Tekanan terhadap Rupiah
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Entah karena kutukan, imbas fluktuasi perekonomian global atau karena fondasi ekonomi yang rapuh, atau karena faktor lain, posisi rupiah belakangan ini terus tertekan. Di sisa triwulan IV-2026, rupiah diperkirakan masuk pada posisi normal baru di seputar Rp 18.000. Keputusan bank sentral AS atau The Fed mempertahankan suku bunga acuan membuat selisih suku bunga dengan Indonesia tetap relatif sempit. Dengan demikian, daya tarik aset keuangan domestik belum cukup kuat meredam tekanan terhadap rupiah, terutama di tengah tingginya imbal hasil obligasi AS dan ketidakpastian pasar global.
Seperti diketahui, The Fed dilaporkan kembali mempertahankan suku bunga di level 3,75%-4,00% pada Kamis 29 Oktober 2026. The Fed menargetkan inflasi 2% dan menegaskan komitmennya untuk mewujudkan stabilitas harga. Bukan tidak mungkin bank sentral AS akan menaikkan suku bunga pada pengujung tahun 2026. Alih-alih posisi rupiah akan kembali membaik, akibat kebijakan The Fed posisi dolar AS berpotensi tetap kuat, sebaliknya posisi rupiah kemungkinan akan terpuruk.
Baca Juga: Aturan Reaktif Soal Free Float Dinilai Tak Realistis, 321 Emiten Butuh Rp 156 Triliun
