Menanti Arah Bunga Acuan
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pekan ini, sejumlah bank sentral utama dunia menggelar pertemuan menentukan arah suku bunga acuan. Ada Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), Bank Sentral Inggris (Bank of England) dan juga Bank Sentral Jepang (Bank of Japan). Sementara, Bank Indonesia (BI) baru akan menggelar Rapat Dewan Gubernur pada pekan depan, 22-23 September 2026. Sepertinya BI menunggu keputusan The Fed.
Yang terang, perhatian pelaku pasar sudah tentu tertuju pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang digelar 15-16 September 2026. FOMC adalah komite di dalam Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) yang bertugas mengatur kebijakan moneter, termasuk menentukan suku bunga acuan.
Kenapa membetot perhatian? Sebab, ada yang berbeda menjelang pertemuan bank sentral untuk menentukan suku bunga ini. Yakni, harga minyak mentah dunia yang belakangan melambung di atas US$ 100 per barel.
Lonjakan harga minyak akibat memanasnya situasi di Timur Tengah buntut perang AS-Iran tersebut, bakal menyulut inflasi tinggi. Dan data inflasi terbaru AS sudah memberi sinyal itu. Data inflasi AS di bulan Agustus 2026 yang dirilis pekan lalu, tercatat mencapai 3,4% secara tahunan. Jauh dari target The Fed yang cuma 2%.
Dus, probabilitas The Fed akan menaikkan suku bunga di bulan September ini semakin meningkat. Ditambah lagi, pergerakan yield US Treasury yang merembet naik mendekati level 5% pada akhir pekan lalu, level tertinggi sejak Oktober 2023. Makin mendorong ekspektasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga di pekan ini.
Menurut data terbaru LSEG, para trader meningkatkan spekulasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan bulan ini. Probabilitasnya naik menjadi 86,8% dari 67,5% sebelum data terbaru inflasi AS dirilis.
Sebagai gambaran, suku bunga The Fed saat ini ada dikisaran 3,50%–3,75%. Bunga The Fed ini tak berubah sejak Desember 2025. Bank Sentral Jepang (BOJ) juga diprediksi akan mengerek suku bunga menjadi 1,25% dari saat ini 1%. Bila jadi naik, ini merupakan suku bunga tertinggi BOJ dalam 31 tahun.
Sementara Bank Sentral Eropa (ECB) sudah lebih dulu menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 2,5% pada Kamis pekan lalu.
Tapi lagi-lagi, pasar tetap menanti keputusan The Fed. Mungkin bukan keputusan gampang bagi Kevin Warsh, Ketua The Fed yang merupakan pilihan Donald Trump. Apalagi, Trump tetap mendesak bunga The Fed diturunkan.
Andai bunga The Fed naik pekan ini, siap-siap era pengetatan moneter datang lagi dan dampaknya mungkin akan menekan ekonomi.
