Memilih Sektor Industri

Senin, 24 Januari 2022 | 07:25 WIB
Memilih Sektor Industri
[]
Reporter: Harian Kontan | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun ini agaknya tidak seperti yang diharapkan para pelaku pasar modal. Alasannya, kemungkinan besar hingga akhir bulan ini, January Effect tidak bisa membawa IHSG menyentuh angka kinerja rata-rata sepuluh tahun terakhir di 1,31%. Per 20 Januari 2022, IHSG naik 0,69%, tapi itu hanya sekitar separuhnya dari angka kinerja rata-rata.

Sekadar mengingatkan, return di Desember tahun lalu yang juga “hanya” 0,73% secara bulanan, jauh di bawah rata-rata return sepuluh tahun terakhir di 3,01% secara bulanan. Wajar jika harapan disandarkan ke Januari, kendati malah diantam kenaikan yield obligasi Amerika Serikat (AS) tenor 10 tahun dan merebaknya kasus omicron.

Bagi investor dan trader saham, tampaknya bulan depan juga penuh tantangan dan relatif susah mencuil gain. Banyak metode atau cara yang bisa dijalankan, salah satunya yang akan dibahas adalah memilh sektor industri sebelum memilih sahamnya. Tentu saja berdasar strategi top-down, analisa makro wajib ditelaah lebih dulu.

Baca Juga: Pasar Prediksi Dunia Segera Kembali Normal, Saham-Saham Pandemic Darling Rontok

Dengan kepercayaan bahwa kondisi makro Indonesia masih prospektif, penulis mencoba langsung mengumpulkan data return bulanan dari 11 indeks sektoral yang dibuat Bursa Efek Indonesia di periode tiga bulan terakhir, mulai awal November 2021 hingga 20 Januari 2022.

Jadi, return Januari 2022 bukan sebulan penuh tapi month to date (MTD) hingga 20 Januari. Return November 2021 dan Desember 2021 dihitung penuh satu bulan. Sebagai perbandingan disajikan pula return IHSG dan indeks LQ45 sebagai benchmark, seperti di tabel terlampir.

Perbandingan Kinerja IHSG, LQ45 dan Indeks Sektoral di BEI

Nama

Jan-22

Des-21

Nov-21

IDX Sektor Barang Baku

-6,04%

2,72%

0,59%

IDX Sektor Barang Konsumen Non-Primer

-6,17%

8,07%

-2,21%

IDX Sektor Barang Konsumen Primer

-0,15%

-1,62%

-2,16%

IDX Sektor Energi

6,42%

8,88%

4,62%

IDX Sektor Infrastruktur

-3,60%

-2,83%

0,06%

IDX Sektor Kesehatan

-0,17%

-2,44%

3,68%

IDX Sektor Keuangan

3,19%

0,02%

-0,74%

IDX Sektor Perindustrian 

-0,10%

0,77%

-4,83%

IDX Sektor Properti & Real Estate

-6,10%

-5,30%

-5,73%

IDX Sektor Teknologi

-11,26%

1,38%

-5,66%

IDX Sektor Transportasi & Logistik

0,26%

7,17%

23,34%

Indeks Harga Saham Gabungan

0,16%

0,73%

-0,87%

LQ45

0,77%

0,05%

-2,27%

 

Tampak dari tabel, di Januari 2022 hanya tiga sektor yang kinerjanya positif, dengan juara diraih sektor energi yang naik 6,42% MTD akibat harga batubara yang masih di atas US$ 200 per ton. Sektor keuangan, yang ditopang sub sektor bank, masih memberikan gain lumayan, 3,19% MTD.

Baca Juga: Kementerian BUMN Lakukan Kocok Ulang Direksi Taspen, Ada Rotasi, Ada yang Diganti

Sektor transportasi dan logistik harganya relatif anteng, kemungkinan akibat tidak terlalu likuidnya saham-saham di sektor ini. Yang cukup menarik adalah kinerja indeks LQ45 mengungguli IHSG, menandakan saham-saham blue-chips dan kapitalisasi menengah mulai naik daun di tengah net buy kumulatif investor asing Rp 4,81 triliun sepanjang tahun ini.

Sehingga bisa diduga penyokong utama kinerja indeks sektoral energi dan keuangan adalah saham-saham berkapitalisasi pasar menengah dan besar.

Sektor yang ketinggalan di Januari 2022 berturut-turut dari kerugian terbesar adalah sektor teknologi yang turun 11,26%, barang konsumen non-primer yang turun 6,147%, properti dan real estate turun 6,10% serta barang baku turun 6,04%.

Volatilitas return sektor teknologi cukup besar, paling tidak di tiga bulan terakhir, sehingga sektor ini hanya cocok untuk risk taker dan sanggup berinvestasi jangka panjang. Sektor properti dan real estate konsisten merah selama tiga bulan, walau beberapa emitennya dapat meningkatkan penjualan akibat insentif pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah khusus pembelian rumah baru.

Bagi investor berorientasi jangka panjang tipe kontrarian, yaitu yang suka berinvestasi berlawanan dengan animo pasar, sektor properti dan real estate cukup menarik. Valuasi harganya murah dengan fundamental prospektif. Saham-saham seperti SMRA turun 14,37% MTD, CTRA turun 5,15% dan BSDE turun 3,96% di periode yang sama, sehingga pantas dipertimbangkan serius.

Baca Juga: Rights Issue Bank Bakal Ramai di 2022

Investor penganut momentum, yang percaya industri memiliki daya dorong dengan return mulai membaik, bisa melirik sektor kesehatan. Meski return masih negatif, tapi kinerjanya pulih dibanding Desember 2021 dan fundamentalnya juga prospektif, seiring porsi anggaran kesehatan di APBN yang mencapai Rp 256 triliun dan membaiknya perilaku hidup sehat di masyarakat. Saham-saham seperti SIDO, KLBF, HEAL, IRRA, SILO, MIKA dan PRDA mempunyai fundamental kuat dan likuid.

Sektor perindustrian dengan saham andalan ASII dan UNTR dan sektor barang konsumen primer dengan saham propektif AALI, ICBP, INDF, LSIP juga layak dilirik, seiring kenaikan penjualan ritel 8,86% secara tahunan dan makanan serta minuman yang naik 17,25% secara tahunan di Desember 2021.

Sektor terakhir yang belum disinggung adalah infrastruktur. Tampaknya sektor ini masih sideways dalam waktu dekat, mengingat sentimen investor yang belum melirik sektor ini. Ini tampak dari return negatif yang semakin membesar. Sektor ini lebih cocok untuk tipe investor jangka panjang dengan horizon lebih dari 1 tahun.

Dari pendekatan sektor ini, investor tetap perlu mencermati fundamental emiten yang ingin dibeli secara lebih mendalam. Investor juga perlu menimbang prospek ke depan dan risiko yang bakal muncul.

Bagikan

Berita Terbaru

Cek Jadwal Penerbitan SBN Ritel 2026, Pekan Depan ORI029 Jadi Pembuka
| Jumat, 23 Januari 2026 | 15:56 WIB

Cek Jadwal Penerbitan SBN Ritel 2026, Pekan Depan ORI029 Jadi Pembuka

Pemerintah siapkan 7 seri SBN Ritel 2026, ORI029 jadi pembuka. Lihat jadwal sementara penerbitan SBN Ritel.

Izin Tambang Emas Martabe Melayang, Investor Asing Justru Rajin Borong Saham ASII
| Jumat, 23 Januari 2026 | 08:50 WIB

Izin Tambang Emas Martabe Melayang, Investor Asing Justru Rajin Borong Saham ASII

PT Astra International Tbk (ASII) saat ini dipersepsikan sebagai deep value stock oleh investor global.

Profit Taking Bayangi Emiten Prajogo Pangestu, Intip Proyeksi Ambisius BRPT ke Depan
| Jumat, 23 Januari 2026 | 08:29 WIB

Profit Taking Bayangi Emiten Prajogo Pangestu, Intip Proyeksi Ambisius BRPT ke Depan

Pendapatan BRPT diperkirakan tumbuh sebesar 41,4% dan EBITDA sebesar 40,2% selama periode 2024-2029.

Bursa Kripto Kedua Hadir, Apa Dampak Bagi Investor Aset Digital?
| Jumat, 23 Januari 2026 | 08:05 WIB

Bursa Kripto Kedua Hadir, Apa Dampak Bagi Investor Aset Digital?

Secara struktur pasar, kehadiran bursa kedua dapat memperkuat kompetisi.  Kedua bursa dapat mendorong transparansi harga.

Indeks Saham Indonesia Terjun Bebas ke Bawah 9.000, Simak Pergerakan IHSG Hari Ini
| Jumat, 23 Januari 2026 | 07:58 WIB

Indeks Saham Indonesia Terjun Bebas ke Bawah 9.000, Simak Pergerakan IHSG Hari Ini

Pelemahan IHSG di tengah bursa global dan nilai tukar rupiah menguat. Pemicunya, aksi jual di sejumlah sektor dan emiten berkapitalisasi besar.

Investor Panik, Duit Asing Kabur Hingga Rp 4 Triliun, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini
| Jumat, 23 Januari 2026 | 07:35 WIB

Investor Panik, Duit Asing Kabur Hingga Rp 4 Triliun, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini

Net sell asing berawal dari rencana Presiden Prabowo Subianto yang menunjuk keponakannya, Thomas pmenjadi Deputi Gubernur BI.

Marak Aksi Korporasi, Kenapa Saham RAJA dan RATU Masih Kompak Terkoreksi?
| Jumat, 23 Januari 2026 | 07:30 WIB

Marak Aksi Korporasi, Kenapa Saham RAJA dan RATU Masih Kompak Terkoreksi?

Dalam jangka panjang RATU dapat menjadi operator penuh atau memimpin kerja sama dengan mitra berskala besar, baik di dalam maupun luar negeri.

Sinarmas Land Masih Mengandalkan KPR
| Jumat, 23 Januari 2026 | 07:06 WIB

Sinarmas Land Masih Mengandalkan KPR

Transaksi penjualan properti Sinarmas Land masih didominasi kredit pemilikan rumah (KPR), khususnya untuk produk rumah tapak dan ruko.

Perbankan Digital Akan Ekspansif  Kejar Pertumbuhan Kredit
| Jumat, 23 Januari 2026 | 06:55 WIB

Perbankan Digital Akan Ekspansif Kejar Pertumbuhan Kredit

​Bank digital tetap optimistis menatap prospek kredit 2026, meski ketidakpastian global dan persaingan industri masih menjadi tantangan utama.

BINO Amankan Kontrak Bantex Rp 35 Miliar, Berdampak Positif ke Keuangan 2026
| Jumat, 23 Januari 2026 | 06:43 WIB

BINO Amankan Kontrak Bantex Rp 35 Miliar, Berdampak Positif ke Keuangan 2026

Pembayaran sebesar 100% dari nilai invoice, paling lambat 120 hari setelah produk diterima dan disetujui oleh PT Deli Group Indonesia Jakarta,

INDEKS BERITA

Terpopuler