Lisa Widodo, Dari Seorang Bankir Menjadi Srikandi Blibli.Com

Sabtu, 23 Juli 2022 | 16:10 WIB
Lisa Widodo, Dari Seorang Bankir Menjadi Srikandi Blibli.Com
[Lisa Widodo, Co-Founder dan Chief Operating Officer Blibli.com]
Reporter: Akmalal Hamdhi, Azis Husaini | Editor: Azis Husaini

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Niat baik selalu mengiringi langkah Lisa Widodo, Co Founder dan Chief Operating Officer Blibli.com dalam meniti karier. Segala hal yang dilakukannya adalah buah pikiran yang berlandaskan logika dan akal sehat.

Tak pernah disangka, perjalanan karier Lisa selalu mengarahkannya untuk mengurusi bidang teknologi. Inilah yang membuatnya dipercaya membangun teknologi kebutuhan belanja masa kini, Blibli.

Sedari kecil, Lisa dikenal sebagai sosok yang penuh ambisi untuk menggapai setiap mimpinya. Orang tuanya percaya bahwa Lisa dapat mengemban tanggung jawab yang besar di kemudian hari. Pola didik orangtua yang selalu bisa memberikan alasan atas sesuatu hal, membuat Lisa tumbuh menjadi orang yang logis.

Lisa membekali perjalanan kariernya dengan berkuliah di The University of Texas at Austin pada tahun 1998. Lisa mengambil spesialisasi jurusan teknik mesin lantaran terinspirasi dari banyak nama besar pemimpin perusahaan yang kala itu berlatarbelakang pendidikan teknik mesin.

Namun ia tak pernah membatasi diri untuk terus berkembang selama menempuh pendidikan. Ia banyak bertanya untuk mencari kesempatan lainnya, seperti menghasilkan uang tambahan selama berkuliah di Amerika Serikat.

Saat masih berkuliah, Lisa bekerja di laboratorium komputer kampusnya sebagai asisten operator. Ia juga sempat mengambil program magang selama setahun di perusahaan internasional, yakni Bayer sebagai process engineer. Hal inilah yang menjadi cikal bakal Lisa berkecimpung di dunia teknologi.

Tidak berhenti di situ, Lisa melanjutkan pendidikannya untuk mengambil program S2 pada tahun 2002-2004 di universitas yang sama. Namun, kali ini ia mengambil jurusan Material Science and Mechanical Engineering Program, tepatnya membahas mengenai besi dan baja.

Kala itu ia mendapat beasiswa hasil rekomendasi profesor yang telah ia kenal selama di Amerika Serikat. Sebagai imbalan, Lisa banyak membantu pekerjaan sebagai riset asisten untuk membuat tesis.

Potensi Lisa mengurusi bidang teknologi sudah mulai terlihat kala ia mengambil kesempatan bekerja di SEMATECH (Semiconductor Manufacturing Technology), yakni konsorsium milik Pemerintah Amerika Serikat untuk melakukan riset dan pengembangan chip manufaktur.

Lisa menjadi satu-satunya pegawai yang berlatarbelakang pendidikan S2 di SEMATECH, sementara yang lainnya berpendidikan S3.

"Kerjaan saya bikin riset, bikin paper dan presentasi di konferensi-konferensi. Saya sering dipanggil jadi pembicara mengenai riset yang kukerjakan. Risetnya tentang semikonduktor dan bagaimana cara kerja sebuah teknologi," kata Lisa saat diwawancarai KONTAN, Jumat (22/7).

Dari situ, banyak tawaran-tawaran yang menghampirinya untuk bekerja. Petinggi perusahaan SEMATECH menyarankan Lisa untuk mengambil pendidikan S3 agar tidak kalah populer dengan rekan lainnya. Beruntungnya, lagi-lagi Lisa ditawari untuk berkuliah tanpa biaya alias ditanggung oleh SEMATECH.

Hanya saja, kehendak orang tua belum mengamini langkah Lisa selanjutnya. Ibunya khawatir dengan anak perempuannya yang terlalu fokus mengejar pendidikan di negeri orang.

Sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara akhirnya ia mengikuti kata hati untuk kembali ke Indonesia. Sebab, awalnya Lisa hanya mengambil cuti pekerjaan selama sebulan untuk balik ke Indonesia, karena masih menimbang tawaran berkuliah yang diberikan.

Namun, karena melihat Ibu yang juga sedang sakit, ia memutuskan pulang di sekitar akhir tahun 2004.

Lisa mengaku,  saat kembali ke Indonesia agak kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai. Bukan karena pendidikan yang menjadi permasalahan, namun pertimbangan utama adalah mencari pekerjaan yang memiliki jam kerja cukup.

"Jadi saya cari-cari informasi lah. Banyak ngobrol dengan orang, terutama lulusan sejenis,” lanjut Lisa.

Sempat berpikir untuk bekerja sebagai konsultan, Lisa akhirnya memilih bekerja di bidang perbankan. Pada tahun 2006, ia memulai program Management Trainee dari Citibank, masuk divisi operation and technology.

Sekali lagi, kehidupan Lisa menggiringnya untuk bekerja di bidang teknologi. Tiga tahun Lisa menghabiskan waktunya di perusahaan perbankan asal Amerika Serikat itu.

Lewat karier yang dia jalani di Citibank ini pula membuka kesempatannya bertemu dengan pemimpin Grup Djarum. Sebelum masuk ekosistem Grup Djarum, Lisa pernah suatu waktu mewawancarai lima perusahaan.

Salah satunya adalah Djarum sebagai salah satu perusahaan kongomerat terbesar di Indonesia. "Waktu itu saya sempat tahu Djarum family. Entah kenapa ketemu lagi setelah tiga tahun.

Ternyata dia ingat dan menawarkan pekerjaan," ucap Lisa.

Kebetulan, lanjut Lisa, pekerjaan yang ditawarkan berurusan dengan teknologi. Kala itu, Djarum tengah merancang ekosistem baru berbasis teknologi agar memperluas portofolio bisnis. Tanpa banyak pikir panjang, Lisa pun mengiyakan tawaran tersebut pada tahun 2009.

Lisa teringat kutipan dari Chief Operating Officer (COO) Facebook, Sheryl Sandberg yang begitu menginspirasi. "If you’re offered a seat on a rocket ship, don’t ask what seat" kata-kata ajaib inilah yang mendorong Lisa memilih Djarum sebagai pelabuhan karier selanjutnya.

Bahwa jangan pernah sekalipun bertanya apabila perusahaan besar seperti Djarum meminta untuk bergabung.

"Jadi sebetulnya waktu itu saya belum tahu akan buat Blibli. Kalau ditawarkan Building the Future dengan Djarum, anggap saja tahu,” canda Lisa.

Oleh karena itu, Lisa dapat dikatakan sebagai salah satu pendiri dari platform belanja e-commerce Blibli. Memulai karier sebagai staf, Lisa bersama rekan lainnya merancang sebuah proyek sejak 2009 hingga rancangan tersebut matang pada 2011.

Pekerjaan yang dilakukannya meliputi brainstorming arah dari proyek, kebutuhan pendanaan, dan bagaimana ekosistem ini dapat mendukung bisnis Grup Djarum. Salah satu fakta menariknya, dalam proposal disebutkan bahwa brand yang diusung adalah Belibeli. Namun, setelah dikonsultasikan akhirnya dipilih brand dengan nama Blibli.     

Boks

Terkadang pekerjaan yang tidak ada habisnya cukup menguras energi Lisa Widodo. Di luar kesibukannya dalam bekerja, Lisa menyalurkan kesenangan dalam bersepeda. Saat akhir pekan, digunakan sebaik mungkin oleh ibu dua anak ini untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.

Meski sempat mengikuti kursus golf saat masih kecil, Lisa mengaku, tidak begitu menyukai kegiatan tertentu secara spesifik. Karena sekali lagi, apa yang dilakukan Lisa berlandaskan prinsip logis, bahwa melakukan sesuatu hal haruslah didasari oleh kebutuhan.

Dengan prinsip itu, ada banyak kegiatan Lisa mengisi waktu senggang. Selain aktivitas fisik seperti bersepeda, ia juga menyukai aktivitas layaknya perempuan lainnya. Sebut saja  menonton drama Korea (drakor) agar tidak ketinggalan dalam topik terbaru. Hanya saja, Lisa sangat selektif dalam memilih tontonan.
"Saya nonton yang benar-benar menjadi buah bibir di kalangan ibu-ibu," cetusnya.

Di lain waktu saat membutuhkan, Lisa akan mengambil cuti, baik itu untuk menikmati kegiatan liburan ataupun hanya tiduran di sepanjang hari.

Tentunya, ia juga menyukai kesenangan berbelanja. Hal ini pula yang disyukurinya bekerja di lingkungan Blibli sebagai platform belanja nasional. "Saya tuh suka banget kerja di Blibli. Jadi kebutuhan kadang dikeluarkan untuk belanja terus. Bisa dibilang saya pelanggan platinum Blibli," canda Lisa.

Dalam waktu dekat, Lisa belum membayangkan target pribadi selanjutnya karena masih ingin mengeksplorasi banyak hal di Blibli. Menurutnya, kesempatan berkembang dalam ekosistem di Grup Djarum masih terbuka lebar, dan ingin membawa Blibli jauh lebih besar lagi.

"Segala hal yang saya lakukan adalah untuk melakukan yang terbaik sebagai pemimpin, dan tidak pernah menuntut hasilnya," ujar Lisa.  n

Bagikan

Berita Terbaru

Belanja Tertahan, Kinerja Asuransi Syariah Tertekan
| Kamis, 10 September 2026 | 04:45 WIB

Belanja Tertahan, Kinerja Asuransi Syariah Tertekan

Kontribusi yang didapat perusahaan asuransi syariah mencapai Rp 14,19 triliun hingga Juli 2026, alias terkontraksi 12,67% secara tahunan.

Belanja Tertahan, Kinerja Asuransi Syariah Tertekan
| Kamis, 10 September 2026 | 04:45 WIB

Belanja Tertahan, Kinerja Asuransi Syariah Tertekan

Kontribusi yang didapat perusahaan asuransi syariah mencapai Rp 14,19 triliun hingga Juli 2026, alias terkontraksi 12,67% secara tahunan.

Belanja Tertahan, Kinerja Asuransi Syariah Tertekan
| Kamis, 10 September 2026 | 04:45 WIB

Belanja Tertahan, Kinerja Asuransi Syariah Tertekan

Kontribusi yang didapat perusahaan asuransi syariah mencapai Rp 14,19 triliun hingga Juli 2026, alias terkontraksi 12,67% secara tahunan.

Seruput Kopi di Tengah Angka Miskin Bank Dunia
| Kamis, 10 September 2026 | 04:28 WIB

Seruput Kopi di Tengah Angka Miskin Bank Dunia

Perdebatan metodologi statistik antara BPS dan Bank Dunia sejatinya harus membuka mata para pengambil kebijakan.

Libur Musim Panas Mulai Ramai, Pariwisata Indonesia Menggeliat pada Juli 2026
| Rabu, 09 September 2026 | 16:20 WIB

Libur Musim Panas Mulai Ramai, Pariwisata Indonesia Menggeliat pada Juli 2026

Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada Juli 2026 mencapai 1,53 juta kunjungan, meningkat 9,99% dibandingkan Juni 2026.

Tangkap Peluang Permintaan Semen, SMGR Siapkan Strategi
| Rabu, 09 September 2026 | 09:02 WIB

Tangkap Peluang Permintaan Semen, SMGR Siapkan Strategi

PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) siapkan berbagai strategi untuk memaksimalkan prospek positif industri semen di dalam negeri

AKRA Andalkan Bisnis Energi Hijau dan Kawasan Industri
| Rabu, 09 September 2026 | 08:58 WIB

AKRA Andalkan Bisnis Energi Hijau dan Kawasan Industri

PT AKR Corporindo Tbk (AKRO) berupaya menyediakan berbagai solusi energi untuk kawasan industri JIIPE

Ancang-Ancang Menyambut Musim Dividen
| Rabu, 09 September 2026 | 08:50 WIB

Ancang-Ancang Menyambut Musim Dividen

Emiten tambang dan perkebunan kelapa sawit (CPO) berpeluang memberi dividen yang menarik pada tahun ini

Menakar Prospek Saham FILM, MSIN dan RAAM di Tengah Wacana Insentif Pajak Film
| Rabu, 09 September 2026 | 08:44 WIB

Menakar Prospek Saham FILM, MSIN dan RAAM di Tengah Wacana Insentif Pajak Film

Dukungan pemerintah masih minim dan membuat industri perfilman Indonesia tertinggal dari negara lain.

Alam Sutra Dongkrak Penjualan Rp 300 Miliar dari Expo
| Rabu, 09 September 2026 | 08:25 WIB

Alam Sutra Dongkrak Penjualan Rp 300 Miliar dari Expo

Manajemen PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) membidik tambahan marketing sales Rp 300 miliar melalui Alam Sutera Group Expo 2026.

INDEKS BERITA