Lima Tahun Lagi, Orang Super Kaya di Indonesia Diprediksi Melonjak 82%

Selasa, 07 Juli 2026 | 21:43 WIB
Lima Tahun Lagi, Orang Super Kaya di Indonesia Diprediksi Melonjak 82%
[ILUSTRASI. Standar Kekayaan Kelas Atas pada Usia 69 Tahun dan Makna Aman Secara Finansial (Dok/Unsplash)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia diproyeksi menjadi negara dengan pertumbuhan jumlah orang super kaya alias ultra high net worth individuals (UNHWI) tercepat di dunia hingga 2031. Laporan The Wealth Report 2026 2026 dari Knight Frank memebeberkan bahwa jumlah individu dengan kekayaan bersih di atas US$ 30 juta di Indonesia diperkirakan melonjak 82% dalam lima tahun, dari yang berjumlah 3.833 orang pada 2026, menjadi 6.966 orang pada tahun 2031.

Pertumbuhan ini menjadi yang tertinggi di dunia, melampaui Arab Saudi dan Polandia yang diproyeksi tumbuh 63% serta Vietnam dan Australia yang sebesar 59%.



Asal tahu saja, posisi Indonesia yang berada di peringkat pertama dari sisi laju pertumbuhan, bukan dari jumlah orang super kaya. Secara absolut, jumlah UNHWI di Indonesia masih berada jauh di bawah negara-negara maju.

Jumlah miliarder di Tanah Air diproyeksikan naik dari 33 orang pada 2026 menjadi 49 orang pada 2031 atau tumbuh sekitar 49%.  Angka tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ke-12 dunia dalam pertumbuhan populasi miliarder selama lima tahun ke depan.

Secara global, Knight Frank mencatat populasi UHNWI meningkat dari 551.435 orang pada 2021 menjadi 713.626 orang pada 2026.

Baca Juga: Menakar Efek Pungutan Pajak E-commerce ke Kinerja Global Niaga Digital (BELI)

Dalam kurun lima tahun tersebut, terdapat 162.191 orang baru yang berhasil menembus kekayaan lebih dari US$ 30 juta atau setara rata-rata 89 orang setiap hari.  Amerika Serikat masih menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan orang super kaya dunia, disusul China dan India sebagai mesin pertumbuhan kekayaan global.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai ada beberapa faktor yang menjelaskan mengapa Indonesia mencatat proyeksi pertumbuhan tertinggi.

Josua mengatakan, faktor pertama adalah efek basis yang relatif rendah. Dengan jumlah awal hanya 3.833 orang, tambahan sekitar 3.133 orang hingga 2031 sudah menghasilkan pertumbuhan mencapai 82%.

Kedua, Indonesia sedang berada dalam fase akumulasi kekayaan berbasis aset. Pertumbuhan tersebut didorong oleh berbagai sektor, mulai dari komoditas, hilirisasi, properti, sektor keuangan, teknologi, hingga bisnis keluarga yang terus berkembang.

Ketiga, ukuran ekonomi Indonesia yang besar, populasi yang mencapai lebih dari 280 juta jiwa, serta ruang pertumbuhan aset produktif yang masih luas turut membuka peluang lahirnya lebih banyak individu dengan kekayaan sangat tinggi.

“Indonesia memang memiliki potensi akumulasi modal yang besar sehingga menjadi negara dengan proyeksi pertumbuhan orang ultra-kaya tercepat,” ujar Josua saat dihubungi KONTAN, Selasa (7/7).

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

BI Minta Bank Dorong Penyaluran Kredit UMKM
| Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:30 WIB

BI Minta Bank Dorong Penyaluran Kredit UMKM

Pertumbuhan kredit ke sektor tersebut hingga pertengahan 2026 masih tipis, hanya 1,2% secara tahunan

Purbaya Tambah Rp 31 Triliun untuk PPPK Jadi PNS
| Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:11 WIB

Purbaya Tambah Rp 31 Triliun untuk PPPK Jadi PNS

Menkeu Purbaya memastikan tambahan anggaran tersebut tidak menambah defisit anggaran tahun depan    

IHSG Berpeluang Lanjut Menguat Jumat (20/8), Simak Rekomendasi Sejumlah Saham
| Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:03 WIB

IHSG Berpeluang Lanjut Menguat Jumat (20/8), Simak Rekomendasi Sejumlah Saham

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan kembali mengalami penguatan pada perdagangan Jumat (20/8/2026).

SILO Akuisisi 14 RS Senilai Rp 9 Triliun, Lebih dari Sekadar Asset Recycling?
| Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:01 WIB

SILO Akuisisi 14 RS Senilai Rp 9 Triliun, Lebih dari Sekadar Asset Recycling?

Dampak terhadap laba SILO bergantung pada perbandingan antara beban sewa yang berhasil dihindari dengan tambahan depresiasi dan beban bunga.​

Batasan BBM Bersubsidi Hemat Anggaran 10%
| Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:01 WIB

Batasan BBM Bersubsidi Hemat Anggaran 10%

Pemerintah akan membatasi pembelian bahan bakar minyak (BBM) subsidi bagi masyarakat yang masuk desil 10 mulai tahun ini

Dalam Enam Bulan Utang Luar Negeri BI Melesat 72%
| Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:43 WIB

Dalam Enam Bulan Utang Luar Negeri BI Melesat 72%

Posisi utang luar negeri (ULN) bank sentral per akhir Juni 2026 sebesar US$ 42,46 miliar            

Sebelum Berlibur Akhir Pekan, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:35 WIB

Sebelum Berlibur Akhir Pekan, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Setelah asing mulai berbalik melakukan akumulasi, setidaknya tekanan terhadap IHSG menjadi lebih ringan. 

Daya Ungkit Belanja Semakin Menyusut
| Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:33 WIB

Daya Ungkit Belanja Semakin Menyusut

Alokasi belanja pegawai meningkat di tengah penurunan belanja barang dan belanja modal              

Inquiry Lahan Kawasan Industri SSIA Melonjak 88%, Konversi ke Pre-sales Jadi Ujian
| Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:22 WIB

Inquiry Lahan Kawasan Industri SSIA Melonjak 88%, Konversi ke Pre-sales Jadi Ujian

SSIA bakal mengembangkan Subang Smartpolitan Phase 3 seluas 400 ha dengan kebutuhan belanja modal sekitar Rp 1 triliun.

Godzilla El Nino Ancam Produksi Sawit, Bagaimana Prospek Saham AALI?
| Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01 WIB

Godzilla El Nino Ancam Produksi Sawit, Bagaimana Prospek Saham AALI?

Proyeksi kenaikan harga TBS bisa berpengaruh ke AALI karena ketergantungan yang cukup tinggi terhadap pasokan dari pihak eksternal.

INDEKS BERITA