Melejit atau Menjerit?
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 mampu melesat sebesar 5,47%. Angka ini di atas perkiraan para ekonom yang hanya 5,2% dan lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya 5,29%.
Pencapaian ini layak diapresiasi. Namun, apakah pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi tanda bahwa kesejahteraan masyarakat telah meningkat?
In this economy, masih ditemukan persoalan daya beli di kalangan menengah ke bawah, kualitas pekerjaan, hingga pendapatan rumah tangga.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi rumah tangga yang merupakan penopang terbesar produk domestik bruto (PDB) tumbuh 5,04%. Konsumsi rumah tangga dan menyumbang 51,97% terhadap PDB. Namun, pertumbuhan konsumsi tidak selalu dibaca sebagai tanda penguatan daya beli.
Lihat saja data kinerja emiten ritel. Total pendapatan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) hingga 30 September 2026 sekitar Rp 101 triliun, atau hanya tumbuh 7,1%. Laba bersih pemilik jaringan toko Alfamart pun hanya meningkat 3,79% secara tahunan menjadi Rp 2,4 triliun. Sang kompetitor, PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET), induk usaha Indomaret malah mengalami penurunan laba sebesar 22,15% menjadi Rp 838,66 miliar.
Ini menjadi salah satu sinyal bahwa pertumbuhan konsumsi belum sepenuhnya diterjemahkan sebagai penguatan penjualan. Apalagi, Indeks Penjualan Riil September 2026 menurut survei Bank Indonesia hanya tumbuh 1,4%.
Persoalan yang lebih nyata terlihat di pasar kerja. Pada Agustus 2026, jumlah pekerja setengah pengangguran tercatat 12,84 juta orang, bertambah 1,24 juta orang dibandingkan setahun sebelumnya. Pengangguran terbuka masih mencapai 7,38 juta orang.
Lalu, siapa penikmat pertumbuhan ekonomi? Ketika pendapatan sebagian rumah tangga tertahan, manfaat ekspansi ekonomi berisiko lebih banyak terkonsentrasi pada kelompok dan sektor tertentu.
Karena itu, pemerintah wajib memperbaiki kualitas pertumbuhan ekonomi agar sejalan dengan indikator lain mulai dari penciptaan pekerjaan formal, peningkatan upah riil, penguatan industri, dan pemerataan pendapatan.
Apa artinya ekonomi tumbuh tinggi jika di sekitar kita ada kabar pasangan suami istri yang membunuh buah hatinya karena ketakutan tak bisa membiayai hidupnya.
