Hanya Rp 10.000 selama 30 hari untuk berita pilihan, independen, dan inspiratif Berlangganan Sekarang
Berita Global

Penjualan Obat Pertama Covid 19 Tidak Sesuai dengan Ekspektasi

Minggu, 18 Oktober 2020 | 16:50 WIB
Penjualan Obat Pertama Covid 19 Tidak Sesuai dengan Ekspektasi

ILUSTRASI. Obat antivirus Remdesivir

KONTAN.CO.ID - NEW YORK (Reuters).  Investor yang mengejar keuntungan besar dari bisnis pengobatan untuk Covid-19 harus bersiap-siap menemukan kejutan saat membaca hasil kinerja terakhir Gilead Sciences Inc. Prediksi ini sejalan dengan penjualan remdesivir, obat antivirus pertama, yang tidak terjual sebanyak yang diharapkan. Penjualan remdesivir juga menghadapi masalah penggantian asuransi yang kompleks.

Pemegang saham Gilead kini tinggal berharap Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan pemerintah di negara-negara belahan bumi Utara lainnya, berinisiatif menimbun obat tersebut untuk mengantisipasi ancaman peningkatan kasus Covid 10 di musim dingin. Saat ini, remdesivir sedang dalam pengujian sebagai terapi eksperimental antibodi Covid-19.

Baca Juga: Kinerja bank di Amerika terus melaju, ini pendorongnya

Remdesivir merupakan standar perawatan untuk pasien Covid-19 dalam kondisi parah, yang dirawat di rumah sakit. Namun, banyak dokter tetap waspada untuk menggunakannya secara lebih luas. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan tentang perkiraan penjualan analis yang tinggi untuk obat yang pada akhirnya dapat dikalahkan oleh perawatan yang terbaru.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Kamis (15/10), mengatakan, uji coba internasional terhadap terapi Covid-19 menemukan bahwa remdesivir tidak memiliki efek substansial pada pasien yang telah lama dirawat di rumah sakit atau memiliki peluang untuk bertahan hidup. Studi tersebut belum ditinjau para ahli dari luar.

Baca Juga: Wall Street: Kabar Pfizer Siap Rilis Vaksin Corona Mengerek Dow Jones dan S&P

Gilead, yang harga sahamnya kini terpangkas 22% dari harga saat remdesivir diterima Badan Pengawas Obat dan Makanan AS sebagai obat untuk menangani kondisi pasien darurat, Mei lalu, mengatakan, temuan organisasi itu "tidak konsisten dengan bukti yang lebih kuat."

Perusahaan berjuang untuk memenuhi permintaan awal dan memberikan sekitar 250.000 pelatihan pada awal pandemi, ketika remdesivir dinyatakan sebagai satu-satunya pengobatan yang terbukti mempersingkat masa inap di rumah sakit untuk pasien yang sakit parah.

Selanjutnya
Halaman   1 2 3 4
Reporter: Nathasya Elvira
Editor: Thomas Hadiwinata

Baca juga