PM Jepang Meminta Perusahaan yang Sudah Pulih untuk Menaikkan Upah Pekerja Minimal 3%

Jumat, 26 November 2021 | 13:59 WIB
PM Jepang Meminta Perusahaan yang Sudah Pulih untuk Menaikkan Upah Pekerja Minimal 3%
[ILUSTRASI. Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida berpidato di kediaman resminya di Tokyo, Jepang, 4 Oktober 2021. Toru Hanai/Pool via REUTERS]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID -  TOKYO. Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida, Jumat (26/11), mendesak perusahaan yang pendapatannya telah pulih ke tingkat prapandemi untuk menaikkan upah paling sedikit 3% pada musim semi mendatang. Kishida beralasan kenaikan upah perlu untuk mencapai siklus pertumbuhan dan distribusi kekayaan yang lebih baik

Kishida mengatakan pada pertemuan panel "kapitalisme baru" bahwa pemerintah akan mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan pendapatan pekerja sosial, seperti perawat anak, perawat dan pengasuh sebesar 3% secara terus menerus.

Ekonomi terbesar ketiga di dunia itu mengalami pemulihan yang tidak merata di seluruh sektor. Kishida pun berjanji untuk membantu perusahaan-perusahaan kecil membebankan biaya bahan baku, energi dan biaya tenaga kerja kepada pelanggan.

Baca Juga: Minyak tergelincir lebih dari 1% di tengah kekhawatiran meningkatnya pasokan global

Kishida memilih mengatasi kesenjangan kekayaan dan mendistribusikan kembali kekayaan sebagai prioritas politiknya. Usulan kenaikan upah merupakan bagian dari agenda tersebut, sekaligus membantu meringankan penderitaan konsumen akibat kenaikan harga minyak dan makanan.

"Saya berharap, pada pembicaraan perburuhan tahun depan, perusahaan-perusahaan yang keuntungannya telah pulih ke tingkat pra-corona akan menaikkan upah sebesar 3% atau lebih untuk memulai kapitalisme baru," kata Kishida. "Pemerintah akan melakukan yang terbaik untuk mempersiapkan lingkungan untuk mendukung kenaikan upah di antara sektor swasta."

Perusahaan besar Jepang dan serikat pekerja telah menyepakati kenaikan upah sebesar 2,18% pada 2019, 2% pada 2020 dan 1,86% di tahun ini.

"Saya ingin membalikkan tren penurunan kenaikan upah," ujar Kishida.

Selama empat tahun terakhir, ini merupakan pertama kalinya pemerintah menetapkan secara spesifik target kenaikan upah yang harus dipenuhi perusahaan.

Banyak perusahaan mempertahankan pertumbuhan upah rendah untuk melindungi pekerjaan dan menghadapi pukulan dari pandemi virus corona. Tidak jelas apakah perusahaan akan mengindahkan permintaan kenaikan upah yang tersebut, mengingat sifatnya yang sukarela. 

"Dengan meningkatnya ketidakpastian ekonomi, perusahaan akan sangat berhati-hati dalam menaikkan upah," kata Takumi Tsunoda, ekonom senior di Shinkin Central Bank Research Institute.

"Akan sangat sulit untuk mencapai kenaikan upah 3% karena ekonomi tidak pulih sekuat yang diharapkan pemerintah."

Mantan Perdana Menteri Shinzo Abe kurang beruntung dalam upayanya meningkatkan upah pekerja, kendati berulang kali mengajukan permintaan ke perusahaan untuk menyalurkan kembali keuntungan besar yang mereka peroleh dari kebijakan stimulus pemerintahannya.

Baca Juga: Efek Konversi Pinjaman Jadi Saham, Porsi Mitsubishi Materials di PT Smelting Turun

Dalam negosiasi upah tahun lalu untuk menetapkan gaji untuk 2021, perusahaan Jepang menawarkan kenaikan upah terendah dalam delapan tahun karena pandemi merugikan keuntungan perusahaan.

Pertumbuhan upah yang lambat telah menjadi salah satu faktor yang membuat Bank of Japan tidak mencapai target inflasi 2%. Kenaikan upah yang berjalan perlahan melemahkan daya beli rumah tangga dan membuat perusahaan enggan membebankan biaya lebih untuk barang-barang mereka.

Sebagai bagian dari upaya untuk menopang ekonomi yang masih stagnan, Jepang pekan lalu meluncurkan paket pengeluaran senilai $490 miliar, melawan tren global menuju penarikan langkah-langkah stimulus mode krisis.

Paket tersebut termasuk dana untuk meningkatkan upah yang ditetapkan pemerintah untuk perawat dan pekerja perawatan sosial sebesar 3%.

Bagikan

Berita Terbaru

Tidak Ada Temuan Besar Emas di 2023-2024, Dukung Harga Emas Jangka Panjang
| Rabu, 11 Februari 2026 | 15:13 WIB

Tidak Ada Temuan Besar Emas di 2023-2024, Dukung Harga Emas Jangka Panjang

Tidak adanya penemuan besar emas selama dua tahun berturut-turut, yakni 2023-2024 diyakini akan mendukung harga emas ke depannya.

Volatilitas Bitcoin Turun Terhadap Emas, Mampu Jadi Aset Lindung Nilai?
| Rabu, 11 Februari 2026 | 14:00 WIB

Volatilitas Bitcoin Turun Terhadap Emas, Mampu Jadi Aset Lindung Nilai?

JPMorgan menyatakan bahwa bitcoin kini terlihat lebih menarik dibanding emas, jika dilihat dari sisi volatilitas yang disesuaikan dengan risiko.

Diam-Diam Kinerja Saham NISP Lebih Moncer dari Emiten Bank Lainnya
| Rabu, 11 Februari 2026 | 13:25 WIB

Diam-Diam Kinerja Saham NISP Lebih Moncer dari Emiten Bank Lainnya

Kekuatan inti PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) adalah laba yang tumbuh di sepanjang 2025, loan deposit ratio (LDR) di level 70,4% dan CAR 24,5%.

Prospek Cemerlang Emiten Aguan (PANI) Pasca Capaian Marketing Sales yang Sukses
| Rabu, 11 Februari 2026 | 13:00 WIB

Prospek Cemerlang Emiten Aguan (PANI) Pasca Capaian Marketing Sales yang Sukses

BRI Danareksa Sekuritas menilai bahwa preferensi pasar terhadap PIK2 relatif berkelanjutan karena segmen yang disasar didominasi kelas atas.

Transformasi Bisnis Non Batubara Bikin Saham IndIka Energy (INDY) Semakin Membara
| Rabu, 11 Februari 2026 | 11:00 WIB

Transformasi Bisnis Non Batubara Bikin Saham IndIka Energy (INDY) Semakin Membara

Tak hanya kendaraan listrik, Indika Energy (INDY) juga tengah melakukan proyek konstruksi tambang emas Awak Mas di Sulawesi Selatan.

Potensi Penguatan Penjualan Jelang Lebaran
| Rabu, 11 Februari 2026 | 09:17 WIB

Potensi Penguatan Penjualan Jelang Lebaran

 Indeks Penjualan Riil (IPR) Januari 2026 diperkirakan sebesar 228,3, lebih rendah dari Desember 2025 

Bidik Pertumbuhan Ekonomi 5,6% di Kuartal I-2026
| Rabu, 11 Februari 2026 | 09:01 WIB

Bidik Pertumbuhan Ekonomi 5,6% di Kuartal I-2026

Pertumbuhan ekonomi tiga bulan pertama tahun ini akan didorong percepatan belanja dan stimulus pemerintah

Saham Kalbe Farma (KLBF) Terkoreksi di Tengah Aksi Beli Asing dan Program Buyback
| Rabu, 11 Februari 2026 | 09:00 WIB

Saham Kalbe Farma (KLBF) Terkoreksi di Tengah Aksi Beli Asing dan Program Buyback

Lima sekuritas kompak merekomendasikan beli saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) pada awal Februari 2026 di tengah penurunan harga yang masih terjadi.

Sederet Batu Sandungan Mengerek Tax Ratio 12%
| Rabu, 11 Februari 2026 | 08:50 WIB

Sederet Batu Sandungan Mengerek Tax Ratio 12%

Untuk mencapai rasio pajak 2026, pemerintah harus tambah Rp 139 triliun dari realisasi 2025         

Merdeka Gold Resources (EMAS) Sinergikan Dua Anak Usaha di Tambang Emas Pani
| Rabu, 11 Februari 2026 | 08:24 WIB

Merdeka Gold Resources (EMAS) Sinergikan Dua Anak Usaha di Tambang Emas Pani

Dua entitas usaha PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), menjalin kerjasama pengolahan dan pemurnian atas hasil tambang senilai Rp 9,84 triliun.  ​

INDEKS BERITA

Terpopuler