Melihat Efek Domino di Balik Pelemahan Rupiah dan Defisit APBN

Senin, 27 April 2026 | 06:22 WIB
Melihat Efek Domino di Balik Pelemahan Rupiah dan Defisit APBN
[ILUSTRASI. IHSG Menguat-Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan terhadap pasar domestik semakin mencekik seiring pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menyentuh Rp 17.300 per dollar Amerika Serikat (AS) per Jumat (24/4).

Kondisi ini otomatis turut menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 3,38% ke level Rp 7.129. Kondisi ini juga melanjutkan penurunan IHSG sebesar 6,6%. Stockbit Sekuritas juga melaporkan penurunan ini juga ditekan oleh koreksi harga saham BBCA, DSSA, BBRI, BREN, dan BMRI yang kompak menurun.

Dalam dua hari terakhir saja, jumlah uang yang keluar alias net foreign flow mencapai Rp 979 miliar pada Kamis (23/4) dan mencapai Rp 2 triliun pada Jumat (24/4).

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata dalam catatan Market Insight menilai bahwa pelemahan IHSG kali ini tidak hanya diakibatkan oleh sentimen global tetapi lebih serius lagi, mencerminkan meningkatnya tekanan fundamental makro ekonomi domestik.

Liza berpendapat kondisi ini sudah masuk ke fase tekanan nilai tukar yang serius. Rupiah yang anjlok ke Rp 17.300 mencerminkan capital outflow yang agresif, penurunan kepercayaan investor terhadap aset domestik.

Selain itu, kombinasi faktor eksternal dari penguatan dollar AS dan imbal hasil alias yield obligasi AS yang tinggi, ditambah faktor domestik, yakni berupa defisit dan likuiditas turut menekuk pasar dalam negeri. "Artinya market tidak lagi sekadar “risk-off”, tapi mulai pricing in risiko makro Indonesia," papar Liza dikutip KONTAN, Jumat (24/4).

Dia juga mengatakan pelemahan rupiah akan membawa dampak berantai terhadap perekonomian. Dengan keadaan rupiah yang tertekan, ruang bagi Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga menjadi makin terbatas. Bahkan BI berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau dalam skenario tertentu, menaikkannya.

Bicara mengenai rekor pelemahan rupiah yang terjadi, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan bahwa BI berkomitmen meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas guna menjaga stabilitas rupiah.

Asal tahu saja, sejak awal tahun rupiah sudah melemah 3,1% year to date (YtD) terhadap dolar AS sejalan dengan pelemahan nilai tukar negara berkembang lainnya.

Lantas efek berantai pelemahan rupiah tersebut juga berpeluang membawa kanan pada pertumbuhan kredit dan konsumsi. Biaya pinjaman yang tetap mahal, membuat korporasi akan menahan ekspansi sedangkan masyarakat telah menahan konsumsi belanjanya.

"Pada akhirnya, perlambatan ekonomi juga menekan pendapatan pendapatan dan laba emiten," 'imbuh dia.

Dari sisi impor, pelemahan rupiah juga akan meningkatkan biaya impor sehingga inflasi berpotensi muncul. Tekanan inflasi semakin mempersempit ruang kebijakan moneter yang akomodatif dan berefek domino menciptakan tekanan bagi ekonomi. Alhasil, akan terjadi pelambatan pertumbuhan di tengah kenaikan biaya.

Tak hanya itu, pihak luar juga turut memperhatikan pergerakan rupiah dan pengelolaan APBN. Dikutip dari Stockbit, Direktur Fitch Rating George Xu menyampaikan jika Pemerintah terus menerus menjalankan defisit APBN yang lebih tinggi dalam jangka panjang, ini akan menyebabkan memburuknya fundamental kredit dan memicu penurunan rating.

Hal tersebut, terkait dengan penilaian Indonesia memiliki ruang melanggar batas defisit fiskal legal tanpa memicu penurunan rating, selama hal itu menjadi respons atas gangguan ekonomi yang melanda perekonomian Indonesia.

Sebelumnya, pada Maret 2026, Fitch menurunkan outlook sovereign credit credit Indonesia dari ‘stable’ menjadi ‘negative’, dengan alasan meningkatnya ketidakpastian dan melemahnya kredibilitas pembuatan kebijakan.

Bahkan Reuters juga mencatat bahwa downgrade outlook dari Fitch tersebut tidak memperhitungkan dampak perang Iran.

"Kami akan memantau cara Indonesia dalam menghindari batas defisit APBN, serta memperingatkan bahwa wacana perluasan mandat Bank Indonesia dapat memperumit mandat kebijakan dan meningkatkan risiko kesalahan kebijakan," ungkap Xu.

Lalu melihat dari sisi sektoral, Liza mencermati bahwa saham perbankan menjadi yang paling terdampak dalam penurunan IHSG hari ini. Emiten perbankan raksasa seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia  (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Persero Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), mengalami tekanan.

Sebagaimana diketahui, sektor perbankan sangatlah sensitif terhadap pergerakan suku bunga. Ketika suku bunga tinggi bertahan, kata Liza, permintaan kredit cenderung melemah sehingga berdampak pada pertumbuhan dan margin bunga bersih alias net interest margin (NIM).

Dia melanjutkan pelemahan rupiah ke level Rp 17.300 dinilai membuat target pertumbuhan ekonomi yang dipasang Pemerintah, terasa menantang bahkan tidak realistis. Target pertumbuhan gross domestic product (GDP) sebesar 8% disebut semakin sulit dicapai dalam kondisi saat ini.

Bahkan Liza menyatakan untuk mempertahankan pertumbuhan di kisaran 5% merupakan tugas berat.

"Ini menjadi turning point, dari yang sebelumnya fokus pada pertumbuhan menjadi fokus pada mode defensif alias mode bertahan," lanjutnya.

Untuk jangka pendek, Liza menilai pasar masih belum memiliki katalis kuat untuk rebound alias minim katalis positif. Oleh karena itu dia menyarankan investor untuk bersikap hati-hati dan cenderung wait and see di tengah volatilitas yang tinggi.

Walau begitu, dia berpendapat sejumlah saham perbankan mulai menarik untuk dilirik secara valuasi setelah mengalami koreksi. Tetapi dia mengingatkan bahwa aksi beli saat ini masih bersifat spekulatif dan sebaiknya dilakukan dalam porsi terbatas.

"Selama tekanan terhadap rupiah belum mereda, pelemahan IHSG masih menjadi konsekuensi yang wajar dari kondisi makro yang sedang tertekan," ujarnya.

Di sisi lain, Stockbit Sekuritas memberikan pandangan bahwa foreign outflow yang terkonsentrasi pada saham-saham big banks, menandai memburuknya sentimen investor asing dari pelemahan nilai tukar rupiah.

"Kami menilai bahwa meski harga minyak dunia tidak setinggi level pada puncak ketidakpastian perang (pertengahan Maret 2026) di level ~US$120/barrel, tekanan pada fiskal berpotensi semakin membesar jika harga minyak tetap bertahan di level yang relatif tinggi, mengingat keputusan pemerintah yang hanya menaikkan harga BBM secara selektif," urainya, dikutip Jumat (24/4).

Dengan demikian, Stockbit Sekuritas memandang bahwa investor perlu memantau respons pemerintah dalam menghadapi skenario harga minyak yang bertahan di level tinggi lebih lama (higher–for–longer), termasuk realokasi anggaran dan/atau penyesuaian program belanja.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan

Berita Terbaru

Outlook Negatif Membayangi Rupiah, Risiko Domestik tak Lagi bisa Diabaikan
| Selasa, 28 April 2026 | 10:05 WIB

Outlook Negatif Membayangi Rupiah, Risiko Domestik tak Lagi bisa Diabaikan

Dua jangkar penentu nasib rupiah: kepercayaan pasar terhadap kebijakan fiskal pemerintah dan kredibilitas otoritas moneter.

Harga Ayam Naik, Tapi Margin Pebisnis Unggas Tetap Tertekan
| Selasa, 28 April 2026 | 09:30 WIB

Harga Ayam Naik, Tapi Margin Pebisnis Unggas Tetap Tertekan

Analis menilai outlook sektor unggas masih positif, tetapi pertumbuhannya akan alami perlambatan dibandingkan tahun 2025.

Saham-Saham Bank di Luar KBMI IV Moncer, Simak Faktor Pendorongnya
| Selasa, 28 April 2026 | 09:28 WIB

Saham-Saham Bank di Luar KBMI IV Moncer, Simak Faktor Pendorongnya

Investor mesti tetap mewaspadai potensi membengkaknya pos cadangan kerugian pinjaman dan biaya dana.

Siapkan Insentif Industri Terdampak Harga Plastik
| Selasa, 28 April 2026 | 09:00 WIB

Siapkan Insentif Industri Terdampak Harga Plastik

Pemerintah akan segera membahas rencana pemberian stimulus bagi industri yang terdampak kenaikan harga plastik

Terungkap, Investor Bisa Membeli Instrumen Emas Baru Ini Layaknya Saham
| Selasa, 28 April 2026 | 08:58 WIB

Terungkap, Investor Bisa Membeli Instrumen Emas Baru Ini Layaknya Saham

OJK ngebut siapkan ETF emas, tiga MI serius susun prospektus. Tren harga emas naik jadi pendorong. Cek keuntungannya.

Kepatuhan Formal Wajib Pajak Baru Mencapai 62%
| Selasa, 28 April 2026 | 08:56 WIB

Kepatuhan Formal Wajib Pajak Baru Mencapai 62%

Pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) hngga 26 April 2026 mencapai 11,95 juta.

Puncak Kinerja Sudah Terjadi di Kuartal I, Emiten Konsumer Bersiap Hadapi Perlambatan
| Selasa, 28 April 2026 | 08:42 WIB

Puncak Kinerja Sudah Terjadi di Kuartal I, Emiten Konsumer Bersiap Hadapi Perlambatan

Daya beli masyarakat terutama menengah ke bawah paling rawan tertekan efisiensi anggaran pemerintah.

Prospek Cerah Valuasi Murah, Saham TLKM Jadi Buruan Utama Institusi Asing BNY Mellon
| Selasa, 28 April 2026 | 08:14 WIB

Prospek Cerah Valuasi Murah, Saham TLKM Jadi Buruan Utama Institusi Asing BNY Mellon

The Bank of New York Mellon (BNY Mellon) rajin memborong saham TLKM saat harga sahamnya tengah terjerembap.

Arus Dana Asing Deras Keluar, Sebagian Kembali Masuk ke Dua Emiten Konsumer Ini
| Selasa, 28 April 2026 | 07:57 WIB

Arus Dana Asing Deras Keluar, Sebagian Kembali Masuk ke Dua Emiten Konsumer Ini

Investor asing masih memburu saham yang sensitif terhadap tren penurunan suku bunga dan kebal dari hantaman isu geopolitik secara langsung.​

Pergerakan IHSG Selasa (28/4) Berpeluang Sideways
| Selasa, 28 April 2026 | 07:43 WIB

Pergerakan IHSG Selasa (28/4) Berpeluang Sideways

IHSG Selasa (28/4) akan bergerak sideways dalam kisaran 7.000-7.250, cek rekomendasi saham sebelum investasi.

INDEKS BERITA

Terpopuler