Pertumbuhan Semu
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekonomi Indonesia masih tumbuh di atas 5%. Pada kuartal II 2026, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,29% secara tahunan. Pemerintah bahkan menargetkan ekonomi tumbuh 6% pada 2027.
Namun, ada paradoks yang perlu dicermati. Di tengah ekonomi yang terus tumbuh, pasar kerja justru masih menghadapi tekanan. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 43.805 pekerja terkena pemutusan hubungan kerja sepanjang Januari-Juli 2026.
Angka pertumbuhan memang penting. Tetapi pertanyaan yang lebih mendasar adalah: siapa yang menikmati pertumbuhan tersebut?
Sebab, pertumbuhan ekonomi tidak selalu berjalan seiring dengan penciptaan lapangan kerja. Ekonomi bisa tumbuh karena investasi padat modal, ekspor komoditas atau peningkatan produktivitas, sementara kebutuhan terhadap tenaga kerja bertambah lebih lambat.
Inilah yang harus menjadi perhatian pemerintah. Mengejar pertumbuhan 6% pada 2027 jangan sampai hanya berorientasi pada angka produk domestik bruto. Pertumbuhan harus mampu menciptakan pekerjaan, meningkatkan pendapatan dan memperkuat daya beli masyarakat.
Karena itu, kebijakan pemerintah harus diarahkan pada sektor-sektor yang memiliki daya serap tenaga kerja tinggi dan efek berganda besar. Hilirisasi, misalnya, tidak cukup hanya menghasilkan produk bernilai tambah dan meningkatkan ekspor. Rantai industrinya juga harus mampu menciptakan pekerjaan dari hulu hingga hilir.
Begitu pula dengan investasi. Yang perlu dikejar bukan sekadar besarnya modal yang masuk, tapi seberapa besar investasi itu meningkatkan kapasitas produksi, produktivitas dan kesempatan kerja. Sebab, ketika masyarakat bekerja dan memiliki pendapatan, konsumsi akan menguat. Konsumsi yang kuat memberi pasar bagi dunia usaha dan menciptakan siklus pertumbuhan yang lebih sehat.
Indonesia memang membutuhkan pertumbuhan tinggi. Tapi yang lebih penting adalah pertumbuhan yang menciptakan pekerjaan dan dirasakan masyarakat. Pada akhirnya, keberhasilan ekonomi tak cukup diukur dari seberapa tinggi angka pertumbuhan. Ukuran lebih nyata, apakah pertumbuhan itu mampu membuat lebih banyak masyarakat bekerja, berpenghasilan dan memiliki daya beli yang lebih baik.
Ekonomi boleh tumbuh 6%. Tetapi jika pekerjaan semakin sulit dan PHK masih terjadi, kita patut bertanya: pertumbuhan itu sebenarnya tumbuh untuk siapa?
