Pebisnis Properti Tagih Janji Insentif Pajak

Jumat, 25 Januari 2019 | 07:26 WIB
Pebisnis Properti Tagih Janji Insentif Pajak
[]
Reporter: Lidya Yuniartha, Mochammad Fauzan | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pebisnis properti menanti realisasi insentif pajak yang sudah dijanjikan pemerintah. Pelonggaran pajak diharapkan bisa menggelitik pertumbuhan pasar yang sedang melambat.

"Kami harap secepatnya. Kalau sudah mengeluarkan wacana itu direalisasikan, supaya ada kepastian," tutur Sekretaris Jenderal DPP Real Estate Indonesia (REI), Paulus Totok Lusida dalam Property Outlook 2019, Kamis (24/1).

Tahun lalu, pemerintah menyatakan akan menerbitkan insentif pajak untuk sektor properti. Bentuknya berupa peningkatan ambang batas pengenaan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) untuk properti mewah menjadi Rp 30 miliar dari Rp 20 miliar. Insentif lain yang dijanjikan pemerintah adalah pemangkasan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 pembelian properti dari 5% menjadi 1% belum juga terealisasi.

Menurut Paulus, pemberian insentif pajak untuk properti mewah ini akan mendorong masyarakat untuk membeli properti mewah dengan nilai Rp 5 miliar. Selama ini banyak orang enggan membeli hunian dengan nilai Rp 5 miliar karena tidak mau terkena PPh tambahan sebesar 5%. "Akhirnya yang harga aslinya Rp 5 miliar, malah banyak yang menghindari itu dengan mengecilkan luas dan lain-lain. Padahal setelah hitung-hitungan dengan pajak, nilainya tak begitu tinggi," terang Paulus.

Country General Manager Rumah123.com, Ignatius Untung menyatakan, tanpa insentif, sektor properti bakal tumbuh stagnan. "Apalagi ini tahun politik, setelahnya orang sibuk mempersiapkan Lebaran, sehingga belanja properti baru efektif pada semester II-2019," kata Untung.

Kepala Sub bidang Primer Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Asep Nurwanda belum bisa memastikan kelahiran kebijakan insentif pajak untuk sektor properti ini. Namun, ia optimistis sektor properti tetap tumbuh karena dukungan berbagai proyek infrastruktur yang sudah selesai. "Tahun ini pemerintah juga fokus pada program perumahan rakyat," jelas Asep yang ditemui di acara yang sama.

Bagikan

Berita Terbaru

Stock Split Saham DSSA, Upaya Keluar dari HSC Meski tak Menarik Buat Semua Investor
| Rabu, 08 April 2026 | 09:00 WIB

Stock Split Saham DSSA, Upaya Keluar dari HSC Meski tak Menarik Buat Semua Investor

Secara bisnis, DSSA sedang dalam mode ekspansif demi mempertebal portofolio EBT sekaligus melebarkan sayap di infrastruktur digital. 

Yield Obligasi Korporasi Melonjak: Apa Artinya Bagi Portofolio Anda?
| Rabu, 08 April 2026 | 08:52 WIB

Yield Obligasi Korporasi Melonjak: Apa Artinya Bagi Portofolio Anda?

Penerbitan obligasi korporasi justru naik saat ekonomi melambat. Pefindo ungkap alasan di balik strategi refinancing emiten.

Beleid Pajak UMKM Terbit Semester I-2026
| Rabu, 08 April 2026 | 08:49 WIB

Beleid Pajak UMKM Terbit Semester I-2026

Ia memastikan, aturan revisi pajak penghasilan (PPh) final untuk pelaku UMKM akan segera diterbitkan dalam waktu dekat

BI Setor Surplus Rp 78 Triliun ke Pemerintah
| Rabu, 08 April 2026 | 08:43 WIB

BI Setor Surplus Rp 78 Triliun ke Pemerintah

Surplus tersebut akan disetorkan BI kepada pemerintah setelah proses audit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selesai

Pelemahan Rupiah Masih Jadi Pemberat IHSG
| Rabu, 08 April 2026 | 07:45 WIB

Pelemahan Rupiah Masih Jadi Pemberat IHSG

 Sentimen global dan pelemahan nilai tukar rupiah diprediksi masih akan menekan pergerakan IHSG hari ini.

Kinerja DEWA Ditopang Kenaikan Harga Batubara dan Diversifikasi Bisnis
| Rabu, 08 April 2026 | 07:43 WIB

Kinerja DEWA Ditopang Kenaikan Harga Batubara dan Diversifikasi Bisnis

DEWA raup laba bersih Rp 4,31 triliun di 2025. Namun, laba 2026 diprediksi normalisasi. Cek strategi baru DEWA untuk tetap untung.

Rupiah Melemah, Emiten dengan Utang Dolar AS Bisa Tercekik
| Rabu, 08 April 2026 | 07:39 WIB

Rupiah Melemah, Emiten dengan Utang Dolar AS Bisa Tercekik

Liabilitas dolar AS membayangi kinerja laba bersih banyak emiten, terutama emiten yang punya utang dolar AS.

Menakar Untung, Rugi, dan Risiko Dividen Tunai Plus Bonus Saham Cinema XXI (CNMA)
| Rabu, 08 April 2026 | 07:30 WIB

Menakar Untung, Rugi, dan Risiko Dividen Tunai Plus Bonus Saham Cinema XXI (CNMA)

CNMA tercatat memiliki kas dan setara kas sebesar Rp 1,81 triliun per Desember 2025, turun 10,39% dari Desember 2024 yang Rp 2,02 triliun.

Gencatan Senjata Saat Rupiah Ambruk, Asing Kabur, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Rabu, 08 April 2026 | 07:29 WIB

Gencatan Senjata Saat Rupiah Ambruk, Asing Kabur, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

​Kaburnya asing dan anjloknya rupiah akan mewarnai pergerakan bursa saham hari ini. AS dan Iran sepakat gencatan senjata selama dua pekan.

Superior Prima Sukses (BLES) Fokus Optimalisasi Utilitas Produksi
| Rabu, 08 April 2026 | 06:20 WIB

Superior Prima Sukses (BLES) Fokus Optimalisasi Utilitas Produksi

Dengan kapasitas produksi yang telah diperluas, efisiensi biaya yang semakin baik serta jaringan distribusi yang semakin kuat

INDEKS BERITA

Terpopuler