Pasar Kripto Masih Akan Bearish Walau Rebound Tipis

Jumat, 19 Juni 2026 | 17:57 WIB
Pasar Kripto Masih Akan Bearish Walau Rebound Tipis
[ILUSTRASI. Bitcoin memang masih menunjukkan koreksi ringan hingga 24 jam terakhir di level US$ 65.828. Walau begitu, pergerakan ini masih bisa disebut stabil.]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar kripto kembali bergairah seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Asa akan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran turut membawa minat investor kembali masuk ke aset berisiko, termasuk mata uang kripto.

Di awal minggu ini, alias Senin (15/6) lalu, harga bitcoin (BTC) sempat mengarah ke level US$ 66.000. Sejumlah altcoin utama seperti ethereum (ETH) diperdagangkan di atas US$ 1.700, sementara Ripple (XRP) bertengger di kisaran US$ 1,18.

Bitcoin memang masih menunjukkan koreksi ringan hingga 24 jam terakhir di level US$ 65.828. Walau begitu, pergerakan ini masih bisa disebut stabil.

Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menilai, sentimen geopolitik memang menjadi salah satu faktor yang cukup besar dalam mempengaruhi pergerakan pasar kripto saat ini.

Menurut dia, pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran langsung direspons positif oleh pasar. Harga minyak mentah turun ke kisaran US$ 80 per barel dan minat investor terhadap aset berisiko meningkat.

“Bitcoin berhasil pulih dari area US$ 60.000-an dan kembali bergerak menuju kisaran US$ 64.000 hingga US$ 67.000,” ujar Fyqieh kepada Kontan, belum lama ini.

Baca Juga: Saham Konglomerasi dan Bank Jumbo Mengangkat IHSG, MSCI Jadi Penentu Selanjutnya

Walau begitu, Fyqieh menilai penguatan yang terjadi saat ini belum sepenuhnya didukung oleh perbaikan fundamental ekonomi global. Justru menurut dia kenaikan bitcoin lebih banyak mencerminkan technical rebound setelah sebelumnya mengalami koreksi tajam. Pasalnya, sejumlah indikator makro ekonomi, terutama inflasi Amerika Serikat, masih menunjukkan tekanan yang relatif tinggi.

Menurut Fyqieh, dalam kondisi normal, inflasi yang tinggi biasanya akan memperkecil peluang penurunan suku bunga dan menekan aset berisiko. Namun, bitcoin justru mampu mempertahankan penguatannya meskipun masih jauh dari rekor tertinggi atau all time high (ATH) di US$ 126.000.

Baca Juga: Suku Bunga Melambung Tinggi, Emiten Properti Semakin Tak Bertaji

Selain sentimen geopolitik, pasar juga masih sangat memperhatikan arah kebijakan moneter global, khususnya Federal Reserve (The Fed).

“Ketika pasar melihat peluang penurunan suku bunga atau kebijakan yang lebih akomodatif, aset berisiko biasanya mendapat sentimen positif. Sebaliknya, jika The Fed kembali memberikan sinyal hawkish, potensi tekanan terhadap pasar kripto akan meningkat,” imbuhnya.

Selain faktor makro, terdapat pula sentimen spesifik industri yang turut menopang pasar kripto, seperti peningkatan akumulasi ethereum oleh bitmine, perkembangan tokenisasi aset dunia nyata atau real world asset (RWA), rencana Coinbase menghadirkan tokenized stocks, hingga kolaborasi berbagai institusi keuangan tradisional dengan infrastruktur blockchain.

Namun, sentimen tersebut cenderung berdampak pada sektor atau proyek tertentu dan bukan menjadi pendorong utama pergerakan bitcoin secara keseluruhan.

Baca Juga: Beleid RWA dan Stablecoin Untuk Pasar Domestik Segera Terbit

Dari sisi teknikal, Fyqieh melihat tren utama bitcoin masih cenderung bearish. Berdasarkan pengamatannya, saat ini bitcoin masih membentuk pola bearish flag sehingga penguatan dari area US$ 59.000 menuju kisaran US$ 67.000 lebih tepat dilihat sebagai pemulihan jangka pendek.

“Area US$ 61.000 menjadi level penting yang perlu diperhatikan. Jika bitcoin turun dan menembus level tersebut, maka ada potensi koreksi lanjutan hingga US$ 54.100 pada time frame harian,” kata Fyqieh.

Sementara itu, level US$ 67.000 menjadi area resistensi yang cukup kuat karena bertepatan dengan indikator exponential moving average (EMA) 9 dan EMA 21.

Apabila bitcoin mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, peluang kenaikan menuju area US$ 73.000 akan semakin terbuka.

Baca Juga: Harga Bitcoin Anjlok Dalam: Siap-siap Hadapi Level Krusial Ini!

Di sisi lain, indikator relative strength index (RSI) yang sebelumnya berada di area oversold mulai menunjukkan pemulihan. Meski demikian, investor tetap perlu mewaspadai tekanan jual mengingat struktur tren bitcoin secara keseluruhan masih tergolong rentan.

Menurut Fyqieh, terdapat sejumlah faktor yang dapat memicu koreksi pasar kripto dalam waktu dekat.

Pertama, konflik geopolitik di Timur Tengah yang hingga kini belum benar-benar berakhir. Jika ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat, harga energi dan minyak mentah berpotensi naik sehingga memicu inflasi yang lebih tinggi.

Kedua, kebijakan suku bunga The Fed. Berdasarkan pengamatan, jika inflasi kembali meningkat dan bank sentral Amerika Serikat mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga, maka tekanan terhadap Bitcoin dan aset kripto lainnya akan semakin besar.

Selain itu, langkah Bank of Japan (BoJ) yang mulai menaikkan suku bunga mendekati 1% juga perlu dicermati. Kebijakan tersebut berpotensi mempengaruhi aktivitas carry trade yen yang selama ini menjadi salah satu sumber likuiditas global.

“Ketika biaya pinjaman meningkat, ada kemungkinan investor mengurangi posisi di aset-aset berisiko,” ucap dia.

Baca Juga: Menghemat Devisa Lewat Program B50 dan E20

Pergerakan harga minyak mentah juga menjadi variabel yang tidak kalah penting. Saat ini harga minyak sudah lebih terkendali di kisaran US$ 78 per barel, namun masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik.

Ke depan, investor perlu mengantisipasi berbagai kejadian yang sulit diprediksi yang berpotensi mengguncang pasar kripto.

Fyqieh mencontohkan risiko peretasan (hacking) terhadap proyek blockchain besar maupun platform exchange yang kerap memicu kepanikan di pasar.

Selain itu, pergerakan dana dari investor institusi juga perlu dipantau. Arus keluar dana dari ETF Bitcoin maupun perubahan posisi pelaku pasar besar dapat memicu volatilitas dalam jangka pendek.

“Peristiwa-peristiwa seperti ini pada dasarnya sulit diprediksi. Karena itu yang paling penting bagi investor adalah menjaga kewaspadaan dan menerapkan manajemen risiko yang baik, baik saat menyimpan aset di wallet maupun di exchange,” tutupnya.

Bagikan

Berita Terbaru

BI Minta Bank Dorong Penyaluran Kredit UMKM
| Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:30 WIB

BI Minta Bank Dorong Penyaluran Kredit UMKM

Pertumbuhan kredit ke sektor tersebut hingga pertengahan 2026 masih tipis, hanya 1,2% secara tahunan

Purbaya Tambah Rp 31 Triliun untuk PPPK Jadi PNS
| Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:11 WIB

Purbaya Tambah Rp 31 Triliun untuk PPPK Jadi PNS

Menkeu Purbaya memastikan tambahan anggaran tersebut tidak menambah defisit anggaran tahun depan    

IHSG Berpeluang Lanjut Menguat Jumat (20/8), Simak Rekomendasi Sejumlah Saham
| Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:03 WIB

IHSG Berpeluang Lanjut Menguat Jumat (20/8), Simak Rekomendasi Sejumlah Saham

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan kembali mengalami penguatan pada perdagangan Jumat (20/8/2026).

SILO Akuisisi 14 RS Senilai Rp 9 Triliun, Lebih dari Sekadar Asset Recycling?
| Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:01 WIB

SILO Akuisisi 14 RS Senilai Rp 9 Triliun, Lebih dari Sekadar Asset Recycling?

Dampak terhadap laba SILO bergantung pada perbandingan antara beban sewa yang berhasil dihindari dengan tambahan depresiasi dan beban bunga.​

Batasan BBM Bersubsidi Hemat Anggaran 10%
| Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:01 WIB

Batasan BBM Bersubsidi Hemat Anggaran 10%

Pemerintah akan membatasi pembelian bahan bakar minyak (BBM) subsidi bagi masyarakat yang masuk desil 10 mulai tahun ini

Dalam Enam Bulan Utang Luar Negeri BI Melesat 72%
| Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:43 WIB

Dalam Enam Bulan Utang Luar Negeri BI Melesat 72%

Posisi utang luar negeri (ULN) bank sentral per akhir Juni 2026 sebesar US$ 42,46 miliar            

Sebelum Berlibur Akhir Pekan, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:35 WIB

Sebelum Berlibur Akhir Pekan, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Setelah asing mulai berbalik melakukan akumulasi, setidaknya tekanan terhadap IHSG menjadi lebih ringan. 

Daya Ungkit Belanja Semakin Menyusut
| Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:33 WIB

Daya Ungkit Belanja Semakin Menyusut

Alokasi belanja pegawai meningkat di tengah penurunan belanja barang dan belanja modal              

Inquiry Lahan Kawasan Industri SSIA Melonjak 88%, Konversi ke Pre-sales Jadi Ujian
| Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:22 WIB

Inquiry Lahan Kawasan Industri SSIA Melonjak 88%, Konversi ke Pre-sales Jadi Ujian

SSIA bakal mengembangkan Subang Smartpolitan Phase 3 seluas 400 ha dengan kebutuhan belanja modal sekitar Rp 1 triliun.

Godzilla El Nino Ancam Produksi Sawit, Bagaimana Prospek Saham AALI?
| Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01 WIB

Godzilla El Nino Ancam Produksi Sawit, Bagaimana Prospek Saham AALI?

Proyeksi kenaikan harga TBS bisa berpengaruh ke AALI karena ketergantungan yang cukup tinggi terhadap pasokan dari pihak eksternal.

INDEKS BERITA