Melihat Ancaman Ekonomi di Balik Angka Inflasi yang Terkendali

Jumat, 03 April 2026 | 07:00 WIB
Melihat Ancaman Ekonomi di Balik Angka Inflasi yang Terkendali
[ILUSTRASI. Inflasi di Banten pada Maret 2026 (ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Data inflasi yang baru saja dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) diklaim masih bisa terjaga dan terkendali oleh Pemerintah. Namun, bila dikuliti lebih jauh, ada ancaman yang mengintai di masa depan.

Sebagai informasi, BPS menyebutkan bahwa pada Maret 2026, inflasi yang terjadi secara tahunan atau year on year (YoY) sebesar 3,48% YoY dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,95.

Daerah dengan tingkat inflasi tertinggi terjadi di Provinsi Aceh sebesar 5,31% dengan IHK sebesar 114,01. Daerah kabupaten atau Kota Gunungsitoli juga menjadi daerah dengan inflasi terbesar sebesar 6,30% dengan IHK sebesar 114,90 dan inflasi terendah terjadi di Kabupaten Minahasa Selatan sebesar 0,69% dengan IHK sebesar 111,78.

Lampung juga menjadi daerah dengan inflasi terendah secara tahunan sebesar 1,16% dengan IHK sebesar 110,32. Sementara deflasi secara tahunan terjadi di Kabupaten Minahasa Utara sebesar 0,31% dengan IHK sebesar 113,30.

Baca Juga: Arah Inflasi Tergantung Kebijakan Energi

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono juga menjelaskan, tekanan inflasi bulanan ini, utamanya datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 1,07% dengan andil 0,32%.

Lalu kelompok ikan segar dan daging ayam ras masing-masing juga memberikan andil inflasi sebesar 0,06%, sementara beras menyumbang 0,03%.

Sementara secara tahunan, inflasi lebih banyak dipicu oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mencatat inflasi 7,24% dengan andil 1,08%. Kenaikan tarif listrik menjadi faktor dominan. Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mencatat inflasi tinggi sebesar 15,32%.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menyebut, inflasi saat ini yang sebesar 3,48% masih berada dalam koridor target.

"Ke depan, kami akan kembali ke jalur sasaran seiring normalisasi permintaan pasca-Lebaran dan stabilnya harga pangan,” ujar Haryo.



Melihat catatan inflasi ini, Direktur Kebijakan Publik dan Keadilan Fiskal Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Media Wahyudi Askar memang tidak menampik bahwa inflasi di kisaran 3,48% masih terkendali. Namun, jika melihat lebih dalam, kondisinya lebih mengkhawatirkan.

"Permasalahannya bukan sekadar pada tinggi-rendahnya angka inflasi, melainkan pada struktur inflasi itu sendiri yang dinilai tidak sehat," tutur Media Wahyudi kepada Kontan, Kamis (2/4).

Alih-alih didorong oleh kenaikan harga barang sekunder atau tersier, inflasi justru berasal dari kebutuhan dasar masyarakat. Harga makanan, minuman, tembakau, serta komponen perumahan dan energi mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Tak hanya itu saja, komoditas seperti beras, daging ayam, telur, ikan segar, hingga minyak goreng menjadi penyumbang utama.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Harga Emas Terangkat Pelemahan Dolar
| Sabtu, 08 Agustus 2026 | 08:00 WIB

Harga Emas Terangkat Pelemahan Dolar

Harga emas didukung penurunan harga energi dan melunaknya kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS).

Penguatan Rupiah Pekan Ini Terangkat Pelemahan Dolar
| Sabtu, 08 Agustus 2026 | 08:00 WIB

Penguatan Rupiah Pekan Ini Terangkat Pelemahan Dolar

Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot naik 0,15% secara harian menjadi Rp 17.897 per dolar Amerika Serikat (AS).

Merdeka dari Belenggu Keserakahan
| Sabtu, 08 Agustus 2026 | 07:05 WIB

Merdeka dari Belenggu Keserakahan

Fenomena yang terjadi yang bisa disebut sebagai serakahnomics harus dihapuskan demi menjamin pemenuhan hak semua warga.​

OJK Sebagai Fasilitator
| Sabtu, 08 Agustus 2026 | 07:00 WIB

OJK Sebagai Fasilitator

Terkesan ada upaya OJK menjaga jarak dari konflik di lapangan dan memilih peran layaknya hakim garis.​

Upaya Penetrasi Pasar Alat Farmasi PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI)
| Sabtu, 08 Agustus 2026 | 07:00 WIB

Upaya Penetrasi Pasar Alat Farmasi PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI)

Menelisik profil dan strategi bisnis PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) pasca mencatatkan saham perdana pada Juli 2026 

Bank Kecil Buka Peluang Tambah Lini Bisnis
| Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:30 WIB

Bank Kecil Buka Peluang Tambah Lini Bisnis

OJK membuka jalan menuju universal banking, memberi peluang bank kecil memperluas layanan keuangan jika dinilai siap menjalankannya.

Prospek Asuransi Energi di Indonesia Masih Cerah
| Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:30 WIB

Prospek Asuransi Energi di Indonesia Masih Cerah

Asuransi energi diproyeksi terus bertumbuh seiring ekspansi proyek migas dan transisi energi, meski risiko global tetap membayangi

Ekonomi Jakarta Tumbuh Lebih Moderat
| Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:21 WIB

Ekonomi Jakarta Tumbuh Lebih Moderat

Prospek tersebut didukung oleh investasi yang tetap kuat dan meningkatnya optimisme pelaku usaha.           

Total Bangun Persada (TOTL) Memacu Perolehan Kontrak Baru
| Sabtu, 08 Agustus 2026 | 04:25 WIB

Total Bangun Persada (TOTL) Memacu Perolehan Kontrak Baru

Total Bangun Persada membukukan perolehan kontrak baru senilai Rp 2,78 triliun hingga semester I-2026.

Upaya Ungkit Konsumsi dan Daya Beli
| Sabtu, 08 Agustus 2026 | 04:00 WIB

Upaya Ungkit Konsumsi dan Daya Beli

Peritel berharap kehadiran indoensia Shopping Festival (ISF) 2026 pada 7-23 Agustus 2026 bisa mengungkit daya beli.

INDEKS BERITA