek ANTM ke depan juga dibayangi tantangan, seperti pelemahan penjualan emas dan harga bijih nikel yang dapat menekan profitabilitas.

Penyadap Pengusaha
| Kamis, 05 November 2026 | 08:31 WIB

Penyadap Pengusaha

Penyadapan bisa menciptakan efek gentar (chilling effect) di pengusaha. Mereka menjadi berhati-hati berkomunikasi dan membicarakan strategi.

Prospek Saham Poultry Kuartal IV-2026, JPFA dan CPIN Masih Punya Peluang Tumbuh
| Kamis, 05 November 2026 | 08:21 WIB

Prospek Saham Poultry Kuartal IV-2026, JPFA dan CPIN Masih Punya Peluang Tumbuh

Kenaikan biaya bahan baku pakan serta pelemahan nilai tukar rupiah dapat menekan margin segmen pakan ternak.

INDEKS BERITA

Terpopuler