Paling Sukses Berburu Kontrak Baru

Jumat, 16 Juli 2021 | 07:00 WIB
Paling Sukses Berburu Kontrak Baru
[]
Reporter: Dityasa H. Forddanta | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mencatatkan kontrak baru sebesar Rp 10,5 triliun di semester satu lalu. Realisasi tersebut tumbuh 208,82% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang mencapai Rp 3,4 triliun.

Emiten konstruksi pelat merah ini membidik kontrak baru sebesar Rp 40,13 triliun pada tahun ini. Dengan begitu, realisasi kontrak baru di semester pertama tersebut mencerminkan 26,16% dari total target tahun ini.

Kontrak anyar masih didominasi proyek infrastruktur, yang mencapai 65% dari keseluruhan perolehan kontrak. Sedang kontrak dari industri penunjang sebesar 25%. Sisanya berasal dari kontrak engineering, procurement & construction (EPC) serta gedung.

Untuk sisa waktu di paruh kedua tahun ini, WIKA masih fokus pada proyek infrastruktur. Manajemen menargetkan setidaknya masih ada kontrak baru senilai Rp 8 triliun-Rp 10 triliun lagi yang bisa diperoleh dari segmen ini.

Joshua Michael, analis Mirae Asset Indonesia, memaparkan, banyak proyek tahun lalu yang tertunda akibat pandemi Covid-19 dialihkan ke tahun ini. Faktor ini menyebabkan perolehan kontrak baru BUMN konstruksi terakselerasi.

Namun, tak menutup kemungkinan WIKA yang paling cepat dalam menyerap kontrak baru. Jika menilik performa pada kuartal pertama kemarin saja, perolehan kontrak baru WIKA sudah setara dengan 15%-20% dari perkiraan perolehan kontrak tahun ini, berdasarkan proyeksi Mirae.

Bandingkan dengan realisasi kontrak baru PT Adhi Karya Tbk (ADHI) yang baru setara 10,2%. Sementara realisasi kontrak baru PT PP Tbk (PTPP) sebesar 9,3% dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT) hanya 4,2%.

Setali tiga uang, analis Panin Sekuritas Ishlah Bimo Prakoso memasang sikap bullish untuk saham WIKA. Memang sempat terjadi relokasi anggaran pemerintah, tapi anggaran infrastruktur untuk tahun ini masih tetap lebih tinggi dibanding tahun lalu. Ini menjadi penyegar bagi prospek WIKA.

Kinerja keuangan turun

Satu hal yang perlu dicermati, WIKA memulai tahun ini dengan kinerja keuangan yang masih di bawah perkiraan konsensus. Melemahnya pendapatan kuartal pertama kemarin membuat laba bersih emiten pelat merah tersebut turun 21% secara tahunan menjadi Rp 78,2 miliar.

Untungnya, menurut paparan Ishlah dalam risetnya, penurunan laba bersih sedikit tertahan berkat penurunan beban dari cadangan piutang. Nilai beban sebesar Rp 105,6 miliar, turun dari sebelumnya Rp 344,8 miliar di kuartal pertama tahun lalu.

Joshua menghitung, total kewajiban WIKA di kuartal pertama kemarin turun menjadi Rp 22,9 triliun dari sebelumnya Rp 26,3 triliun. Alhasil, gross gearing WIKA turun menjadi 1,37 kali dari sebelumnya 1,58 kali.

Namun, kas WIKA pada periode tersebut hanya sebesar Rp 6,4 triliun. Padahal, posisi per akhir tahun masih sebesar Rp 14,9 triliun. "Net gearing menjadi meningkat ke level 0,99 kali dari sebelumnya 0,68 kali," tandas Joshua.

Mempertimbangkan kondisi tersebut, Joshua masih memberikan rekomendasi hold WIKA. Ia mematok target harga Rp 1.450 per saham.

Ishlah mempertahankan rekomendasi buy. Namun, dia menurunkan target harga menjadi Rp 1.800 dari sebelumnya Rp 2.000 per saham, dengan pertimbangan pemasukan tahun ini yang kemungkinan lebih kecil.

Ishlah memperkirakan, pendapatan WIKA sepanjang tahun ini menjadi Rp 22,9 triliun. Sebelumnya, ia memperkirakan pendapatan sebesar Rp 23,7 triliun. Ishlah juga merevisi perkiraan laba bersih tahun ini menjadi sekitar Rp 540 miliar dari sebelumnya Rp 1 triliun.

Arief Budiman, analis Ciptadana Sekuritas, merekomendasikan buy saham WIKA dengan target harga Rp 1.620 per saham. Selain karena masih memiliki prospek yang lebih baik sampai dengan akhir tahun ini, penurunan harga saham WIKA yang terjadi belakangan ini membuka kembali peluang investor mengoleksi saham WIKA.

Bagikan

Berita Terbaru

Penguatan Rupiah Masih Rapuh, Ditopang Sentimen Jangka Pendek
| Senin, 31 Agustus 2026 | 06:15 WIB

Penguatan Rupiah Masih Rapuh, Ditopang Sentimen Jangka Pendek

Penguatan rupiah masih didominasi oleh aliran modal masuk yang rapuh, belum ada perubahan fundamental jangka panjang.

Pertumbuhan Semu
| Senin, 31 Agustus 2026 | 06:12 WIB

Pertumbuhan Semu

Yang perlu dikejar bukan hanya besarnya modal yang masuk, tapi seberapa besar investasi itu meningkatkan kapasitas produksi dan kesempatan kerja.

AI dan Cloud Jadi Bahan Bakar Baru Emiten yang Kembangkan Pusat Data
| Senin, 31 Agustus 2026 | 06:00 WIB

AI dan Cloud Jadi Bahan Bakar Baru Emiten yang Kembangkan Pusat Data

Menakar potensi mesin pertumbuhan baru sejumlah emiten di bursa saham lewat pengembangan bisnis pusat data

Rasio Klaim Mengancam Laba Asuransi
| Senin, 31 Agustus 2026 | 05:45 WIB

Rasio Klaim Mengancam Laba Asuransi

Hingga paruh pertama 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rasio klaim asuransi umum bertengger di level 48,19%. 

 Ambisi Mencetak 3 Juta Lapangan Kerja Baru
| Senin, 31 Agustus 2026 | 05:35 WIB

Ambisi Mencetak 3 Juta Lapangan Kerja Baru

Pemerintah membidik investasi Rp 2.322 triliun untuk menyerap tenaga kerja sebanyak 2,57 juta hingga 3,49 juta lapangan pekerjaan pada 2027.

Stok Menipis, Harga Daging Sapi Menanjak
| Senin, 31 Agustus 2026 | 05:30 WIB

Stok Menipis, Harga Daging Sapi Menanjak

Stok sapi di feedlot saat ini diperkirakan hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar hingga tiga bulan ke depan atau sampai November 2026.

Penggunaan Gas Melon Bisa Menjebol Kuota
| Senin, 31 Agustus 2026 | 05:25 WIB

Penggunaan Gas Melon Bisa Menjebol Kuota

Pemerintah bakal membatasi pembelian LPG 3 kilogram berdasarkan desil pada DTSEN agar penyaluran tepat sasaran

Mekanisme Perampasan dan Pengelolaan Aset Disorot
| Senin, 31 Agustus 2026 | 05:19 WIB

Mekanisme Perampasan dan Pengelolaan Aset Disorot

RUU Perampasan Aset antara lain menawarkan mekanisme perampasan aset yang tidak sepenuhnya bergantung pada proses pemidanaan pelaku

Kredit Melaju, Bisnis Asuransi Jiwa Kredit Ikut Terpacu
| Senin, 31 Agustus 2026 | 04:45 WIB

Kredit Melaju, Bisnis Asuransi Jiwa Kredit Ikut Terpacu

Kinerja kredit perbankan yang tumbuh dobel digit ini dapat berdampak positif terhadap kinerja premi asuransi jiwa kredit. 

Impack Pratama Industri (IMPC) Genjot Kapasitas Produksi
| Senin, 31 Agustus 2026 | 04:20 WIB

Impack Pratama Industri (IMPC) Genjot Kapasitas Produksi

Penambahan kapasitas tersebut terutama difokuskan pada lini produk atap yang menjadi salah satu bisnis utama perusahaan.

INDEKS BERITA

Terpopuler