Meta Epsi (MTPS) Membidik Kontrak Baru Rp 1,4 Triliun

Jumat, 28 Juni 2019 | 05:30 WIB
Meta Epsi (MTPS) Membidik Kontrak Baru Rp 1,4 Triliun
[]
Reporter: Aloysius Brama | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Selepas menggelar penawaran harga perdana atawa initial public offering (IPO) pada April lalu, PT Meta Epsi Tbk kian optimistis. Buktinya, perusahaan yang memiliki kode emiten MTPS ini menargetkan nilai kontrak yang didapat di tahun ini bisa naik hampir dua kali lipat dibanding tahun 2018.

"Tahun lalu, MTPS berhasil mencatatkan nilai kontrak sekitar Rp 800 miliar," kata Kahar Nawar, Direktur Utama MTPS kepada KONTAN, Rabu (27/6). Perusahaan ini pun menyebutkan, target kontrak baru di tahun ini bisa mencapai Rp 1,4 triliun.

Asal tahu saja, proyek pemerintah menjadi kontributor terbesar bagi kontrak yang didapat MTPS sepanjang tahun lalu. "Ada tujuh proyek dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan nilai masing-masing Rp 100 miliar–Rp 150 miliar," tambah Kahar.

Saat ini, lebih dari separuh proyek baru tersebut sudah hampir selesai. Sedang sekitar tiga proyek masih berlangsung. "Ada yang 30%, ada yang 40% tapi ada juga yang hampir rampung," kata Kahar.

Tahun ini, perusahaan ini masih mengincar proyek dari perusahaan pelat merah, seperti PLN dan Pertamina. Hal ini wajar, karena kedua perusahaan BUMN tersebut merupakan langganan MTPS.

Meski pasang target tinggi, namun perolehan kontrak baru emiten jasa konstruksi ini masih minim. Di semester satu ini, kontrak baru yang diperoleh MTPS baru senilai Rp 50 miliar. Ini kontrak pembangunan sebuah gudang dari perusahaan swasta.

Selain proyek tersebut, MTPS juga baru saja mencatatkan kerja sama dengan Overseas Oil & Gas LLC (OOG) untuk pembangunan pipa, power station, water treatment dan konstruksi. Nilainya US$ 3 miliar.

Untuk menggarap proyek ini, MTPS menggandeng perusahan swasta lokal, PT Sanurhastra Mitra Tbk. Sayangnya Kahar enggan menyebut porsi MTPS di proyek ini.

Lebih lanjut, Kahar melihat, minimnya kontrak baru yang didapat MTPS terjadi karena banyak perusahaan, khususnya BUMN, yang menahan diri karena kondisi politik belum kondusif.

Meski begitu Kahar optimistis target tahun ini bisa terealisasi. "Proyek pengadaan listrik 35.000 megawatt dari pemerintah adalah jumlah yang besar dan masih akan berlanjut hingga setidaknya tahun 2025," ujar Kahar.

Lagi pula, secara historis, kontrak baru lebih banyak terjadi di paruh kedua. Karena banyak perusahaan yang memulai tender paling cepat pada bulan September.PLN dan Pertamina menjadi incaran MTPS untuk proyek anyar.

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Ancaman Profit Taking: Waspada Level Kritis IHSG Sebelum Libur Panjang
| Kamis, 15 Januari 2026 | 04:45 WIB

Ancaman Profit Taking: Waspada Level Kritis IHSG Sebelum Libur Panjang

IHSG mengakumulasi kenaikan 0,98% dalam sepekan terakhir. Sedangkan sejak awal tahun, IHSG menguat 4,46%.

Perluas Diversifikasi, Pembiayaan Syariah Unjuk Gigi
| Kamis, 15 Januari 2026 | 04:45 WIB

Perluas Diversifikasi, Pembiayaan Syariah Unjuk Gigi

OJK mencatat piutang pembiayaan syariah mampu tumbuh 14,5% menjadi Rp 30,44 triliun hingga November 2025. 

Rilis obligasi Rp 352 miliar, SMRA Siap Akuisisi Lahan dan Kembangkan Bisnis Properti
| Kamis, 15 Januari 2026 | 04:40 WIB

Rilis obligasi Rp 352 miliar, SMRA Siap Akuisisi Lahan dan Kembangkan Bisnis Properti

SMRA menilai perpanjangan insentif pajak pembelian properti masih akan menjadi salah satu faktor penting dalam menopang penjualan pada 2026.

KEK dan Hilirisasi Kelapa Sawit
| Kamis, 15 Januari 2026 | 04:10 WIB

KEK dan Hilirisasi Kelapa Sawit

Banyak KEK gagal karena hanya menyalin resep sukses dari KEK terdahulu tanpa menyesuaikan konteks lokal dan komoditas yang diusahakan.

Kala Pajak Tak Dibayar, Aset Saham Dikejar
| Kamis, 15 Januari 2026 | 04:05 WIB

Kala Pajak Tak Dibayar, Aset Saham Dikejar

Mengulik beleid baru Ditjen Pajak soal aturan sita dan jual aset saham, milik penunggak pajak       

Saham INCO Sudah Melampaui Target Konsensus, Masih Ada Ruang Naik atau Siap Koreksi?
| Rabu, 14 Januari 2026 | 10:06 WIB

Saham INCO Sudah Melampaui Target Konsensus, Masih Ada Ruang Naik atau Siap Koreksi?

Target harga rata-rata konsensus analis untuk saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) 12 bulan ke depan ada di Rp 5.597.

Meneropong Prospek Saham PWON Lebih Jernih, Tak Cuma dari Pom-Pom Anak Purbaya
| Rabu, 14 Januari 2026 | 09:43 WIB

Meneropong Prospek Saham PWON Lebih Jernih, Tak Cuma dari Pom-Pom Anak Purbaya

Sekitar 78%–79% pendapatan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) berasal dari recurring income yang membuat emiten ini lebih tangguh.

Menakar Durabilitas Saham RMKO & RMKE di Tengah Target Ambisius Logistik Batubara
| Rabu, 14 Januari 2026 | 08:50 WIB

Menakar Durabilitas Saham RMKO & RMKE di Tengah Target Ambisius Logistik Batubara

Laju saham RMKO dan RMKE mesti ditopang katalis lanjutan, seperti ekspektasi pembagian dividen yang lebih besar serta potensi penambahan klien.

IHSG Tembus Rekor Psikologis 9.000, Antara January Effect & Ancaman Defisit Fiskal
| Rabu, 14 Januari 2026 | 08:36 WIB

IHSG Tembus Rekor Psikologis 9.000, Antara January Effect & Ancaman Defisit Fiskal

Kinerja tahunan IHSG tetap akan sangat ditentukan oleh rotasi sektor serta faktor spesifik dari masing-masing emiten.​

Outlook Pasar Saham Sepanjang Tahun 2026, di Antara Tiga Isu Utama
| Rabu, 14 Januari 2026 | 08:29 WIB

Outlook Pasar Saham Sepanjang Tahun 2026, di Antara Tiga Isu Utama

Sebenarnya motif penguasaan sumber daya menjadi alasan AS menguasai Venezuela dan beberapa wilayah lain termasuk Greenland Denmark.

INDEKS BERITA