Penduduk 280 Juta, Masih Jadi Daya Tarik atau Ilusi Pasar Besar Indonesia
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia kerap dipromosikan sebagai pasar yang menjanjikan di dunia. Narasinya pun klasik, yakni jumlah populasi yang mencapai hampir 280 jiwa dianggap potensial menjadi pasar konsumen dan layak menjadi tujuan utama investasi.
Narasi itu pula yang menjadi salah satu alasan investor asing berbondong-bondong membenamkan modalnya ke Indonesia, terutama era ledakan startup digital pada sekitar satu dekade terakhir
Dalam kanal Youtube The Generalist berjudul "Hard Truthts from Indonesia's Startup Scene", seorang pengusaha, investor dan praktisi teknologi serta pendiri PT Bhumi Varta Technology dengan pengalaman 15 tahun di Asia, Martyn Terpilowski menyebutkan bahwa Indonesia selama ini sering dijual sebagai negara besar dengan pasar 280 juta penduduk. Tetapi Martyn menyorot bahwa narasi tersebut tidak datang dengan analisis kemampuan belanja masyarakatnya.
Baca Juga: Adu Kuat Saham Start Up Teknologi, Mana yang Masih Pantas Dilirik?
Dalam kanal youtube tersebut, Martyn Terpilowski menyampaikan bahwa dengan product domestic bruto (PDB) atau gross domestic product (GDP) per kapita Indonesia yang masih di kisaran US$ 5.000, membuat banyak modal bisnis berbasis konsumen atau business to consumer (B2C) kesulitan mencapai profit tanpa terus membakar modal melalui subsidi dan diskon.
Di sisi lain, realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) alias Foreign Direct Investment (FDI) di tanah air dalam satu dekade belakangan memang menunjukkan perubahan signifikan. Dalam data yang diperoleh Kontan, sektor dengan pertumbuhan PMA tertinggi justru berasal dari kelompok nontradisional.
Kategori Jasa Lainnya mencatat lonjakan paling spektakuler dengan nilai PMA yang meningkat dari US$ 289,3 juta pada 2015 menjadi US$ 4,49 miliar pada 2025, atau melonjak lebih dari 15 kali lipat.
Kemudian, Industri Barang dari Kulit dan Alas Kaki juga mencatat pertumbuhan impresif 8,36%. Nilai investasinya naik dari US$ 161,5 juta pada 2015 menjadi US$ 1,51 miliar pada 2025. Dorongan ekspor alas kaki dan kebijakan hilirisasi diyakini menjadi katalis utama masuknya PMA ke sektor padat karya ini.
