Penduduk 280 Juta, Masih Jadi Daya Tarik atau Ilusi Pasar Besar Indonesia

Senin, 13 Juli 2026 | 07:01 WIB
Penduduk 280 Juta, Masih Jadi Daya Tarik atau Ilusi Pasar Besar Indonesia
[ILUSTRASI. Kontan - Kilas Online. Dok. Istimewa. Photo: shutterstock.com (Shutterstock/DOK)]
Reporter: Amalia Nur Fitri, Nur Qolbi | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia kerap dipromosikan sebagai pasar yang menjanjikan di dunia. Narasinya pun klasik, yakni jumlah populasi yang mencapai hampir 280 jiwa dianggap potensial menjadi pasar konsumen dan layak menjadi tujuan utama investasi.

Narasi itu pula yang menjadi salah satu alasan investor asing berbondong-bondong membenamkan modalnya ke Indonesia, terutama era ledakan startup digital pada sekitar satu dekade terakhir

Dalam kanal Youtube The Generalist berjudul "Hard Truthts from Indonesia's Startup Scene", seorang pengusaha, investor dan praktisi teknologi serta pendiri PT Bhumi Varta Technology dengan pengalaman 15 tahun di Asia, Martyn Terpilowski menyebutkan bahwa Indonesia selama ini sering dijual sebagai negara besar dengan pasar 280 juta penduduk. Tetapi Martyn menyorot bahwa narasi tersebut tidak datang dengan analisis kemampuan belanja masyarakatnya.

Baca Juga: Adu Kuat Saham Start Up Teknologi, Mana yang Masih Pantas Dilirik?

Dalam kanal youtube tersebut, Martyn Terpilowski menyampaikan bahwa dengan product domestic bruto (PDB) atau gross domestic product (GDP) per kapita Indonesia yang masih di kisaran US$ 5.000, membuat banyak modal bisnis berbasis konsumen atau business to consumer (B2C) kesulitan mencapai profit tanpa terus membakar modal melalui subsidi dan diskon.



Di sisi lain, realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) alias Foreign Direct Investment (FDI) di tanah air dalam satu dekade belakangan memang menunjukkan perubahan signifikan. Dalam data yang diperoleh Kontan, sektor dengan pertumbuhan PMA tertinggi justru berasal dari kelompok nontradisional.

Kategori Jasa Lainnya mencatat lonjakan paling spektakuler dengan nilai PMA yang meningkat dari US$ 289,3 juta pada 2015 menjadi US$ 4,49 miliar pada 2025, atau melonjak lebih dari 15 kali lipat.

Kemudian, Industri Barang dari Kulit dan Alas Kaki  juga mencatat pertumbuhan impresif 8,36%. Nilai investasinya naik dari US$ 161,5 juta pada 2015 menjadi US$ 1,51 miliar pada 2025. Dorongan ekspor alas kaki dan kebijakan hilirisasi diyakini menjadi katalis utama masuknya PMA ke sektor padat karya ini.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan

Berita Terbaru

Protelindo Jadi Pemegang Saham BTEL Lewat OWK, Begini Kata Manajemen TOWR
| Rabu, 26 Agustus 2026 | 16:08 WIB

Protelindo Jadi Pemegang Saham BTEL Lewat OWK, Begini Kata Manajemen TOWR

Kondisi buruk PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) tercermin dari defisiensi modal per September 2025 yang mencapai Rp 5,97 triliun.

Simak Pilihan Saham Sektor Infrastruktur Di Tengah Tekanan Suku Bunga Tinggi
| Rabu, 26 Agustus 2026 | 08:24 WIB

Simak Pilihan Saham Sektor Infrastruktur Di Tengah Tekanan Suku Bunga Tinggi

 Terdapat beberapa emiten sektor infrastruktur dengan pendapatan berulang dan fundamental defensif yang dapat dicermati.

Bisnis Nikel Menopang Kinerja Laba Harum Energy
| Rabu, 26 Agustus 2026 | 08:19 WIB

Bisnis Nikel Menopang Kinerja Laba Harum Energy

Bisnis nikel semakin kuat menopang pendapatan PT Harum Energy Tbk (HRUM). HRUM pun berpeluang melanjutkan tren positif pertumbuhan kinerja insi

Perusahaan Manufaktur Kesehatan Milik UGM Siap IPO, Cermati Prospek dan Valuasinya
| Rabu, 26 Agustus 2026 | 08:17 WIB

Perusahaan Manufaktur Kesehatan Milik UGM Siap IPO, Cermati Prospek dan Valuasinya

PT Swayasa Prakarsa Tbk (SWAP) membidik dana initial public offering (IPO) sebanyak-banyaknya Rp 45,22 miliar.

IHSG Rabu (26/8) Berpeluang Sideways
| Rabu, 26 Agustus 2026 | 08:13 WIB

IHSG Rabu (26/8) Berpeluang Sideways

IHSG masih bertahan di atas moving average (MA) 100. Histogram MACD juga masih berada di area positif, 

Menadah Cuan Saham Lapis Dua
| Rabu, 26 Agustus 2026 | 08:09 WIB

Menadah Cuan Saham Lapis Dua

Prospek saham-saham lapis kedua (second liner) diperkirakan tetap menjanjikan, di tengah sentimen tinjauan indeks FTSE 

GOTO Ramai Ditransaksikan Jelang Efektif Rebalancing MSCI, Mayoritas di Bawah Rp 50
| Rabu, 26 Agustus 2026 | 08:07 WIB

GOTO Ramai Ditransaksikan Jelang Efektif Rebalancing MSCI, Mayoritas di Bawah Rp 50

Risiko panic selling saham GOTO terbuka jika BEI melepas batas bawah harga saham papan utama, pengembangan dan papan ekonomi baru di Rp 50.

Menakar Prospek Saham Grup Adaro ADRO, ADMR dan AADI di Tengah Transformasi Bisnis
| Rabu, 26 Agustus 2026 | 07:42 WIB

Menakar Prospek Saham Grup Adaro ADRO, ADMR dan AADI di Tengah Transformasi Bisnis

Operasional smelter aluminium menandai sumber pendapatan baru bagi bisnis Grup Adaro sekaligus memperkuat narasi transformasi bisnis.

Mangkir Bayar Utang, Pefindo Memangkas Peringkat ADHI Menjadi idCCC
| Rabu, 26 Agustus 2026 | 07:39 WIB

Mangkir Bayar Utang, Pefindo Memangkas Peringkat ADHI Menjadi idCCC

Kami dapat meninjau kembali peringkat apabila ADHI mampu mengatasi permasalahan terkait kewajiban utang yang jatuh tempo tersebut. 

Dampak Sanksi AS Terkait Iran pada Rupiah di Rabu (26/8)
| Rabu, 26 Agustus 2026 | 07:00 WIB

Dampak Sanksi AS Terkait Iran pada Rupiah di Rabu (26/8)

Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 17.723 per dolar AS, melemah 0,03% dibandingkan posisi penutupan Senin (24/8). 

INDEKS BERITA

Terpopuler