Mari Menghitung Berbagai Return dalam Berinvestasi

Selasa, 21 November 2023 | 10:56 WIB
Mari Menghitung Berbagai Return dalam Berinvestasi
[ILUSTRASI. Budi Frensidy, Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal UI]
Reporter: Harian Kontan | Editor: Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Tujuan utama semua investasi adalah mendapatkan return. Investor umumnya menginginkan return positif dan setinggi mungkin. Return investasi yang negatif mengakibatkan  kekayaan investor berkurang.

Return investasi positif, tapi lebih kecil daripada inflasi periodik akan mengakibatkan total kekayaan investor bertambah secara nominal api berkurangsecara riil. 

Ilustrasinya, seorang investor yang hanya mendapatkan return 5% dalam satu tahun saat tingkat inflasi tahunan mencapai 7% mengalami penurunan kekayaan riil sebesar 2% (7% – 5%).

Return riil adalah return nominal dikurangi tingkat inflasi. Agar daya beli tidak berkurang, return nominal investasi harus melebihi tingkatinflasi. Menghitung return nominal periode satu tahun relatif mudah. Cukup mengurangi investasi akhir dengan investasi awal dan hasilnya dibagi investasi awal.

Penghitungan return menjadi tidak sederhana lagi untuk investasi lebih dari satu periode. Dan menjadi lebih rumit lagi jika ada penambahan atau pengambilan uang selama periode itu.

Ada dua ukuran return berdasarkan waktu yaitu aritmetik dan geometrik Misalkan seseorang berinvestasi saham pada awal tahun 2021 sebesar Rp 100 juta. Pada akhir tahun 2021, investasinya menjadi Rp 200 juta dan tetap sebesar Rp 200 juta pada akhir tahun 2022. Berapa return rata-rata tahunan?

Kita menghitung return selama tahun 2021 (r1 ) yaitu 100% (Rp 100 juta menjadi Rp200 juta) dan tahun 2022 (r 2) yaitu 0%. Secara aritmetik, return tahunan adalah 50% yaitu (100% + 0%) dibagi 2. Masalahnya, jika return 50% setahun, uang Rp 100 juta mestinya menjadi Rp 150 juta dalam satu tahun dan menjadi Rp 225 juta setelah dua tahun dan bukan Rp 200 juta.

Jika return aritmetik bukan ukuran yang tepat untuk multi periode, mestinya ada ukuran lain. Kita menggunakan return geometrik yang merupakan akar n (n = jumlah periode = 2 dalam contoh ini) dari nilai akhir dibagi nilai awal dikurangi 1.

Dalam contoh di atas, return geometrik adalah √ (Rp200 juta/Rp 100 juta) – 1 = 41,42%. Return geometrik akan sama dengan return aritmetik jika dan hanya jika besar return untuk setiap periode, yaitu tahun 2021 dan 2022 dalam contoh kita, adalah sama.Katakan menjadi Rp 400 juta di akhir tahun 2022. Sehingga return aritmetik dan geometrik sama-sama 100%. 

Contoh lain, dari Rp 100 juta menjadi Rp 120 juta dan kemudian R\p 144 juta yaitu 20%. Dalam semua keadaan lainnya, return geometrik akan lebih rendah daripada return aritmetik sehingga disebut ukuran return yang konservatif. Variasi lain dari penghitungan return adalah jika di akhir tahun 2021, karena puas dengan return 100% pada tahun 2021, investor menambah Rp 800 juta. Sehingga total investasi di awal tahun 2022 menjadi Rp 1 miliar.

Berapa return rata-rata tahunan jika nilai investasinya menjadi Rp 1,06 miliar pada akhir tahun 2022?  Return tahun 2022 ternyata hanya sebesar 6%. Karenanya, return aritmetik adalah 53% dan return geometrik adalah 45,6%.

Kedua return berdasarkan waktu di atas memberikan bobot yang sama setiap tahun. Padahal jumlah uang yang ditanamkan dalam dua tahun itu berbeda yaitu, Rp 100 juta di tahun 2021 dan Rp 1 miliar di tahun 2022. Dalam return berdasarkan waktu, r 1 dan r 2 dianggap berbobot sama dan kita ingin mencari rata-ratanya. 

Dalam return berdasarkan uang, besarnya uang dalam setiap periode diperhitungkan. Cara menghitung return berdasarkan uang adalah sama seperti menghitung internal rate of return (IRR) yaitu tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang kas keluar dan nilai sekarang kas masuk yaitu PV (pengeluaran) = PV (penerimaan). 

Dengan menggunakan kalkulator finansial atau MS-Excel, dengan memasukkan arus kas -100 juta di tahun 0, -800 juta di tahun 1 dan 1,06 miliar di tahun kedua, kita akan mendapatkan return rata-rata berdasarkan uang adalah 15,75%.

Baca Juga: Punya Valuasi Murah dan Kinerja Ciamik, Saham Bank-Bank Ini Layak Dikoleksi

Sekarang kita mempunyai tiga return yang berbeda yaitu 53%, 45,6%, dan 15,75%, manakah yang paling tepat? Tergantung tujuannya. 
Return aritmetik karena kurang akurat untuk mengukur kinerja beberapa periode, sebaiknya digunakan untuk proyeksi ke depan. Untuk tujuan mengukur kinerja portofolio investasi, pilihannya tinggal return geometrik dan return berdasarkan uang. Literatur keuangan dan investasi mengatakan kedua ukuran ini dapat digunakan untuk kondisi berbeda.

Jika investasi di atas dilakukan oleh seorang investor ritel yang mempunyai wewenang menentukan kapan menambah atau mengurangi besar investasinya, return yang digunakan mestinya adalah return berdasarkan uang yaitu 15,75%.  Kenapa di tahun 2021 dia hanya menanamkan Rp 100 juta tetapi Rp 1 miliar di tahun 2022 adalah keputusannya. 

Berbeda dengan investor ritel, untuk investasi oleh manajer investasi sebuah reksadana atau manajer keuangan sebuah perusahaan, return yang harus digunakan untuk mengukur kinerjanya adalah return geometrik. 

Mengingat,  keputusan mengenai jumlah investasi yang ditanamkan adalah bukan dalam kendalinya, tetapi di tangan para nasabahnya melalui aksi subscription dan redemption atau tergantung anggaran perusahaan untuk kasus manajer keuangan. 

Bukan manajer investasi atau manajer keuangan yang menentukan besaran Rp 100 juta di tahun 2021 dan Rp 1 miliar di tahun 2022 sehingga tidak fair membobotkan jumlah uang ini untuk mengukur kinerja return. 

Berbagai ukuran return di atas sejatinya masih mempunyai kelemahan yang sama, yaitu belum memperhitungkan risiko. Jika hal tersebut menjadi pertimbangan,  kita mempunyai sedikitnya enam risk-adjusted return.  Ternyata ada banyak istilah return dan tidak semuanya mudah menghitungnya           

Bagikan

Berita Terbaru

UNVR Fokus Bisnis Inti, Aset Hasil Akuisisi Lama Satu per Satu Dilepas
| Kamis, 08 Januari 2026 | 19:59 WIB

UNVR Fokus Bisnis Inti, Aset Hasil Akuisisi Lama Satu per Satu Dilepas

Unilever global mendorong anak usahanya, termasuk di Indonesia, untuk lebih fokus pada core business dengan profitabilitas yang lebih stabil.

Rating Overweight Warnai Sektor Konsumer, Apa Artinya Untuk MYOR, INDF, Hingga UNVR?
| Kamis, 08 Januari 2026 | 18:02 WIB

Rating Overweight Warnai Sektor Konsumer, Apa Artinya Untuk MYOR, INDF, Hingga UNVR?

BRI Danareksa meyakini bahwa penyesuaian ke atas terhadap upah minimum akan memberikan dukungan tambahan terhadap daya beli rumah tangga.

Relaksasi Fiskal untuk Daerah Terdampak Banjir
| Kamis, 08 Januari 2026 | 13:32 WIB

Relaksasi Fiskal untuk Daerah Terdampak Banjir

Beleid baru memberi fleksibilitas TKD dan restrukturisasi pinjaman PEN daerah                       

Modal Belum Cukup Rp 250 Miliar, Saham VINS, AHAP, dan YOII Malah Berlari Kencang
| Kamis, 08 Januari 2026 | 09:30 WIB

Modal Belum Cukup Rp 250 Miliar, Saham VINS, AHAP, dan YOII Malah Berlari Kencang

Untuk mengejar target permodalan, emiten asuransi bisa menggelar private placement atau rights issue.

Menakar Arah Saham EMTK di Tengah Aksi Beli Saham SUPA dan Wacana IPO Vidio
| Kamis, 08 Januari 2026 | 08:44 WIB

Menakar Arah Saham EMTK di Tengah Aksi Beli Saham SUPA dan Wacana IPO Vidio

Penguatan narasi ekosistem digital dan potensi monetisasi aset dinilai menjaga minat investor terhadap pergerakan saham EMTK.

Harga Nikel Melesat Sinyal Positif Bagi Saham Lapis Kedua, Beli DKFT, NICL atau NICE?
| Kamis, 08 Januari 2026 | 08:10 WIB

Harga Nikel Melesat Sinyal Positif Bagi Saham Lapis Kedua, Beli DKFT, NICL atau NICE?

Harga nikel global terbang 24,33 persen sebulan terakhir. Simak analisis valuasi DKFT, NICL, dan NICE serta rekomendasi analis di sini.

AirAsia Indonesia (CMPP) Bersiap Buka Rute Baru ke Vietnam
| Kamis, 08 Januari 2026 | 07:15 WIB

AirAsia Indonesia (CMPP) Bersiap Buka Rute Baru ke Vietnam

Pembukaan rute Bali–Da Nang menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam memperluas jaringan internasional yang berfokus pada destinasi leisure.

Terulang Lagi, IHSG Cetak Rekor, Rupiah Nyungsep, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini
| Kamis, 08 Januari 2026 | 07:03 WIB

Terulang Lagi, IHSG Cetak Rekor, Rupiah Nyungsep, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini

Meski IHSG menguat, rupiah berlanjut terdepresiasi pada level Rp16,780 per dolar Amerika Serikat (AS). ​

Insentif Properti Mendorong Sektor Manufaktur
| Kamis, 08 Januari 2026 | 07:00 WIB

Insentif Properti Mendorong Sektor Manufaktur

Kebijakan memperpanjang insentif properti menjadi upaya mendorong daya beli masyarakat, serta memperkuat sektor ekonomi yang memiliki keterkaitan

Subsidi Biodiesel 2026 Diproyeksikan Tetap
| Kamis, 08 Januari 2026 | 06:45 WIB

Subsidi Biodiesel 2026 Diproyeksikan Tetap

Kesamaan nilai insentif tersebut seiring dengan alokasi volume biodiesel 2026 yang ditetapkan sebesar 15,65 juta kiloliter (kl).

INDEKS BERITA

Terpopuler