Menjaring Laba Bisnis Skincare dari yang Ingin Tampil Glowing

Minggu, 11 Oktober 2020 | 07:20 WIB
 Menjaring Laba Bisnis Skincare dari yang Ingin Tampil Glowing
[]
Reporter: Sumber: Tabloid Kontan | Editor: Hendrika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produk perawatan kulit selalu punya pasar sendiri. Tidak hanya wanita, pria pun ingin wajahnya glowing. Nah, kalau dulu, untuk mendapatkan produk perawatan harus pergi ke salon atau klinik, kini banyak beredar produk serupa yang sudah mengantongi izin BPOM. Di pasar banyak skincare saran yang sesuai kebutuhan. Kalau katanya ada BPOM, kita tinggal cek nomernya ke website BPOM. "Terus halal juga, itu aman sih menurut saya," kata Febri, ibu muda yang tinggal di BPOM.

Produk perawatan kulit ini, biasanya dijual secara paket. Setiap paket berisi krim pagi, krim malam, sabun muka, serum, dan pelembab wajah. Harganya per paket kebanyakan dijual minimal Rp 250.000. "Menurut saya, ada dua jenis wanita dalam kebiasaan memperlakukan wajahnya. Ada yang cenderung suka make up, tapi ada yang lebih suka sekadar memakai skincare," kata Cindy, produsen Saturday Looks.

Golong kedua ini, menurut Cindy, bisa membeli aneka skincare dari banyak merek sekadar untuk menjajal kecocokan di kulit sekaligus khasiatnya. Kebiasaan merawat diri ini pada akhirnya melahirkan banyak produsen skincare. Salah satunya Cindy yang setahun ini menjadi produsen skincare.

Dengan mengincar target pasar remaja hingga wanita bekerja dengan usia 35 tahun, Cindy mampu mengantongi omzet hingga ratusan juta per bulan. Dia balik modal hanya dalam kurun waktu dua sampai tiga bulan. Padahal modal awal yang dikeluarkan Cindy untuk membangun bisnis skincare ini lumayan besar, yakni sekitar Rp 300 jutaan.

Hal serupa dialami Meita Irianty, produsen skincare bermerek Sarian Skincare. Meita, yang akrab disapa Tata, mengawali usahanya pada bulan November 2019. Tata mengaku, sejak diluncurkan, Sarian Skincare langsung mendapat tempat di hati konsumen. Tak kurang dari Rp 400 juta per bulan omzet yang didapat Tata. Nilai itu setara modal awal yang dia benamkan di bisnis ini.

Laris saat pandemi corona

Baik Cindy maupun Tata merupakan contoh pengusaha skincare yang boleh dibilang berhasil dalam sekejap. Sebab, dalam peluncuran awal produk mereka, langsung mendapatkan perhatian konsumen. Omzet yang didapat pun tak kaleng-kaleng sebagai pebisnis pemula. Selain karena pasarnya besar, selama pandemi ini permintaan skincare memang gila-gilaan, kata Cindy.

Menurut Cindy, aktivitas yang banyak dilakukan di rumah membuat wanita banyak waktu merawat diri. Makanya, "Peluangnya masih besar banget. Apalagi kebutuhan perawatan wajah atau kulit wanita itu kan macam-macam. Kalau kita benar-benar bisa memberikan produk yang baik tentu tak akan kehilangan konsumen," kata Tata.

Lantas, apa yang perlu dilakukan supaya bisa menghasilkan omzet fantastis dengan waktu tak lama layaknya Cindy dan Tata? Ternyata butuh persiapan yang panjang sebelum memulai bisnisnya.

Persiapan yang panjang itu bukan karena Tata atau Cindy harus membangun pabrik. Asal tahu saja, baik Tata maupun Cindy ini menggunakan jasa makloon kosmetik.

Maka, langkah awal, baik Tata maupun Cindy sama-sama menentukan jasa makloon yang akan dipilih. Sekarang banyak jasa makloon kosmetik, cari saja di Internet.

Tata menyarankan untuk tahu betul seluk beluk perusahaan makloon itu. "Datangi pabriknya, lihat sampel. Jangan sampai terjebak broker makloon," kata Tata. Mengunjungi pabrik makloon mengetahui proses produksi itu penting. Terutama unsur kebersihan dan legalitas pabrik.

Nah, setelah melihat proses produksi, temui apotekernya. Sebab merekalah yang akan meracik produk yang akan kita pesan. Baik Tata maupun Cindy selalu mencoba sendiri produk-produknya terlebih dahulu sampai benar-benar cocok.

"Saya sejak SMA sudah jualan produk skincare dari Korea, jadi ada pengalaman," ujar Cindy.

Setelahnya, kita tentukan target pasar, untuk mengetahui produk apa yang dibuat dan harganya. Cindy, 23 tahun, memilih target market remaja mulai usia 17 tahun sampai 35 tahun. Karena itu di awal usaha dia memperkenalkan produk peeling masker dengan harga Rp 65.000 untuk ukuran 45 gram. Cindy juga memiliki produk masker meredakan jerawat meradang.

Sementara itu, Tata memilih target usia 25 tahun hingga 40 tahun. Makanya, harga yang ditawarkan Tata untuk paket skincarenya Rp 295.000. Manfaatnya untuk mencerahkan.

Untuk paket skincare seharga itu masih terbilang murah. "Cocok untuk segmen menengah bawah," kata Tata. Ia tak membidik menengah atas yang biasanya langganan produk perawatan dari klinik. Segmen atas itu pilihnya skincare dari luar, jarang meminati produk lokal, kata Tata.

Dalam proses produksi ini yang perlu diketahui calon pengusaha adalah mengenai keamanan produk dan izin edar yang legal. Artinya produk yang akan dijual itu minimal harus mengantongi izin edar dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Anda bisa proses sendiri atau sekaligus meminta perusahaan makloon itu menguruskan perizinan.

Nah di proses pilih jasa makloon, formulasi, dan perizinan inilah yang menjadi bagian persiapan yang cukup panjang. "Saya butuh waktu sampai setahun sampai akhirnya bisa launcing produk," kata Tata.

Selanjutnya yang juga diperhatikan adalah strategi branding. Baik Tata maupun Cindy merupakan pemain baru di bidang skincare. Untuk menarik perhatian konsumen, Cindy memilih beauty influencer untuk endorse produknya. Kami butuh waktu untuk menyakinkan beauty influencer mau memakai produk sekaligus mempromosikannya, jelas Cindy. Untuk awal branding, Cindy menggaet 6 beauty influencer ternama di negeri ini. Dan menurut Cindy, biaya untuk branding di awal ini memang cukup besar.

Sementara itu, Tata mencoba membangun branding dimulai dari pengikutnya di media social. Kebetulan Tata juga berbisnis gamis dewasa dan anak-anak, dia sudah punya banyak pengikut. Jadi, ia mempromosikan produknya sendiri di medsos. "Sebelum launching, saya sering melakukan update dengan pemakaian Sarian, dari sebelum pemakaian sampai hasilnya," jelasnya. Alhasil, banyak pengikutnya yang kepo dan bertanya-tanya. Waktu peluncuran pun laris manis.

Selain itu, Tata menggaet beibu-ibu yang aktif di media sosial dengan pengikut sekitar 10.000 sebagai jalan branding. "Target saya hanya memperkenalkan Sarian ke pengikut mereka. Dengan media partner ibu-ibu ini, biaya marketingnya tidak besar. Paling produk saja," kata Tata.

Tak lupa, setelah peluncuran, Tata membuka tawaran distributor dan reseller. Baik Tata maupun Cindy benar-benar memikirkan desain promosi dan tampilan produk mereka sebab keduanya mengandalkan penjualan melalui internet. Jadi harus maksimal dari sisi tampilan desain.

Untuk menjalankan usaha ini, baik Tata maupun Cindy hanya memiliki tak lebih dari 5 orang karyawan. Kantor yang digunakan juga tak besar. Hanya saja, mereka wajib menyediakan gudang. Gudang ini cukup memakai ruko dua lantai yang masing-masing luasnya tak lebih dari 50 meter persegi. Sewanya berkisar Rp 50 juta per tahun, bisa jadi kantor sekaligus gudang. "Karena produk skincare itu kan, tidak besar, jadinya tidak terlalu makan tempat," kata Tata.

Dengan semua perlengkapan dan karyawan itu, Tata maupun Cindy tak banyak mengeluarkan biaya operasional. "Biaya paling besar hanya di produksi dan marketing," ujar Tata.

Bagikan

Berita Terbaru

Analis Ungkap Peluang Rebound Saham BKSL di Tahun 2026
| Kamis, 01 Januari 2026 | 17:59 WIB

Analis Ungkap Peluang Rebound Saham BKSL di Tahun 2026

Saham BKSL tunjukkan sinyal rebound akhir 2025. Analis Maybank, MNC, dan Mandiri Sekuritas proyeksi target 150-198 dengan support kunci 131-134.

Tren Emas Bullish, Saham ARCI Masih Terhalang Tekanan Jual
| Kamis, 01 Januari 2026 | 14:00 WIB

Tren Emas Bullish, Saham ARCI Masih Terhalang Tekanan Jual

Pertumbuhan laba per saham (EPS Growth) ARCI tercatat melonjak tajam hingga 849,7% pada tahun 2025 kemarin.

Baru Mulai Fase Ekspansi, Tahun 2026 Kinerja CBDK Masih Akan Terkoreksi
| Kamis, 01 Januari 2026 | 12:00 WIB

Baru Mulai Fase Ekspansi, Tahun 2026 Kinerja CBDK Masih Akan Terkoreksi

Bahana Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp 13.100 untuk saham CBDK dari sebelumnya Rp 13.700 per saham.

Rilis Film Baru Bakal Menopang Prospek Kinerja CNMA Cemerlang di Tahun 2026
| Kamis, 01 Januari 2026 | 10:21 WIB

Rilis Film Baru Bakal Menopang Prospek Kinerja CNMA Cemerlang di Tahun 2026

Melalui kenaikan harga tiket rata-rata serta belanja makanan dan minuman (F&B) per penonton, menjadi penopang utama kinerja CNMA.

Menakar Prospek Saham dan Kinerja PGAS Tahun 2026
| Kamis, 01 Januari 2026 | 08:00 WIB

Menakar Prospek Saham dan Kinerja PGAS Tahun 2026

Kontribusi LNG yang saat ini sekitar 11% diproyeksikan melonjak hingga 24% pada FY26F, kondisi yang berpotensi memicu tantangan baru.

Prospek Komoditas Emas di Tahun 2026 Tetap Berkilau
| Kamis, 01 Januari 2026 | 06:30 WIB

Prospek Komoditas Emas di Tahun 2026 Tetap Berkilau

Tensi geopolitik diperkirakan tetap menjadi katalis utama yang memperkuat permintaan emas sepanjang tahun 2026.

Saham Prajogo Pangestu Bergerak Fenomenal, Ini Review dan Pilihan Saham 2026
| Kamis, 01 Januari 2026 | 06:06 WIB

Saham Prajogo Pangestu Bergerak Fenomenal, Ini Review dan Pilihan Saham 2026

Analis melihat TPIA layak dicermatiterutama jika valuasi kian rasional dan perkembangan ekspansi mulai tercermin dalam kinerja keuangan.

Menatap Tahun 2026, PJAA Genjot Optimalisasi Bisnis dan Proyek Reklamasi
| Kamis, 01 Januari 2026 | 05:28 WIB

Menatap Tahun 2026, PJAA Genjot Optimalisasi Bisnis dan Proyek Reklamasi

PJAA siapkan strategi 2026: optimalisasi bisnis eksisting, ekspansi reklamasi bertahap, capex Rp 123 miliar, target pendapatan 10% dan laba 29%.

Defisit Pasokan Bayangi Pasar, Harga Tembaga Berpeluang Tetap Tinggi di 2026
| Kamis, 01 Januari 2026 | 05:01 WIB

Defisit Pasokan Bayangi Pasar, Harga Tembaga Berpeluang Tetap Tinggi di 2026

Prospek harga tembaga 2026 tetap bullish berkat defisit pasokan 330 kmt dan permintaan EV. Analis proyeksi US$ 10.000-13.500 per ton.

Pasar Modal Indonesia 2025 Didominasi Investor Muda dan Ritel
| Rabu, 31 Desember 2025 | 20:14 WIB

Pasar Modal Indonesia 2025 Didominasi Investor Muda dan Ritel

Hingga 24 Desember 2025, KSEI mencatat jumlah investor pasar modal telah menembus 20,32 juta Single Investor Identification (SID).

INDEKS BERITA

Terpopuler