Pasar Ragu dengan Kesepakatan Dagang, Kurs Rupiah Hari Ini Melemah 0,18%

Selasa, 15 Oktober 2019 | 22:46 WIB
Pasar Ragu dengan Kesepakatan Dagang, Kurs Rupiah Hari Ini Melemah 0,18%
[ILUSTRASI. Petugas merapikan mata uang rupiah di sebuah bank di Jakarta, Rabu (4/7).]
Reporter: Yasmine Maghfira | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah melanjutkan pelemahan. Kurs rupiah hari ini (15/10) di pasar spot melemah 0,18% ke level Rp 14.166 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sehari sebelumnya di Rp 14.140.

Sementara berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,10% menjadi Rp 14.140 per dollar AS pada penutupan perdagangan Selasa (15/10).

Menurut Ekonom Bank BCA David Sumual, pernyataan China yang menyebutkan, mereka masih mempelajari perjanjian perdagangan dengan AS membuat pelaku pasar kembali ragu dengan kesepakatan pekan lalu.

Baca Juga: Neraca Dagang Defisit, Kurs Rupiah Hari Ini Melemah Ke Rp 14.166

Terlebih, China masih akan mungkin merevisi beberapa poin yang belum mereka setujui. "Walaupun Donald Trump menyatakan, AS dan China sudah sepakat secara parsial dan belum semuanya, tapi pasar kembali ragu," katanya.

David mengatakan, pasar semakin berhati-hati menyusul pernyataan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin soal kemungkinan penerapan tarif impor tambahan pada 15 Desember mendatang. Dengan kondisi, jika kedua negara tidak mencapai kesepakatan.

Meski awalnya pasar menyambut kesepakatan perdagangan tahap awal, Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim bilang, kurangnya perincian hasil perjanjian AS-China membuat banyak investor berhati-hati.

ASpalagi, China ingin lebih banyak pembicaraan segera setelah akhir Oktober untuk menuntaskan perincian kesepakatan tahap awal ini, sebelum Presiden China Xi Jinping setuju untuk menandatanganinya.

Baca Juga: Rupiah hari ini ditutup melemah 0,19% ke level Rp 14.166 per dolar AS

Tindakan China itu, Ibrahim menilai, membuat pasar masih mewaspadai negosiasi pedagangan antara kedua raksasa ekonomi dunia tersebut.

Sentimen eksternal lain yang menyebabkan dolar masih menguat ialah, perizinan yang AS dapat dari Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Tepatnya, mengizinkan AS mengenakan tarif impor hingga US$ 7,5 miliar terhadap barang-barang Uni Eropa.

Dari dalam negeri, sentimen yang membuat rupiah kembali melemah adalah neraca perdagangan Indonesia pada September 2019 mengalami defisit US$ 160,5 juta. Sedangkan sepanjang tahun berjalan terjadi defisit US$ 1,95 miliar.

Ibrahim mengungkapkan, walau neraca dagang defisit, Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi melalui transaksi di pasar valas dan obligasi dalam perdagangan DNDF.

Baca Juga: Rupiah melemah karena keraguan kesepakatan dagang, simak prediksinya untuk esok hari

"Walaupun usaha tersebut kurang membuahkan hasil yang maksimal akibat data eksternal yang kurang bersahabat, mata uang garuda fluktuatifnya masih bisa terkendali dengan baik," ujar Ibrahim.

David menambahkan, ekspektasi pasar berbeda lantaran rata-rata ekonom memperkirakan neraca dagang Indonesia surplus. Itu juga menjadi sedikit sentimen negatif dan pemicu rupiah melemah.

Sentimen-sentimen tersebut masih akan berpengaruh pada pergerakan rupiah besok. David memproyeksikan, mata uang garuda pada perdagangan Rabu (16/10) masih akan sedikit melemah, dengan rentang Rp 14.120-Rp 14.180.

Sedangkan Ibrahim juga memperkirakan rupiah masih melemah pada rentang Rp 14.132-Rp 14.190 per dolar AS.

Bagikan

Berita Terbaru

Ditopang Produksi, Harga CPO, & Faktor El Nino, Saham LSIP Punya Ruang untuk Menguat
| Minggu, 11 Oktober 2026 | 10:10 WIB

Ditopang Produksi, Harga CPO, & Faktor El Nino, Saham LSIP Punya Ruang untuk Menguat

Rata-rata usia tanaman LSIP yang mencapai 16–19 tahun dapat membatasi produktivitas TBS dan meningkatkan kerentanan tanaman terhadap kekeringan. 

Rekomendasi Saham SMIL di Tengah Lonjakan Harga dan Manuver di Bisnis Alat Berat
| Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:00 WIB

Rekomendasi Saham SMIL di Tengah Lonjakan Harga dan Manuver di Bisnis Alat Berat

Kenaikan harga yang signifikan membuat valuasi harga saham PT Sarana Mitra Luas Tbk (SMIL) kini berada di level premium.

Pengkreditan PPN Masukan Alkes
| Minggu, 11 Oktober 2026 | 08:26 WIB

Pengkreditan PPN Masukan Alkes

Perusahaan alat kesehatan sekaligus klinik perlu memahami ketentuan pengukuhan PKP dan pengkreditan PPN Masukan atas biaya sewa tempat usaha.

Harga Emas dan Perak Redup Dua Bulan Terakhir, Koreksi Bersifat Sementara
| Minggu, 11 Oktober 2026 | 07:32 WIB

Harga Emas dan Perak Redup Dua Bulan Terakhir, Koreksi Bersifat Sementara

Harga emas dan perak tengah berkurang kilaunya karena kedua logam mulia ini kompak merosot harganya ke level terendah dalam dua bulan terakhir.

Kisah Investasi Iman Sudargo: Dari Saham Berisiko Tinggi ke Portofolio yang Seimbang
| Minggu, 11 Oktober 2026 | 07:00 WIB

Kisah Investasi Iman Sudargo: Dari Saham Berisiko Tinggi ke Portofolio yang Seimbang

Menurut Country Head Luno Indonesia, kesuksesan investasi juga dipengaruhi kemampuan mengelola risiko dan mengendalikan emosi.

Elnusa (ELSA) Menjajal Pasar Irak, Incar Pasar Global dan Kerek Pendapatan
| Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:56 WIB

Elnusa (ELSA) Menjajal Pasar Irak, Incar Pasar Global dan Kerek Pendapatan

Pada semester I-2026 kontribusi pelanggan dari pihak ketiga telah menyentuh angka sekitar 22 persen dari total pendapatan Elnusa.

Penjualan Mobil Meningkat 28%, Bagaimana Prospek Saham Emiten Otomotif?
| Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:42 WIB

Penjualan Mobil Meningkat 28%, Bagaimana Prospek Saham Emiten Otomotif?

Pemulihan pasar otomotif memang terlihat, tetapi keberlanjutannya masih perlu dikonfirmasi melalui data penjualan bulan-bulan berikutnya

Incar Proyek PLTS 100 Gwp, Produsen Setrum Surya Ini Membuka Peluang Bermitra
| Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:15 WIB

Incar Proyek PLTS 100 Gwp, Produsen Setrum Surya Ini Membuka Peluang Bermitra

PLN Nusantara Renewables (PLN NR) bersiap meraup peluang dari ambisi pemerintah membangun PLTS 100 GWp dalam tiga tahun.

 
Kisah Jalak Tiongkok, Terbang Bebas Melintasi Banyak Negara
| Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:10 WIB

Kisah Jalak Tiongkok, Terbang Bebas Melintasi Banyak Negara

Di Oktober, saat suhu udara di Asia dingin, daun-daun maple menguning. Kawanan burung migran besar-kecil bersiap-siap terbang ke selatan. 

Ironi Reformasi Bursa
| Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:10 WIB

Ironi Reformasi Bursa

Agenda reformasi bursa saham, yang berfokus ke peningkatan transparansi, telah berjalan selama enam bulan. ​Hasilnya?

INDEKS BERITA

Terpopuler