Pasokan Apartemen Berlimpah, Begini Antisipasi dan Dampaknya Bagi Intiland (DILD)

Selasa, 14 Januari 2020 | 06:36 WIB
Pasokan Apartemen Berlimpah, Begini Antisipasi dan Dampaknya Bagi Intiland (DILD)
[ILUSTRASI. Superblok Praxis yang dikembangkan PT Intiland Development Tbk (DILD) di Surabaya. Pasokan apartemen yang berlebih di Jakarta dan Surabaya dinilai berpotensi mengancam kinerja Intiland. DOK/DILD]
Reporter: Benedicta Prima | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Intiland Development Tbk (DILD), yang sebagian besar pendapatannya datang dari bangunan high rise, telah menyiapkan strategi untuk menjaga kinerjanya.

Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi PT Intiland Development Tbk Archied Noto Pradono mengatakan, perusahaan ini akan menyasar pasar end user, dengan lokasi proyek di dalam kota.

Apartemen yang digarap DILD antara lain 57 Prom dengan tingkat okupansi 90%, Regatta tahap II dengan tingkat okupansi 50% dan SQ Residence dengan tingkat okupansi 45%.

Di Surabaya, perusahaan ini memiliki apartemen Graha Golf dengan tingkat okupansi 85%, Rosebay dengan tingkat okupansi 55% dan Apartemen Praxis dengan tingkat okupansi 80%.

Baca Juga: Pasokan kantor melimpah, Intiland Development (DILD) belum kerek harga sewa

Hingga kuartal III-2019, pendapatan segmen high rise mencapai Rp 858,05 miliar, setara 46,27% dari total pendapatan DILD.

"Kami optimistis, tetapi juga cermat dalam membuka proyek high rise baru," jelas Archied, Senin (13/1).

Untuk itu, tahun ini DILD menyediakan anggaran belanja modal alias capital expenditure (capex) sebesar Rp 1,5 triliun.

Sebagian besar dana digunakan untuk konstruksi proyek-proyek yang sudah terjual.

Penjualan turun

Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Chris Apriliony melihat, di tengah kondisi penurunan penjualan apartemen pendapatan DILD berpeluang ikut turun.

Di sisi lain, pendapatan berulang alias recurring income juga dinilai belum terlalu kuat.

Pada kuartal III-2019, recurring income tercatat Rp 461,66 miliar, atau naik 7,22% yoy.

Jumlah tersebut hanya setara 24,9% dari total pendapatan.

"Ke depan, DILD masih cenderung stagnan karena investor wait and see. Secara valuasi, pendapatan DILD juga masih tergolong kecil," jelas Chris. 

Sementara itu, Colliers International Indonesia Research Services mencatat persediaan apartemen terus tumbuh. 

Padahal, penyerapannya cenderung stagnan bahkan turun, terutama di wilayah Jakarta dan Surabaya.

Baca Juga: Ini dia saham-saham pilihan para analis hingga akhir Januari

Kedua kota ini, seperti yang sudah dipaparkan di atas, merupakan lokasi sejumlah proyek apartemen Intiland.

Nah, Colliers memperkirakan jumlah serapan apartemen di Jakarta akan turun ke level 85%-86% pada tahun ini, dibandingkan akhir tahun lalu sebesar 87,2%.

Sementara pasokan diperkirakan akan mencapai 13.304 unit.

Di Surabaya, ada potensi penambahan 8.948 unit di tahun ini, dengan tingkat serapan stagnan di 84%.

Bagikan

Berita Terbaru

Meski di Bawah Lindungan BI, Rupiah Berpotensi Tertekan, Simak Prediksinya Hari Ini
| Selasa, 17 Maret 2026 | 06:24 WIB

Meski di Bawah Lindungan BI, Rupiah Berpotensi Tertekan, Simak Prediksinya Hari Ini

Kemarin rupiah sempat menyundul angka Rp 17.000. BI berupaya keras menahan rupiah agar tidak menembus angka keramat tersebut.

Emiten Pengembang Smelter Terpapar Lonjakan Harga Aluminium
| Selasa, 17 Maret 2026 | 06:05 WIB

Emiten Pengembang Smelter Terpapar Lonjakan Harga Aluminium

Lonjakan harga aluminium dapat menjadi sentimen yang memengaruhi kelangsungan usaha emiten pengembang smelter.

Menjelang Libur Lebaran, Amankan Portofolio, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Selasa, 17 Maret 2026 | 06:03 WIB

Menjelang Libur Lebaran, Amankan Portofolio, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

IHSG diproyeksi masih akan bergerak fluktuatif..Selain faktor politik, hari ini pasar menantikan arah suku bunga Bank Indonesia (BI).

Para Calon Nakhoda Bursa Efek Siap Bersaing
| Selasa, 17 Maret 2026 | 05:49 WIB

Para Calon Nakhoda Bursa Efek Siap Bersaing

Nama-nama paket calon direksi Bursa Efek Indonesia (BEI) periode tahun 2026-2030 kini mulai bermuculan.

Setelah Rajin Akuisisi, Bumi Resources (BUMI) Menambah Aset Non Batubara
| Selasa, 17 Maret 2026 | 05:45 WIB

Setelah Rajin Akuisisi, Bumi Resources (BUMI) Menambah Aset Non Batubara

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terus berupaya meningkatkan kontribusi pendapatan segmen bisnis non-batubara.

Jeffrey Hendrik Dikabarkan Jadi Salah Satu Calon Dirut BEI, Sejumlah PR Utama Menanti
| Selasa, 17 Maret 2026 | 05:37 WIB

Jeffrey Hendrik Dikabarkan Jadi Salah Satu Calon Dirut BEI, Sejumlah PR Utama Menanti

Pekerjaan rumah direksi BEI yang utama ialah menghapuskan kebijakan yang memberatkan emiten serta tidak disukai oleh investor institusi.

Rogoh Kocek Rp 1,7 Triliun, MBMA Buyback 1,8 Miliar Saham
| Selasa, 17 Maret 2026 | 05:35 WIB

Rogoh Kocek Rp 1,7 Triliun, MBMA Buyback 1,8 Miliar Saham

Periode buyback saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dimulai sejak hari ini, Selasa (17/3), sampai 16 Juni 2026. 

Muncul Tiga Paket yang Berminat Isi Direksi BEI, Salah Satunya Paket Iding Pardi
| Selasa, 17 Maret 2026 | 05:31 WIB

Muncul Tiga Paket yang Berminat Isi Direksi BEI, Salah Satunya Paket Iding Pardi

Iding Pardi yang kini menjabat Direktur Utama KPEI mengakui saat ini program yang akan dia bawa ke BEI masih dirumuskan oleh tim.

Genjot Bisnis Solusi Digital, Cuan Metrodata Electronics (MTDL) Bisa Menebal
| Selasa, 17 Maret 2026 | 05:15 WIB

Genjot Bisnis Solusi Digital, Cuan Metrodata Electronics (MTDL) Bisa Menebal

PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) memperkuat bisnis solusi digital berbasis cloud dan artificial intelligence (AI).

Konflik Timur Tengah Bawa Peluang Buat BULL, Cek Rekomendasi Sahamnya
| Selasa, 17 Maret 2026 | 04:06 WIB

Konflik Timur Tengah Bawa Peluang Buat BULL, Cek Rekomendasi Sahamnya

Tarif kapal tanker VLCC melonjak 1.402% YTD. Analis proyeksi pendapatan BULL naik signifikan. Simak target harga sahamnya.

INDEKS BERITA

Terpopuler