Melihat Ancaman Ekonomi di Balik Angka Inflasi yang Terkendali
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Data inflasi yang baru saja dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) diklaim masih bisa terjaga dan terkendali oleh Pemerintah. Namun, bila dikuliti lebih jauh, ada ancaman yang mengintai di masa depan.
Sebagai informasi, BPS menyebutkan bahwa pada Maret 2026, inflasi yang terjadi secara tahunan atau year on year (YoY) sebesar 3,48% YoY dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,95.
Daerah dengan tingkat inflasi tertinggi terjadi di Provinsi Aceh sebesar 5,31% dengan IHK sebesar 114,01. Daerah kabupaten atau Kota Gunungsitoli juga menjadi daerah dengan inflasi terbesar sebesar 6,30% dengan IHK sebesar 114,90 dan inflasi terendah terjadi di Kabupaten Minahasa Selatan sebesar 0,69% dengan IHK sebesar 111,78.
Lampung juga menjadi daerah dengan inflasi terendah secara tahunan sebesar 1,16% dengan IHK sebesar 110,32. Sementara deflasi secara tahunan terjadi di Kabupaten Minahasa Utara sebesar 0,31% dengan IHK sebesar 113,30.
Baca Juga: Arah Inflasi Tergantung Kebijakan Energi
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono juga menjelaskan, tekanan inflasi bulanan ini, utamanya datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 1,07% dengan andil 0,32%.
Lalu kelompok ikan segar dan daging ayam ras masing-masing juga memberikan andil inflasi sebesar 0,06%, sementara beras menyumbang 0,03%.
Sementara secara tahunan, inflasi lebih banyak dipicu oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mencatat inflasi 7,24% dengan andil 1,08%. Kenaikan tarif listrik menjadi faktor dominan. Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mencatat inflasi tinggi sebesar 15,32%.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menyebut, inflasi saat ini yang sebesar 3,48% masih berada dalam koridor target.
"Ke depan, kami akan kembali ke jalur sasaran seiring normalisasi permintaan pasca-Lebaran dan stabilnya harga pangan,” ujar Haryo.
Melihat catatan inflasi ini, Direktur Kebijakan Publik dan Keadilan Fiskal Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Media Wahyudi Askar memang tidak menampik bahwa inflasi di kisaran 3,48% masih terkendali. Namun, jika melihat lebih dalam, kondisinya lebih mengkhawatirkan.
"Permasalahannya bukan sekadar pada tinggi-rendahnya angka inflasi, melainkan pada struktur inflasi itu sendiri yang dinilai tidak sehat," tutur Media Wahyudi kepada Kontan, Kamis (2/4).
Alih-alih didorong oleh kenaikan harga barang sekunder atau tersier, inflasi justru berasal dari kebutuhan dasar masyarakat. Harga makanan, minuman, tembakau, serta komponen perumahan dan energi mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Tak hanya itu saja, komoditas seperti beras, daging ayam, telur, ikan segar, hingga minyak goreng menjadi penyumbang utama.
