Menanti Efek Pemilu Sela AS (Midterm Election) Bagi Lonjakan Harga Bitcoin
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harapan agar bitcoin kembali menciptakan reli harga jelang akhir tahun, ternyata masih dibayangi ketidakpastian. Pasar masih menunggu hasil dari Pemilu Sela (midterm election) Amerika Serikat pada 3 November 2026 yang berpotensi mempengaruhi regulasi industri kripto.
DI sisi lain lain, kebijakan moneter bank Sentral AS alias The Federal Reserve (The Fed) justru memberikan sinyal kurang bersahabat untuk aset berisiko. Bitcoin sendiri masih bergerak fluktuatif di kisaran US$ 80.000, bahkan cenderung tertekan setelah The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 3,75% hingga 4,00% di akhir Oktober 2026.
Financial Expert Ajaib Panji Yudha menyatakan, dalam jangka pendek kebijakan moneter The Fed memiliki pengaruh lebih dominan terhadap pergerakan bitcoin dibandingkan dengan hasil Pemilu Sela AS.
Dia sepakat bahwa keputusan The Fed mempertahankan suku bunga di level 3,75% hingga 4,00% belum tentu menjadi kabar positif bagi pasar kripto. Keputusan tersebut tidak bulat dan terdapat anggota Federa Opena Market Committee (FOMC) yang justru menginginkan kenaikan suku bunga.
Baca Juga: Bitcoin dan Ethereum Lanjutkan Koreksi
"Ada sinyal bahwa arah kebijakan mulai condong hawkish. Pasar pun mulai mengantisipasi skenario tersebut," ujar Panji Yudha saat dihubungi KONTAN, belum lama ini.
Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga 25 basis poin ke 4,00 hingga 4,25% pada FOMC 9 Desember mencapai 69,8%, sementara peluang suku bunga ditahan hanya 30,2%. Lalu untuk FOMC 27 Januari 2027, pasar memperkirakan suku bunga bertahan di 4,00 hingga 4,25% dengan probabilitas 59,4%.
Artinya, alih-alih pelonggaran, pasar kini bersiap menghadapi pengetatan di akhir tahun, kondisi yang secara historis kurang bersahabat bagi aset berisiko seperti bitcoin.
Panji mengamati pula dari arus dana institusi. ETF spot bitcoin mencatat net outflow US$ 515 juta sepanjang Oktober, berbalik dari inflow US$ 2,65 miliar di September, dan menjadi outflow bulanan pertama sejak Juni.
Total aset kelolaan ETF pun turun ke US$ 98,14 miliar, kembali di bawah US$ 100 miliar untuk pertama kalinya sejak Agustus. Bitcoin sendiri menutup Oktober dengan koreksi 7,32% dan pengaruh Pemilu Sela lebih bersifat sentimen jangka pendek.
Dia sependapat dengan Grayscale bahwa hasil pemilu hanya berdampak di pinggiran. Dukungan terhadap kripto pun kini bersifat lintas partai, terlihat dari pengesahan GENIUS Act secara bipartisan, sementara AS hanya menyumbang sekitar 15 hingga 20% aktivitas kripto global.
Jika Partai Demokrat menguasai Kongres sesuai proyeksi pasar prediksi, risiko utamanya adalah melambatnya pembahasan regulasi struktur pasar kripto, bukan perubahan arah industri.
