Pengendali GoTo Tetap SDM Indonesia, Meski Sekitar 86,37% Sahamnya Dikuasai Asing

Kamis, 10 Juni 2021 | 14:05 WIB
Pengendali GoTo Tetap SDM Indonesia, Meski Sekitar 86,37% Sahamnya Dikuasai Asing
[ILUSTRASI. Mitra layanan ojek daring Gojek menunjukkan logo merger perusahaan Gojek dan Tokopedia di shelter penumpang Stasiun Kereta Api Sudirman, Jakarta, Jumat (28/5/2021). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc.]
Reporter: Yuwono Triatmodjo | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Merger Gojek dengan Tokopedia (GoTo) telah melahirkan decacorn kebanggaan bagi bangsa ini dengan valuasi disebut-sebut mencapai US$ 17 miliar atau setara Rp 198,80 triliun (kurs Rp 14.200 per dollar AS). Meski kini, mayoritas kepemilikan saham GoTo dimiliki asing, berkisar 86,37%, namun diyakini pengamat, pengendalian GoTo tetap berada di tangan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yakni para pendirinya, yaitu Nadiem Anwar Makarim dan kawan-kawan.

Hal tersebut ditegaskan Garibaldi Thohir, Komisaris Utama PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek). Pria yang akrab disapa Boy Thohir tersebut menyatakan, hak suara (voting rights) para pendiri perusahaan teknologi tersebut, masih menjadi mayoritas.

"Kalau di Gojek kayaknya begitu. Tetapi Saya cuma dengar-dengar saja, yang tahu pasti BOD (Board of Directors)," tulis Boy Thohir dalam pesan singkatnya kepada KONTAN, Kamis (10/6).

Baca Juga: GoTo Menguasai 93,52% Saham Tokopedia

Apa yang dinyatakan Boy Thohir, mengenai pengendalian perusahaan oleh para pendiri, memang sudah jamak terjadi di dunia internasional. Maka tidak heran, bila kelak terbukti baik Nadiem Anwar Makarim dan Kevin Aluwi sebagai pendiri Gojek, serta William Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edison selaku pendiri Tokopedia, masih memiliki gabungan hak suara mayoritas di GoTo.

Mengutip tulisan kr-asia.com, Rabu (9/6), disebutkan bahwa Anthony Tan sebagai pendiri Grab, menguasai hingga 60,4% suara di perusahaan ride hailing asal Malaysia yang kini berkantor pusat di Singapura itu. Padahal, Anthony Tan kini hanya memiliki 2,2% saham Grab.

Anthony Tan tidak sendirian. Banyak pendiri perusahaan teknologi juga mendapatkan hak suara yang besar, agar perusahaan tetap dapat berkembang sesuai gagasan awal sejak didirikan. Berikut ini daftar hak suara para pendiri perusahaan teknologi dunia.

Hak Suara Para Pendiri Perusahaan Teknologi Dunia
Nama Jabatan Perusahaan Hak Suara/Voting Power
Anthony Tan co-founder dan CEO Grab 60,4% (sejak Maret 2021)
Cheng Wei founder dan CEO DIDI 49,19% (sejak Mei 2021)
Travis Kalanick co-founder dan mantan CEO UBER 16% (sejak Agustus 2017)
Jack Ma co-founder dan mantan CEO Ant Group 50,5% (sejak Agustus 2020)
Forrest Li founder dan CEO SEA 38,8% (sejak Maret 2020)
Richard Liu founder dan CEO JD.com 78,7% (sejak Februari 2020)
Mark Zuckerberg co-founder dan CEO Facebook 53% (sejak April 2021)
Adam Neumann co-founder dan mantan CEO Wework 50% (sejak Agustus 2019)
Larry Page dan Sergey Brin co-founders Google 51,6% (sejak April 2021)

Sumber: KrAsia bersumber dari website perusahaan, laporan dan bahan promosi  

Peneliti Senior Bidang Ekonomi di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Poltak Hotradero menyatakan, penguasaan perusahaan berdasarkan hak suara sudah jamak terjadi di AS dan ditiru oleh banyak perusahaan di negara lain.

Pengembangan perusahaan teknologi sangat bergantung pada hal teknis, semisal pengetahuan mengenai data base, pengolahan data, menjaring data dan lain sebagainya. "Banyak private equity tidak menguasai hal teknis itu, meski mereka tahu soal bisnisnya," terang Poltak kepada KONTAN.

Di Silicon Valley, lanjut Poltak, dulu memang banyak private equity yang menjadi founder dari perusahaan-perusahaan teknologi, atau dengan kata lain mereka merupakan veteran di bidang teknologi. Namun perlu diingat, dunia informasi dan teknologi berkembang sangat cepat.

Sehingga mengenai cara mengurus dan strategi ke depan pertumbuhannya seperti apa, pengelolaan data, para private equity tersebut akan menyerahkannya kepada pendiri (founder).

"Supaya fair, agar sama-sama tanggung renteng, founder masih memiliki hak suara mayoritas," ujar Poltak.

Para private equity tersebut, lanjut Poltak, juga tidak ingin kena sabotase. Sabotase dalam pengertian, founder yang merasa sudah tidak dihargai lagi, maka dia akan keluar dan membuat perusahaan sejenis yang bisa lebih hebat kemudian hari.

"Maka persentase hak suara dengan persentase kepemilikan saham, itu merupakan dua hal yang berbeda. Dan ini merupakan jalan tengah, untuk mengamankan kepentingan masing-masing," tegas Poltak. Para pendiri ingin visinya tetap utuh sampai kemudian hari kelak. Sedangkan di sisi lain, investor ingin uangnya berkembang di suatu bisnis yang memang sangat baru dan dinamis, namun risiko bisa terkelola dengan baik.

Poltak menambahkan, para private equity tersebut memiliki penyandang dana semisal dana pensiun, yang menginginkan stabilitas. Hal terpenting lainnya, lanjut Poltak, bahwa UU No.40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT) telah mengatur multiple class shares yang memunculkan komposisi hak suara yang berbeda.

Pasal 53 UUPT menjabarkan persoalan multiple class shares tersebut. Pasal 53 ayat 3 menetapkan dalam hal terdapat lebih dari 1 klasifikasi saham, maka anggaran dasar menetapkan salah satu di antaranya sebagai saham biasa. 

Selanjutnya ditegaskan dalam Pasal 84 ayat 1, bahwa setiap saham yang dikeluarkan mempunyai satu hak suara, kecuali anggaran dasar menentukan lain. Hal ini sejalan dengan kondisi perusahaan global, semisal Grab, bahwa Anthony Tan selaku pendiri Grab menguasai hingga 60,4% hak suara meski hanya memiliki 2,2% saham Grab.

"Jadi orang yang punya saham hanya 3%, tetapi dia bisa punya voting rights 20 kali lipat dari pemegang saham yang lain. Itu sudah dimungkinkan dalam UUPT kita dan diadopsi sudah cukup lama," pungkas Poltak.

Bagikan

Berita Terbaru

Saham Prajogo Pangestu Mayoritas Melempem di Awal 2026, Investor Lebih Selektif
| Jumat, 16 Januari 2026 | 11:00 WIB

Saham Prajogo Pangestu Mayoritas Melempem di Awal 2026, Investor Lebih Selektif

Saham afiliasi Prajogo Pangestu melemah di awal Januari 2026, Analisis menyebut kondisi ini dalam fase konsolidasi.

United Tractors (UNTR) Hentikan Periode Buyback Saham
| Jumat, 16 Januari 2026 | 09:13 WIB

United Tractors (UNTR) Hentikan Periode Buyback Saham

PT United Tractors Tbk (UNTR) menuntaskan pelaksanaan pembelian kembali saham alias buyback sejak 14 Januari 2026.

Bintang Cahaya Investment Resmi Jadi Pengendali Agro Yasa Lestari (AYLS)
| Jumat, 16 Januari 2026 | 08:56 WIB

Bintang Cahaya Investment Resmi Jadi Pengendali Agro Yasa Lestari (AYLS)

Setelah merampungkan proses akuisisi saham, PT Bintang Cahaya Investment resmi jadi pengendali baru PT Agro Yasa Lestari Tbk (AYLS). 

Menguat 1,55% Dalam Sepekan, Laju IHSG Ditopang Harga Komoditas
| Jumat, 16 Januari 2026 | 08:51 WIB

Menguat 1,55% Dalam Sepekan, Laju IHSG Ditopang Harga Komoditas

Dalam sepekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah mengakumulasi penguatan 1,55%.​ Faktor domestik dan global, jadi sentimen pendorong IHSG.

Rencana Pemangkasan Komisi Aplikasi Bisa Menekan Kinerja GOTO
| Jumat, 16 Januari 2026 | 08:43 WIB

Rencana Pemangkasan Komisi Aplikasi Bisa Menekan Kinerja GOTO

Wacana penurunan komisi tersebut berpotensi menekan kinerja keuangan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).

Saham Emiten Rokok Bersiap Mengepul Lagi
| Jumat, 16 Januari 2026 | 08:35 WIB

Saham Emiten Rokok Bersiap Mengepul Lagi

Saham-saham emiten rokok diprediksi bangkit pada tahun ini. Kepastian margin usaha akibat kebijakan tarif cukai jadi katalis utama.

ARCI Gencar Eksplorasi di Tengah Penguatan Harga Emas
| Jumat, 16 Januari 2026 | 07:00 WIB

ARCI Gencar Eksplorasi di Tengah Penguatan Harga Emas

ARCI gelontorkan US$ 10 juta (Rp168,53 M) eksplorasi 397 titik di tahun 2025, Analis menyebut tren bullish dengan target harga Rp 1.950.

Saham Emiten-Emiten Terafiliasi Boy Thohir Menghijau di Awal Tahun 2026
| Jumat, 16 Januari 2026 | 06:08 WIB

Saham Emiten-Emiten Terafiliasi Boy Thohir Menghijau di Awal Tahun 2026

Emiten afiliasi Boy Thohir (ADRO, ADMR, MBMA, AADI) menguat didorong komoditas. Proyeksi laba MBMA 2025 US$ 28,7 juta, dan target harga Rp 850.

Miliaran Saham Dilepas Investor Institusi Asing di BBCA, Sementara BMRI Diakumulasi
| Jumat, 16 Januari 2026 | 04:30 WIB

Miliaran Saham Dilepas Investor Institusi Asing di BBCA, Sementara BMRI Diakumulasi

Pemborong terbesar saham BBCA adalah Blackrock Inc yang membeli 12,10 juta saham dan tertcatat pada 14 Januari 2026.

Peluang Rebound Terbuka, Saham BUKA Harus Bertahan di Level Segini
| Jumat, 16 Januari 2026 | 03:30 WIB

Peluang Rebound Terbuka, Saham BUKA Harus Bertahan di Level Segini

Ketahanan harga saham BUKA jangka pendek, jadi kunci utama untuk mengonfirmasi apakah penguatan ini bersifat sementara atau awal tren yang solid.

INDEKS BERITA

Terpopuler