Pertumbuhan Semu

Senin, 31 Agustus 2026 | 06:12 WIB
Pertumbuhan Semu
[ILUSTRASI. TAJUK - Havid Febri (KONTAN/Steve GA)]
Havid Vebri | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekonomi Indonesia masih tumbuh di atas 5%. Pada kuartal II 2026, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,29% secara tahunan. Pemerintah bahkan menargetkan ekonomi tumbuh 6% pada 2027.

Namun, ada paradoks yang perlu dicermati. Di tengah ekonomi yang terus tumbuh, pasar kerja justru masih menghadapi tekanan. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 43.805 pekerja terkena pemutusan hubungan kerja sepanjang Januari-Juli 2026.

Angka pertumbuhan memang penting. Tetapi pertanyaan yang lebih mendasar adalah: siapa yang menikmati pertumbuhan tersebut?

Sebab, pertumbuhan ekonomi tidak selalu berjalan seiring dengan penciptaan lapangan kerja. Ekonomi bisa tumbuh karena investasi padat modal, ekspor komoditas atau peningkatan produktivitas, sementara kebutuhan terhadap tenaga kerja bertambah lebih lambat.

Inilah yang harus menjadi perhatian pemerintah. Mengejar pertumbuhan 6% pada 2027 jangan sampai hanya berorientasi pada angka produk domestik bruto. Pertumbuhan harus mampu menciptakan pekerjaan, meningkatkan pendapatan dan memperkuat daya beli masyarakat.

Karena itu, kebijakan pemerintah harus diarahkan pada sektor-sektor yang memiliki daya serap tenaga kerja tinggi dan efek berganda besar. Hilirisasi, misalnya, tidak cukup hanya menghasilkan produk bernilai tambah dan meningkatkan ekspor. Rantai industrinya juga harus mampu menciptakan pekerjaan dari hulu hingga hilir.

Begitu pula dengan investasi. Yang perlu dikejar bukan sekadar besarnya modal yang masuk, tapi seberapa besar investasi itu meningkatkan kapasitas produksi, produktivitas dan kesempatan kerja. Sebab, ketika masyarakat bekerja dan memiliki pendapatan, konsumsi akan menguat. Konsumsi yang kuat memberi pasar bagi dunia usaha dan menciptakan siklus pertumbuhan yang lebih sehat. 

Indonesia memang membutuhkan pertumbuhan tinggi. Tapi yang lebih penting adalah pertumbuhan yang menciptakan pekerjaan dan dirasakan masyarakat. Pada akhirnya, keberhasilan ekonomi tak cukup diukur dari seberapa tinggi angka pertumbuhan. Ukuran lebih nyata, apakah pertumbuhan itu mampu membuat lebih banyak masyarakat bekerja, berpenghasilan dan memiliki daya beli yang lebih baik.

Ekonomi boleh tumbuh 6%. Tetapi jika pekerjaan semakin sulit dan PHK masih terjadi, kita patut bertanya: pertumbuhan itu sebenarnya tumbuh untuk siapa?

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Kebijakan Likuiditas Makroprudensial Baru Belum Tentu Bikin Bunga Turun
| Senin, 31 Agustus 2026 | 07:11 WIB

Kebijakan Likuiditas Makroprudensial Baru Belum Tentu Bikin Bunga Turun

Mulai 1 September 2026, Bank Indonesia (BI) mengganti KLM interest rate channel dengan KLM PPU.            

DPK Melambat, Kredit Makin Cepat
| Senin, 31 Agustus 2026 | 07:08 WIB

DPK Melambat, Kredit Makin Cepat

Bank Indonesia (BI) mencatat DPK perbankan pada Juli 2026 mencapai Rp 9.666,9 triliun atau tumbuh 7,7% secara tahunan.     

Debitur Tahan Diri Tarik Fasilitas Kredit
| Senin, 31 Agustus 2026 | 07:05 WIB

Debitur Tahan Diri Tarik Fasilitas Kredit

Undisbursed loan tinggi menunjukkan permintaan kredit dunia usaha masih belum kuat.                      

Biaya Energi Naik, Memukul Industri Semen
| Senin, 31 Agustus 2026 | 07:03 WIB

Biaya Energi Naik, Memukul Industri Semen

Kenaikan harga batubara dan solar di paruh pertama tahun ini membuat beban operasional perusahaan semen meningkat.

Pergerakan Rupiah pada Senin (3/8) Menanti Data Ekonomi
| Senin, 31 Agustus 2026 | 07:00 WIB

Pergerakan Rupiah pada Senin (3/8) Menanti Data Ekonomi

Fokus pasar akan tertuju pada rilis data tenaga kerja AS, ekspektasi arah suku bunga acuan The Fed hingga harga minyak dunia

Penguatan Rupiah Masih Rapuh, Ditopang Sentimen Jangka Pendek
| Senin, 31 Agustus 2026 | 06:15 WIB

Penguatan Rupiah Masih Rapuh, Ditopang Sentimen Jangka Pendek

Penguatan rupiah masih didominasi oleh aliran modal masuk yang rapuh, belum ada perubahan fundamental jangka panjang.

Pertumbuhan Semu
| Senin, 31 Agustus 2026 | 06:12 WIB

Pertumbuhan Semu

Yang perlu dikejar bukan hanya besarnya modal yang masuk, tapi seberapa besar investasi itu meningkatkan kapasitas produksi dan kesempatan kerja.

AI dan Cloud Jadi Bahan Bakar Baru Emiten yang Kembangkan Pusat Data
| Senin, 31 Agustus 2026 | 06:00 WIB

AI dan Cloud Jadi Bahan Bakar Baru Emiten yang Kembangkan Pusat Data

Menakar potensi mesin pertumbuhan baru sejumlah emiten di bursa saham lewat pengembangan bisnis pusat data

Rasio Klaim Mengancam Laba Asuransi
| Senin, 31 Agustus 2026 | 05:45 WIB

Rasio Klaim Mengancam Laba Asuransi

Hingga paruh pertama 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rasio klaim asuransi umum bertengger di level 48,19%. 

 Ambisi Mencetak 3 Juta Lapangan Kerja Baru
| Senin, 31 Agustus 2026 | 05:35 WIB

Ambisi Mencetak 3 Juta Lapangan Kerja Baru

Pemerintah membidik investasi Rp 2.322 triliun untuk menyerap tenaga kerja sebanyak 2,57 juta hingga 3,49 juta lapangan pekerjaan pada 2027.

INDEKS BERITA

Terpopuler