KONTAN.CO.ID -Bbisnis makanan memang tak lekang dimakan waktu. Namun, di era saat ini, pengembangan produk menjadi salah satu cara pebisnis untuk bisa bertahan di bisnis makanan.
Contoh, PT Berikan Teknologi Indonesia yang menciptakan solusi pengolahan makanan. Agri-Tech Solustions Director Berikan Teknologi Indonesia Diki Abdullah menjelaskan, perusahaannya mempunyai pabrik pengolahan protein ikan yang berada di Bintan, Bekasi, dan Indramayu.
Bahan baku yang mereka gunakan adalah ikan yang memiliki nilai ekonomi rendah, yakni ikan petek. Karena, mereka ingin memberdayakan hasil tangkapan nelayan. Tercatat, ada lebih dari 1.000 nelayan yang telah startup ini berdayakan.
Kemudian, dalam proses pengolahan, Berikan melibatkan ahli gizi. Dan, saat ini, mereka telah memiliki paten terkait dengan teknologi yang mengubah bahan baku liquid menjadi berbentuk bubuk atawa powder.
Hasil produk dari Berikan adalah hidrolisat protein ikan (HPI). Ini merupakan ekstrak protein ikan berupa asam amino esensial dan non-esensial berbentuk bubuk dari ikan petek.
Produk ini bisa digunakan bukan hanya untuk manusia, hewan, tanaman, tapi juga untuk kecantikan.
Berikan juga terus mengembangkan produk-produk lainnya bersama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Koperasi dan UKM, Mereka baru saja meluncurkan produk susu ikan di 2023. "Kami punya produk makanan, saat ini yang dicari yakni susu ikan," ujar Diki. Dia bilang, saat ini, beberapa komposisi makanan mengandung protein tinggi, tapi belum tentu diserap maksimal oleh tubuh.
Selain produk dan bisnis, Diki mengatakan, Berikan berkomitmen untuk berdampak ke lingkungan sekitar. Untuk sosial, Berikan memberdayakan petani yang ada di Indramayu dan Kepulauan Riau.
Kemudian untuk ekonomi, Berikan membangun pabrik dan warehouse yang bermanfaat bagi penciptaan lapangan pekerjaan. Serta, bekerjasama dengan UMKM untuk meningkatkan nilai tambah produk mereka dengan penambahan protein.
"Kebutuhan produksi kami 144 ton per bulan untuk ikan segar yang diproduksi. Dan tentunya, ikan-ikan yang tadinya tidak memiliki nilai jual, ketika dijual ke kami menjadi memiliki nilai tambah," ungkap Diki.
Bisnis mengembangkan komoditas pangan juga Cargill, perusahaan perdagangan komoditas pangan dan agribisnis, gencarkan. Mereka resmi membuka pusat pengembangan kakao di Gresik, Jawa Timur.
Francesca Kleemans, Managing Director, Food Solutions Southeast Asia Cargill, menyatakan, di Gresik, perusahaannya akan melakukan pengembangan produk kakao hingga penerapannya dalam bentuk makanan dan minuman. Cargill menggandeng sekitar 25.000 petani kakao yang tersebar di Indonesia. n
