Pertumbuhan Sektor Manufaktur Melambat di Kuartal I-2019

Selasa, 14 Mei 2019 | 07:47 WIB
Pertumbuhan Sektor Manufaktur Melambat di Kuartal I-2019
[]
Reporter: Grace Olivia | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan ekonomi berjalan lamban seiring dengan perlambatan yang dialami Industri manufaktur. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), sektor manufaktur di kuartal pertama tahun ini hanya tumbuh 3,86% year-on-year (yoy). Angka itu di bawah pertumbuhan di periode yang sama tahun lalu, yaitu 4,6% yoy.

Perlambatan manufaktur mempengaruhi pertumbuhan Indonesia karena di kuartal pertama 2019 industri manufaktur masih menjadi penyumbang terbesar produk domestik bruto (PDB). Porsi sektor manufaktur mencapai 20,07%. Angka itu naik tipis dari porsi sepanjang 2018 yang sebesar 19,86%.

Alhasil, ekonomi Indonesia pada kuartal I-2019 hanya mampu tumbuh 5,07%yoy. Meskipun angka ini lebih tinggi ketimbang kuartal I-2018, pertumbuhan ekonomi turun 0,52% dari kuartal IV-2018.

Perlambatan peran industri manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi ini seiring dengan kontraksi pada industri batubara dan pengilangan minyak dan gas bumi (migas) sebesar 4,19% yoy. Angka ini jauh lebih besar ketimbang kuartal I-2018 yang negatif 0,66% yoy. Harga komoditas migas di pasar internasional triwulan I-2019 secara umum mengalami penurunan.

Namun, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal menilai, industri batubara dan pengilangan migas tidak turun sedalam itu. Sebab, harga minyak di pasar internasional sepanjang kuartal I-2019 naik. Ini berarti, "Kemampuan eksplorasi kita mengalami penurunan sehingga produksi juga turun," kata Faisal kepada KONTAN, Senin (13/5).

Adapun pencapaian lifting migas periode Januari-Maret 2019 hanya 1,814 juta barel setara minyak per hari (boepd) atau di bawah target APBN 2019 yaitu 2,205 juta boepd.

Faisal menilai, kelesuan sektor manufaktur merupakan cermin iklim usaha yang belum membaik. Ketidakpastian tahun politik turut memengaruhi keputusan pebisnis dan investor menahan diri di kuartal I-2019.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka ekonomi semakin sulit tumbuh tinggi. Sebab, sektor ini juga menciptakan efek pengganda (multiplier effect) yang cukup banyak, termasuk penciptaan lapangan kerja formal.

Faisal pun pesimistis target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3% bisa dicapai. "Pertumbuhan akan banyak bergantung pada kondisi eksternal dan konsumsi domestik yang kami perkirakan hanya akan berkisar pada 5,1%–5,2% tahun ini," katanya.

Bagikan

Berita Terbaru

Obligasi Korporasi Tertekan Bunga Tinggi, Investor Disarankan Fokus Flight to Quality
| Selasa, 03 November 2026 | 10:00 WIB

Obligasi Korporasi Tertekan Bunga Tinggi, Investor Disarankan Fokus Flight to Quality

Jika BI-Rate naik lagi, yield benchmark akan terkerek hingga membuat kupon korporasi semakin mahal dan berisiko mendemotivasi emiten.

TAPG Bagi Dividen Interim Senilai Rp 1,38 Triliun
| Selasa, 03 November 2026 | 09:32 WIB

TAPG Bagi Dividen Interim Senilai Rp 1,38 Triliun

PT Triputra Agro Lestari Tbk (TAPG) akan membagikan dividen interim Rp 1,38 triliun. Tiap pemegang saham berhak menerima dividen Rp 70 per saham

MEDC Menyebar Dividen Interim Sebesar US$ 30 Juta
| Selasa, 03 November 2026 | 09:28 WIB

MEDC Menyebar Dividen Interim Sebesar US$ 30 Juta

Keputusan pembagian dividen mendapat persetujuan direksi dan dewan komisaris pada 29 Oktober 2026. Jumlah dividen ini setara Rp 544,86 miliar.​

Tertekan Harga Bahan Baku dan Kurs, Laba Duet Emiten Grup Salim Tergerus
| Selasa, 03 November 2026 | 09:23 WIB

Tertekan Harga Bahan Baku dan Kurs, Laba Duet Emiten Grup Salim Tergerus

Kinerja PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) belum moncer di sepanjang sembilan bulan 2026

Ada Indeks Komoditas Saham Mulai Bernas
| Selasa, 03 November 2026 | 09:15 WIB

Ada Indeks Komoditas Saham Mulai Bernas

Mengawali pekan ini, mayoritas saham emiten di IDX Commodity 20 melaju. Saham komoditas Grup Bakrie dan Grup Barito menguat secara harian.

Melepas Beban HSC dari Punggung IHSG
| Selasa, 03 November 2026 | 09:05 WIB

Melepas Beban HSC dari Punggung IHSG

Pengecualian saham-saham HSC bisa mengembalikan dominasi saham blue chip di  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Prospek Dividen UNTR 2027 di Tengah Penurunan Laba dan Arus Kas
| Selasa, 03 November 2026 | 09:00 WIB

Prospek Dividen UNTR 2027 di Tengah Penurunan Laba dan Arus Kas

Prospek harga batubara, emas, permintaan alat berat, dan kinerja kontraktor pertambangan turut memengaruhi kemampuan UNTR menghasilkan kas.

Saham BSDE Tertekan di Tengah Penurunan Laba tapi Target Marketing Sales bisa Dicapai
| Selasa, 03 November 2026 | 08:32 WIB

Saham BSDE Tertekan di Tengah Penurunan Laba tapi Target Marketing Sales bisa Dicapai

Investor yang mendekap saham BSDE tak mendapat insentif tambahan lantaran emiten Grup Sinarmas ini sudah lama absen membagikan dividen.

WBSA Mengandalkan Integrasi Multimoda
| Selasa, 03 November 2026 | 08:05 WIB

WBSA Mengandalkan Integrasi Multimoda

PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) mengandalkan integrasi layanan multimoda dan penerapan hybrid asset model untuk menjaga pertumbuhan bisnis.

ARKO Gencar Menambah Portofolio EBT
| Selasa, 03 November 2026 | 08:01 WIB

ARKO Gencar Menambah Portofolio EBT

PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) menargetkan produksi listrik pada 2027 tumbuh 49,4% dibandingkan proyeksi tahun ini.

INDEKS BERITA

Terpopuler